Manggarai,OpsJurnal.Asia–
Air mata kembali jatuh di tengah tenda pengungsian. Bagi Saiful dan Tajudin, dua kepala keluarga yang merupakan kakak beradik warga Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), tenda yang mereka tempati bukan tempat menyimpan bawang seperti isu yang belakangan beredar di media sosial.
Tenda tersebut menjadi tempat mereka bertahan hidup setelah rumah mereka mengalami kerusakan akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Saiful mengatakan, dirinya bersama keluarga bukan baru satu atau dua hari tinggal di tenda tersebut. Mereka masih bertahan karena rumah yang berada di kawasan Tempode, dekat pantai, mengalami kerusakan berat dan kondisinya miring.
"Kami bukan satu atau dua hari tinggal di sini. Bahkan sampai rumah selesai diperbaiki, kami masih tinggal di tenda ini," kata Saiful saat ditemui, Sabtu (26/9/2026).
Dengan suara terbata, Saiful mengaku sangat terpukul setelah muncul pemberitaan dan unggahan di media sosial yang menyebut tenda bantuan BNPB yang ditempatinya digunakan untuk menyimpan bawang.
Ia mengatakan, kondisi tersebut justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang dialaminya bersama keluarga.
"Saya sangat sedih kalau ada orang yang mengatakan tenda ini untuk menyimpan bawang. Selama ini kami mengungsi dan tinggal di tenda ini. Kami bahkan tidak tahu kapan bisa kembali ke rumah karena rumah kami di Tempode rusak berat, sudah miring dan dekat pantai," ujarnya.
Bagi Saiful dan keluarganya, gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah. Rasa takut dan trauma masih mereka rasakan hingga kini.
Di tengah kondisi itu, munculnya isu yang dinilai tidak sesuai dengan keadaan mereka membuat luka keluarga tersebut terasa semakin berat.
"Hati kami sudah luka karena gempa. Harapan untuk kembali ke rumah juga masih belum pasti karena kami masih trauma. Sekarang bertambah lagi lukanya karena fitnah," katanya.
Saat menyampaikan hal tersebut, Saiful didampingi istrinya. Perempuan itu tampak berusaha menahan air mata sambil berada di dekat dua anak mereka yang masih berusia 5 dan 7 tahun.
Isu Viral di Media Sosial
Sebelumnya, sebuah pemberitaan yang menyebut nama BNPB sempat beredar luas di sejumlah platform media sosial, termasuk Facebook dan WhatsApp. Dalam informasi yang beredar, terdapat kesaksian seseorang yang menyebut tenda tersebut digunakan untuk menyimpan bawang.
Informasi itu kemudian memunculkan beragam tanggapan warganet. Keluarga yang tinggal di dalam tenda tersebut bahkan menjadi sasaran komentar yang menyudutkan.
Saiful membantah anggapan tersebut. Ia bahkan secara terbuka mengundang pihak yang menjadi sumber informasi untuk datang langsung menemuinya dan melihat kondisi keluarganya.
"Kalau memang benar seperti yang diberitakan, silakan datang temui kami. Lihat langsung keadaan kami dan tanya kepada kami," kata Saiful.
Menurut dia, kondisi tenda dan keberadaan keluarganya dapat dilihat secara langsung. Ia berharap persoalan tersebut tidak hanya dinilai dari informasi yang beredar di media sosial.
Kepala Desa Turun Mengecek
Saiful juga mengungkapkan, Kepala Desa Salama sebelumnya telah datang langsung mengecek kondisi mereka setelah informasi mengenai tenda tersebut viral.
"Sebelum Bapak datang kemarin, Pak Kades Desa Salama juga sudah datang mengecek langsung keadaan kami berdasarkan informasi yang viral tentang kami," ujar Saiful bersama istrinya.
Kunjungan tersebut menjadi salah satu bentuk pengecekan langsung terhadap kondisi keluarga yang terdampak gempa.
Kisah Saiful dan Tajudin menggambarkan bahwa bagi sebagian penyintas, tenda darurat bukan sekadar tempat berteduh sementara. Tenda menjadi ruang aman ketika rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung sudah tidak lagi memberikan rasa aman.
BNPB dalam penanganan pascagempa M7,7 Flores sebelumnya juga mencatat adanya warga terdampak yang masih memilih bertahan di tenda karena rumah mereka mengalami kerusakan dan rasa trauma akibat gempa. (BNPB)
BNPB juga menyatakan penanganan warga terdampak dilakukan berdasarkan asesmen lapangan dan kebutuhan masyarakat, termasuk dukungan logistik serta tenda bagi penyintas. (BNPB)
Bagi Saiful, yang kini dibutuhkan bukan hanya bantuan untuk memperbaiki rumah, tetapi juga pengertian terhadap kondisi keluarga yang masih berjuang memulihkan diri.
Ia berharap masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum dipastikan kebenarannya, terlebih ketika informasi tersebut menyangkut warga yang sedang berada dalam kondisi sulit.
Di balik tenda yang terlihat sederhana itu, ada keluarga yang sedang menunggu kepastian. Ada anak-anak yang masih membutuhkan rasa aman dan ada orang tua yang berharap suatu hari dapat kembali ke rumah tanpa dihantui rasa takut.
Saiful dan keluarganya berharap proses pemulihan pascagempa dapat terus berjalan sehingga mereka bisa segera mendapatkan tempat tinggal yang aman dan layak. Mereka juga berharap informasi tentang kondisi penyintas disampaikan berdasarkan fakta agar luka akibat bencana tidak semakin dalam karena kabar yang belum terverifikasi.






