Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro pada Triwulan I 2026 masih bertumpu kuat pada sektor migas daerah.
Sektor minyak dan gas bumi kembali menjadi penopang utama kekuatan fiskal dan pergerakan ekonomi daerah tahun ini.
Hingga akhir Maret 2026, Dana Bagi Hasil yang diterima daerah tercatat mencapai sekitar Rp265 miliar.
Nilai tersebut menunjukkan kontribusi migas masih mendominasi sumber penerimaan daerah Kabupaten Bojonegoro.
Namun di balik besarnya penerimaan daerah, realisasi belanja pembangunan masih bergerak relatif lambat.
Serapan APBD Triwulan I 2026 baru mencapai sekitar Rp721,6 miliar atau 11,1 persen dari total pagu Rp6,4 triliun.
Angka tersebut memang sedikit lebih tinggi dibanding Triwulan I 2025 yang berada di kisaran 10,9 persen.
Namun secara nominal, serapan Triwulan I 2025 justru lebih besar karena mencapai sekitar Rp858,6 miliar.
Perbandingan itu menunjukkan bahwa persentase serapan 2026 naik tipis, tetapi perputaran uang pembangunan justru menurun.
Kondisi tersebut memperlihatkan aktivitas belanja pemerintah daerah belum sepenuhnya bergerak optimal di awal tahun.
Padahal percepatan belanja pemerintah memiliki peran penting dalam mendorong aktivitas ekonomi masyarakat bawah.
Perhatian publik kini tertuju pada rendahnya realisasi belanja modal yang baru terserap sekitar 0,8 persen.
Belanja modal seharusnya menjadi penggerak pembangunan jalan, fasilitas publik, dan infrastruktur pelayanan masyarakat.
Ketika pembangunan fisik berjalan lambat, dampak perputaran ekonomi masyarakat juga ikut tertahan di lapangan.
Fenomena ini menjadi ironi bagi daerah kaya sumber daya alam seperti Kabupaten Bojonegoro saat ini.
Pendapatan migas terus mengalir besar, namun pembangunan riil masyarakat belum sepenuhnya bergerak seimbang.
Ketergantungan terhadap sektor migas juga menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan ekonomi daerah ke depan.
Karena itu, penguatan sektor pertanian, UMKM, perdagangan, dan ekonomi rakyat dinilai semakin penting dilakukan.
Pertumbuhan ekonomi daerah tidak cukup hanya bergantung pada migas tanpa pemerataan pembangunan berkelanjutan.
Dengan pembangunan yang lebih merata, pertumbuhan ekonomi dapat benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat. [Ags].

