Garut - Opsjurnal.asia - Dalam pertemuan Silaturahmi dan Musyawarah Persiapan Kajian Kawasan Calon Ibu Kota Kabupaten Garut Utara, Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra) menyampaikan pandangan yang memadukan kedalaman analisis akademis, landasan hukum, serta semangat patriotisme yang kokoh. Pertemuan ini menandai pergeseran perjuangan dari penyampaian aspirasi menuju tahap perencanaan yang matang, terukur, dan berorientasi masa depan.
Dalam uraiannya, beliau menegaskan bahwa perjuangan pembentukan Daerah Otonom Baru bukan didasari keinginan semata, melainkan memiliki landasan akademik yang kuat. “Berdasarkan PP Nomor 78 Tahun 2007, Garut Utara meraih skor kapasitas daerah 451 poin, sedangkan dalam kerangka UU Nomor 23 Tahun 2014/RPP mencapai 400 poin. Angka ini membuktikan kelayakan kapasitas wilayah secara objektif,” ujarnya. Beliau mengingatkan bahwa kelayakan daerah dan kelayakan kawasan ibu kota adalah dua hal yang saling berkaitan namun harus dikaji secara terpisah dan mendalam, mengingat UU Nomor 23 Tahun 2014 menempatkan lokasi ibu kota sebagai parameter geografis penting bersama aspek hidrografi dan kerawanan bencana.
Menghormati hasil Musyawarah Desa yang melibatkan 116 desa yang menyepakati Kecamatan Cibiuk sebagai calon lokasi, beliau menekankan pentingnya sikap terbuka terhadap temuan kajian LPPM Universitas Padjadjaran yang mengindikasikan adanya wilayah dengan kemiringan lereng di atas 20 derajat. “Kita tidak menolak atau memvonis sepihak, melainkan memverifikasi data secara teknis: sebaran kemiringan, kondisi geologi, risiko bencana, hingga ketersediaan lahan yang memadai. Keputusan harus lahir dari fakta, bukan sekadar kesepakatan masa lalu atau penolakan yang emosional,” tegasnya.
Beliau mengajak mengubah pendekatan dari sekadar “memilih satu titik” menuju “mengembangkan kawasan terintegrasi”. “Alternatif strategis yang patut dikaji adalah keterkaitan kawasan Cibiuk, Cibatu, dan Limbangan yang terhubung koridor jalan nasional serta akses kereta api. Pendekatan ini memungkinkan tata ruang yang menyatukan pusat pemerintahan, pelayanan publik, ekonomi, dan permukiman secara seimbang,” jelasnya, seraya menegaskan hal ini belum menjadi keputusan akhir, melainkan usulan yang harus diuji keabsahannya melalui riset mendalam.
Secara akademis, beliau juga mengajukan pertanyaan mendasar terkait karakter wilayah: “Apakah struktur permukiman, mobilitas, dan potensi ekonomi Garut Utara lebih tepat dikembangkan dengan orientasi kawasan perkotaan? Ini bukan soal perubahan status saat ini, melainkan mencari model pemerintahan yang paling sesuai dengan hakikat masyarakat kita.”
Untuk menjamin objektivitas, PM Gatra berencana menggandeng kembali perguruan tinggi berkompeten seperti LPPM Unpad atau InJabar Unpad dengan lingkup kajian yang komprehensif: mulai dari topografi, tata ruang, infrastruktur, proyeksi perkembangan 20–50 tahun mendatang, perbandingan antar-alternatif, hingga penyusunan rancangan induk kawasan. “Biarkan data yang berbicara. Kajian tak boleh diarahkan untuk membenarkan pilihan, melainkan menemukan pilihan yang paling benar,” tegasnya dengan tegas namun penuh persaudaraan.
Di penghujung sambutan, beliau mengingatkan makna sejati patriotisme dalam perjuangan ini: “Jangan kita terpecah demi wilayah masing-masing. Kita tidak mencari kemenangan Cibiuk, Cibatu, atau Limbangan. Kita mencari kemenangan untuk seluruh Garut Utara. Semangat kebangsaan kita teruji saat kita rela mengesampingkan kepentingan kelompok demi kebaikan bersama dan masa depan anak cucu.”
Pertemuan ini sepakat melanjutkan kajian secara menyeluruh, melibatkan lembaga independen, dan menjadikan musyawarah serta data ilmiah sebagai pedoman utama mewujudkan Garut Utara yang maju, mandiri, dan bermartabat.
Ka Limbangan ngaliwat Cibiuk,
Teras ka Cibatu ningali stasiun.
Lamun kajian dilakukeun kalawan taliti tur luyu,
Garut Utara bakal boga ibu kota nu jadi puseur kamajuan.
Catatan Debu Jalanan Gatra:
“Ilmu adalah kompas, data adalah dasar, persatuan adalah jalan. Ketua Umum mengajarkan: perjuangan yang luhur tak boleh dikotori emosi atau kepentingan sempit. Pilihlah apa yang benar menurut fakta, adil menurut ukuran, dan bermanfaat bagi semuanya. Sebab ibu kota bukan milik satu tempat, melainkan jantung kehidupan seluruh rakyat Garut Utara.”
(M.A. Zakariyya, SE - Debu Jalanan Gatra)





