• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Petani Bojonegoro Mulai Bingung

    Selasa, 26 Mei 2026, Mei 26, 2026 WIB Last Updated 2026-05-26T06:11:22Z
    masukkan script iklan disini


    Bojonegoro, Jatim| OpsJurnal.Asia.
    Opini, - Belakangan ini, obrolan soal cuaca mulai terdengar di warung kopi pinggir sawah warga Bojonegoro.

    Bukan lagi soal hujan deras atau banjir. Tetapi soal tanah yang mulai cepat mengering sebelum kemarau mencapai puncak.

    Sejumlah daerah di Jawa Timur bahkan mulai menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak Mei 2026 tahun ini.

    Kabupaten Bondowoso, Banyuwangi, Bangkalan, Lamongan, Lumajang, Blitar, hingga Pasuruan mulai masuk status siaga.

    Sementara BPBD Jawa Timur memetakan potensi dampak kekeringan di 26 kabupaten, 222 kecamatan, dan 815 desa.

    Beberapa daerah yang dinilai memiliki ancaman cukup besar antara lain Kabupaten Sampang, Pamekasan, Bojonegoro, dan Bangkalan.

    Kondisi itu mulai membuat sebagian petani di Bojonegoro bingung menentukan waktu tanam musim tahun ini.

    Kalau terlalu cepat menanam, mereka khawatir air tidak cukup sampai masa panen datang beberapa bulan ke depan.

    Namun bila terlalu lama menunggu hujan, musim tanam bisa terlambat dan hasil panen ikut menurun dari biasanya.

    Di beberapa desa, sumur warga juga mulai pelan-pelan turun debitnya sejak cuaca panas terasa lebih panjang.

    Sebagian warga mulai menghemat penggunaan air. Ada yang menyiapkan tandon, ada pula yang menyimpan ember cadangan.


    Khusus di Bondowoso, BPBD bahkan mulai melakukan dropping air bersih ke sejumlah dusun di Botolinggo.

    Warga di sana mulai kesulitan mendapatkan air bersih, sementara lahan pertanian perlahan ikut mengering terkena kemarau.

    Pemandangan antre jeriken saat bantuan air datang perlahan kembali terlihat di beberapa wilayah Jawa Timur.

    Yang membuat warga cemas sebenarnya bukan hanya soal cuaca panas. Tetapi biaya hidup yang ikut terasa makin berat.

    Sebab ketika sawah mulai kering, pengeluaran untuk pompa air, bahan bakar, hingga kebutuhan rumah tangga ikut naik.

    Ironisnya, Jawa Timur dikenal memiliki sungai besar, waduk luas, dan kawasan pertanian yang cukup besar pula.

    Namun hampir setiap kemarau datang, persoalan kekeringan tetap muncul dan dirasakan warga desa berulang kali.

    Karena itu masyarakat mulai bertanya pelan-pelan. Sampai kapan kekeringan hanya dijawab lewat bantuan musiman?

    Bagi banyak petani desa, kemarau bukan sekadar pergantian cuaca. Tetapi cerita tahunan tentang bertahan hidup. [Agus].
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini