• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Nilai Pemerintahan Naik, Keluhan Warga Bojonegoro Belum Turun Part 2

    Selasa, 26 Mei 2026, Mei 26, 2026 WIB Last Updated 2026-05-26T17:01:46Z
    masukkan script iklan disini


    Bojonegoro, Jatim | OpsJurnal.Asia
    Cangkeman Part 2 — Malam makin larut. Tetapi obrolan di gardu itu belum juga benar-benar selesai. 

    Satu persoalan belum tuntas, persoalan lain kembali muncul bergantian seakan tidak ada habis-habisnya.

    Seorang warga lalu menyinggung soal banyaknya jalan kabupaten yang kini semakin ramai dilintasi kendaraan bertonase besar setiap hari.

    Menurutnya, kerusakan jalan hari ini bukan sekadar soal usia beton atau aspal yang mulai bolong dan beton yang aus.

    Namun juga soal minimnya perawatan berkala, ditambah beban kendaraan berat yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

    Artinya, bukan hanya kerusakan jalan saja yang bertambah. Risiko kecelakaan bagi pengguna jalan juga ikut semakin besar.

    “Truk besar lewat muatan berat terus dengan kecepatan tinggi ya tau sendiri...? Apalagi pengawasannya longgar,” ucap seorang pengamat kebijakan pemerintah.

    Ucapan itu langsung disambut anggukan beberapa warga lain yang mengaku sering melihat jalan aspal cepat bolong usai diperbaiki.

    Ada pula warga yang mengeluhkan lampu penerangan jalan yang banyak mati di titik-titik tertentu wilayah Bojonegoro.

    Menurut mereka, kondisi itu membuat suasana jalan terasa rawan ketika malam hari, terutama saat hujan turun cukup deras.

    Pada beberapa tikungan biasa maupun tikungan tajam, warga juga menilai masih minim petunjuk arah dan marka keselamatan jalan.

    Bahkan paku jalan yang seharusnya membantu pengendara membaca arah saat malam dan hujan disebut banyak tidak tersedia.

    Padahal menurut warga, paku jalan merupakan bagian penting marka keselamatan yang sering dianggap sepele oleh pemerintah.

    Beberapa warga menduga absennya marka jalan dan paku jalan menjadi salah satu faktor yang memicu kecelakaan lalu lintas.

    “Malam kadang gelap. Marka, paku jalan nggak kelihatan, rambu juga minim,” celetuk seorang akademisi senior Bojonegoro.

    Obrolan gardu malam itu kemudian bergeser ke arah pembangunan yang dinilai terlalu sibuk mengejar tampilan fisik semata.

    Warga mulai membandingkan proyek yang ramai dipublikasikan dengan kebutuhan dasar masyarakat yang belum seluruhnya selesai.

    Ada yang menyebut pemerintah sekarang terlihat aktif membuat publikasi kegiatan hampir setiap hari di media sosial resmi.

    Namun di sisi lain, sebagian warga merasa persoalan lama justru terus berulang tanpa perubahan yang terasa nyata.

    Nama SILPA kembali lagi muncul dalam percakapan. Disusul pembahasan proyek molor hingga bangunan yang sepi aktivitas.

    “Kadang bangunannya megah. Tapi setelah jadi malah sepi,” ujar seorang bapak sambil memandang jalan depan gardu.

    Beberapa warga lain ikut menyinggung pembangunan yang dianggap kurang sesuai kebutuhan masyarakat saat ini.

    Menurut mereka, pembangunan seharusnya lebih fokus pada kebutuhan dasar warga dibanding sekadar simbol kemajuan daerah.

    Pembicaraan makin panjang. Lagi-lagi warga menyinggung sekolah desa yang perlahan kehilangan jumlah murid tiap tahun.

    Situasi itu dianggap menjadi tanda bahwa persoalan pendidikan dan pemerataan penduduk mulai berubah cukup serius.

    Ada warga yang khawatir desa-desa kecil nantinya semakin sepi jika fasilitas pendidikan terus digabung dan dipusatkan.

    “Kalau sekolah dekat hilang, desa lama-lama ikut sepi,” ucap seorang pria pelan sambil menatap secangkir kopinya.

    Tak lama kemudian, pembahasan bergeser ke arah pendidikan yang belakangan ramai dibicarakan warga di gardu malam itu.

    Seorang warga menyebut pendidikan hari ini jangan hanya dipahami soal bangunan sekolah yang terlihat megah semata.

    Menurutnya, pendidikan sejatinya adalah proses membentuk manusia agar mampu berpikir, bekerja, dan memahami kehidupan.

    “Pendidikan itu bukan cuma gedung. Tapi bagaimana anak bisa punya masa depan,” ucap seorang pria pelan.

    Ucapan itu langsung disambut anggukan beberapa warga lain yang sedari tadi ikut mendengarkan obrolan di gardu.

    Ada yang menilai pembangunan fisik pendidikan kadang terlalu besar, tetapi belum tentu sesuai kebutuhan zaman sekarang.

    Lagi-lagi pembahasan mengarah pada gedung perpustakaan sekolah dasar yang dinilai terlalu besar namun kosong isi.


    Menurut mereka, saat ini anak-anak sudah banyak belajar melalui internet, website, hingga materi digital lewat telepon genggamnya.

    Mereka mempertanyakan apakah pembangunan gedung besar masih menjadi prioritas utama dibanding akses belajar yang mudah.

    “Sekarang cari materi bisa lewat HP. Tinggal bagaimana gurunya membimbing anak-anak,” celetuk seorang warga lain.

    Namun warga lain juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal teknologi dan kemudahan mencari informasi.

    Menurutnya, sekolah tetap penting sebagai tempat membentuk karakter, etika, disiplin, dan cara hidup bermasyarakat.

    Karena itu, warga berharap pembangunan pendidikan tidak hanya mengejar tampilan fisik dan proyek semata.

    Tetapi juga benar-benar memperhatikan kualitas guru, kenyamanan belajar, dan masa depan anak-anak desa.

    “Percuma gedung megah kalau anak-anak kehilangan semangat belajar,” gumam seorang pria sambil tersenyum tipis.

    Tak berhenti di situ, pembahasan juga menyentuh soal bantuan sosial yang menurut sebagian warga mulai banyak berkurang.

    Ada warga yang merasa bantuan langsung bagi masyarakat kecil kesusahan malah dihapus.

    “Saya nggak bela siapa-siapa. Tapi kasihan warga kecil. Kalau saya pribadi hidup sudah cukup,” gumam seorang mantan politikus.

    Ucapan itu membuat suasana gardu sempat hening beberapa detik sebelum kembali pecah oleh obrolan warga lainnya.

    Hingga ada yang tiba-tiba menyinggung slogan lama saat masa awal pencalonan kepala daerah beberapa waktu lalu.

    “Slogan to broo broo...” saut seorang mantan politikus yang langsung disambut tawa kecil warga di gardu malam itu.

    Tak jauh dari gardu, suara motor sesekali melintas memecah dinginnya suasana malam di sudut kampung Bojonegoro.

    Namun percakapan warga tetap berjalan. Sebab bagi mereka, gardu bukan sekadar tempat duduk dan minum kopi bersama.

    Di tempat sederhana itulah warga bertukar cerita, keluhan, harapan, sekaligus membaca arah daerahnya sendiri.

    Mereka sadar pemerintah memang sedang bergerak membangun citra pelayanan dan tata kelola yang terlihat lebih rapi.

    Tetapi warga juga berharap pembangunan tidak berhenti pada angka indeks, penghargaan, dan laporan presentasi semata.

    Karena yang paling diingat masyarakat bukan hanya baliho keberhasilan atau pidato di atas panggung.

    Melainkan apakah hidup mereka benar-benar terasa lebih aman, lebih mudah, dan lebih sejahtera dibanding sebelumnya. [Agus]
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini