Bojonegoro, Jatim | OpsJurnal.Asia.
Cangkeman Part 1. - Kemarin malam, obrolan di gardu kampung berjalan panjang hingga fajar.
Kopi hitam dari panas sampai dingin, tetapi pembahasan soal soal Bojonegoro justru makin hangat.
Satu warga mulai membuka percakapan soal banyaknya penghargaan yang kini sering diumumkan pemerintah daerah ke publik.
Katanya, nilai pelayanan publik Bojonegoro sekarang naik tinggi. Bahkan masuk enam besar nasional tingkat kabupaten.
Beberapa warga mengangguk pelan. Mengiyakan. Mereka mengaku sering membaca kabar itu lewat media sosial dan berita pemerintahan.
“Katanya sekarang indeks kepuasan masyarakat juga tinggi,” celetuk KH, pria paruh baya sambil menyalakan rokok di sudut gardu.
Nama beberapa kecamatan dengan nilai pelayanan terbaik ikut disebut dalam obrolan malam yang mulai ramai itu.
Namun tak lama kemudian, arah pembicaraan mulai berubah pelan. Warga mulai membandingkan angka dengan keadaan lapangan.
“Kalau memang sudah bagus, kenapa jalan desa sini masih rusak?” tanya Ipin sambil menunjuk jalan depan kampung.
Semakin malam, suasana gardu kampung tambah ramai karena makin bertambah yang ikut nimbrung.
Beberapa warga langsung ikut menimpali dengan pengalaman mereka masing-masing.
Ada yang mengeluh proyek lambat realisasi lapangan. Ada pula yang menyinggung anggaran besar tetapi progres belum terlihat jelas.
Seorang warga lain menyebut masyarakat sebenarnya tidak terlalu paham soal indeks dan istilah birokrasi pemerintahan.
Menurutnya, warga lebih mudah menilai perubahan dari kondisi jalan desa, harga kebutuhan, pekerjaan, dan pelayanan langsung.
“Kalau urusan kantor mungkin memang makin rapi. Tapi kehidupan warga belum semuanya terasa berubah,” ucap Udin, pelan.
Ucapan itu membuat beberapa orang di gardu mendadak diam sambil menyeruput kopi hitam yang tinggal setengah gelas.
Di tengah obrolan malam itu, ada juga warga yang mengakui pelayanan administrasi sekarang memang terasa lebih cepat.
Namun sebagian lain merasa perubahan itu masih banyak berhenti di urusan administrasi dan belum menyentuh akar masalah.
Nama SILPA, proyek molor, sampai koperasi desa yang masih sepi ikut muncul dalam percakapan warga malam itu.
Belum selesai sampai di situ, warga mulai menyinggung minimnya rambu jalan di sejumlah titik rawan kecelakaan di Bojonegoro.
Beberapa warga menyebut banyak tikungan tajam yang masih gelap tanpa petunjuk arah maupun papan peringatan memadai.
“Kalau malam orang luar daerah sering kaget. Banyak tikungan tajam tapi penandanya minim,” celetuk seorang warga satunya.
Obrolan gardu mulai makin serius. Satu per satu persoalan lama perlahan muncul dari mulut warga yang berkumpul.
Ada yang menyinggung zebra cross sekolahan di desa hingga zebra cross di dalam kota Bojonegoro tidak ada.
"Bisa dilihat. Bisa dibuktikan sendiri." Celetukan pria yang biasa disebut pemerhati kebijakan publik.
Warga lain ikut menimpali soal kawasan perkantoran yang ramai kendaraan tetapi marka penyeberangan masih sangat minim.
Menurut mereka, jalan bukan cuma soal aspal. Tetapi juga soal keselamatan warga yang melintas setiap hari.
“Kadang proyek jalan selesai, tapi marka sama rambu malah belum jelas,” ujar seorang pria lain sambil menyeruput kopi.
Beberapa warga lalu membahas sekolah dasar yang dimerger karena jumlah murid yang terus mengalami penurunan tiap tahun.
Situasi itu dianggap menjadi tanda bahwa persoalan pendidikan desa tidak bisa selesai hanya lewat program seremonial.
Tak lama kemudian, pembahasan bergeser ke gedung perpustakaan sekolah dasar yang kini menjadi monumen.
Ada warga yang menilai pembangunan gedung perpustakaan waktu itu kurang tepat dengan kebutuhan zaman sekarang.
Menurutnya, sistem digital dan website sebenarnya sudah bisa dimanfaatkan tanpa harus membangun gedung dengan biaya besar.
“Sekarang anak-anak cari bahan belajar lewat HP. Tapi gedungnya malah besar, sementara gedungnya tanpa isi,” katanya.
Kata itu membuat beberapa warga lain mengangguk pelan sambil memandangi suasana jalan kampung yang mulai lengang.
Di tengah obrolan itu, warga mengaku bukan anti pembangunan. Mereka hanya ingin kebijakan benar-benar tepat sasaran.
Karena bagi warga, pembangunan yang baik bukan sekadar berdiri megah. Tetapi benar-benar dipakai dan dirasakan manfaatnya.
Nama proyek mangkrak, anggaran besar, sampai pembangunan yang dianggap kurang sesuai kebutuhan terus jadi pembahasan malam itu.
Bahkan ada warga yang menyebut pemerintah sekarang terlihat aktif membangun citra kerja lewat publikasi media sosial.
Namun menurut mereka, warga kampung hari ini juga semakin mudah membaca mana pembangunan yang terasa dan mana yang hanya ramai pemberitaan.
Obrolan di gardu terus berjalan pelan ditemani kopi dan rokok. Tetapi nada pembicaraan warga mulai terasa sama.
Bahwa masyarakat sebenarnya tidak menolak pembangunan. Mereka hanya ingin uang daerah benar-benar kembali untuk kebutuhan warga.
Karena di mata warga kampung, keberhasilan pemerintah bukan hanya soal penghargaan dan angka kepuasan di atas kertas.
Tetapi tentang jalan yang aman, sekolah yang hidup, proyek yang selesai, serta pembangunan yang benar-benar tepat guna.
Bahkan ada yang bercanda tipis kalau Bojonegoro sekarang terlihat sibuk di atas panggung, tetapi warga masih menunggu hasil.
Obrolan makin panjang ketika beberapa warga mulai membahas soal media sosial pemerintah yang kini terlihat sangat aktif.
“Postingan memang ramai. Tapi warga sekarang juga makin pintar membedakan pencitraan dan kenyataan,” celetuk Jarwo.
Mendengar hal itu tawa kecil pecah di gardu. Itu tanda kecintaan mereka pada kota kelahirannya.
Namun setelah itu suasana kembali serius karena semua sadar pembicaraan itu bukan sekadar candaan.
Bagi warga kampung, kepuasan bukan cuma soal angka tinggi atau penghargaan yang dipasang di ruang pemerintahan.
Masyarakat lebih ingin melihat semua jalan desa diperbaiki, proyek selesai tepat waktu, ekonomi bergerak, dan kebutuhan dasar terpenuhi.
Malam semakin larut. Tetapi obrolan di gardu itu seperti menggambarkan satu hal yang mulai terasa di tengah warga.
Bahwa di balik angka kepuasan yang terus naik, masih ada banyak pertanyaan yang belum benar-benar selesai di lapangan. [Agus]

