Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Opini, - Di jalan nasional Bojonegoro–Padangan beberapa bulan terakhir terasa semakin sibuk oleh kendaraan proyek dan aktivitas industri energi.
Di Desa Katur, Kecamatan Gayam, suasana lapangan mulai berubah sejak groundbreaking kilang mini LNG dilakukan pada pertengahan Maret 2026 lalu.
Lahan yang sebelumnya tampak lengang kini perlahan dipenuhi aktivitas teknis, alat berat, hingga kendaraan proyek yang keluar masuk.
Warga sekitar mulai sering membicarakan proyek LNG Gayam, bahkan obrolannya kini terdengar hingga warung kopi pinggir desa.
Di tengah geliat investasi itu, perhatian publik perlahan mulai tertuju pada langkah BUMD PT Bojonegoro Bangun Sarana atau BBS.
BUMD milik Pemkab Bojonegoro tersebut mulai disebut membidik peluang usaha dari dua proyek kilang mini LNG di Gayam.
Bukan hanya proyek di Desa Katur, tetapi juga proyek kilang mini LNG lain yang sedang disiapkan di kawasan Desa Sudu.
Publik mulai membaca situasi ini lebih jauh dari sekadar pembangunan industri biasa di kawasan energi Kabupaten Bojonegoro.
Isu itu terus muncul secara natural di tengah masyarakat bahwa daerah jangan hanya menjadi lokasi produksi energi nasional.
Masyarakat berharap Bojonegoro tidak lagi sekadar menjadi wilayah eksploitasi migas tanpa efek ekonomi yang benar-benar luas.
Karena itu, keterlibatan BUMD daerah mulai dianggap penting agar manfaat investasi tidak sepenuhnya mengalir keluar daerah.
Harapan itu muncul karena masyarakat sudah terlalu lama melihat proyek besar datang tanpa dampak ekonomi lokal yang kuat.
Di kawasan Katur sendiri, posisi proyek LNG memang cukup strategis karena berada dekat kawasan industri energi Gayam.
Aktivitas proyek perlahan membuat suasana lapangan terasa hidup sejak pagi hingga sore dengan mobilitas kendaraan proyek.
Sementara di Desa Sudu, suasananya masih tampak lebih tenang meski proses pembebasan lahan proyek telah selesai dilakukan.
Namun warga sekitar fly over Banyu Urip mulai ramai membicarakan proyek LNG kedua yang akan dibangun di kawasan itu.
Publik melihat dua proyek LNG tersebut sebagai penanda mulai bergeraknya hilirisasi energi di Kabupaten Bojonegoro.
Karena itu, isu keterlibatan PT BBS terus muncul dalam pembicaraan warga dan pelaku usaha lokal di kawasan Gayam.
Harapannya sederhana, investasi energi besar seharusnya juga membuka ruang usaha bagi perusahaan daerah dan warga lokal.
Masyarakat berharap sektor logistik, transportasi, jasa proyek, hingga pengadaan lokal ikut bergerak bersama proyek LNG.
Di sisi lain, publik kini mulai menunggu langkah konkret PT BBS agar keterlibatan bisnis tidak berhenti pada komunikasi awal.
Sebab proyek energi sebesar ini dinilai dapat menjadi momentum penting bagi masa depan ekonomi daerah pasca era migas.
Maka proyek LNG Gayam kini dipandang bukan hanya pembangunan industri, tetapi ujian masa depan ekonomi Bojonegoro. [Agus].

