• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Tanggapan Khusus: Skor Kapasda Layak Diperbandingkan Tanpa Audit Metodologi?: Tanggapan Akademis Sekretaris Umum PM Gatra Ir. H. Dede Salahudin, M.M Terkait Pemberitaan Kapasda 2026

    Minggu, 05 Juli 2026, Juli 05, 2026 WIB Last Updated 2026-07-05T10:29:08Z
    masukkan script iklan disini

    Garut - Opsjurnal.asia - Menyikapi pemberitaan yang disiarkan melalui portal https://www.gosipgarut.id/read/2026-60210/hasil-kapasda-2026-garsel-dan-gatra-sama-sama-layak-mekar-kini-menunggu-pencabutan-moratorium.html mengenai hasil Kajian Pemutakhiran Kapasitas Daerah (Kapasda) 2026—yang menempatkan skor Garut Induk sebesar 410 berada di bawah Calon Daerah Otonom Baru (CDOB) Garut Selatan sebesar 448–448,8 poin—Sekretaris Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Ir. H. Dede Salahudin, M.M. menyampaikan klarifikasi prinsipil berlandaskan kaidah keilmuan: perbandingan angka tanpa kesetaraan sistem pengukuran belum tentu sah secara akademik.

     

    Secara sekilas, angka yang lebih tinggi sering diasosiasikan dengan kapasitas yang lebih unggul. Namun dalam kerangka metodologi penelitian, Ir. H. Dede menegaskan hal ini tidak sesederhana itu. Minggu, (5/7/26)

     

    "Kami tidak meragukan proses akademik yang telah dikerjakan oleh tim penyusun kajian, baik untuk Garut Selatan maupun Garut Utara. Keduanya adalah karya ilmiah yang patut dihargai. Namun persoalan muncul ketika kedua hasil tersebut diperbandingkan secara langsung seolah-olah menggunakan satu tolok ukur yang sama persis. Padahal dalam ilmu penelitian, hasil hanya layak dibandingkan jika diukur menggunakan instrumen, indikator, pembobotan, dan metode analisis yang setara."

     


    "Angka 448 tidak otomatis lebih baik dari 410 jika proses yang melahirkannya berbeda. Kita tidak bisa membandingkan hasil ujian sekolah dengan standar berbeda, atau hasil laboratorium dengan metode berbeda, lalu langsung menyimpulkan mana yang lebih unggul. Itu melanggar prinsip validitas perbandingan."

     

    Lebih lanjut beliau menjelaskan makna sejati instrumen Kapasda, "Tujuan utama Kajian Kapasda adalah mengukur apakah suatu wilayah telah memenuhi ambang batas minimal kelayakan menjadi daerah otonom baru, bukan untuk menyusun peringkat siapa yang paling hebat. Baik Garut Selatan yang mencapai 448, maupun Garut Utara yang mencapai 400, serta Garut Induk di angka 410—semuanya berada di atas ambang batas kelayakan minimal atau mendekatinya. Ini berarti kesiapan tumbuh bersama, bukan saling mengalahkan."

     

    "Mengesampingkan hal ini dan hanya menyoroti selisih angka berpotensi menggeser makna akademik menjadi narasi persaingan yang tidak perlu."

     

    Untuk menjamin objektivitas dan keadilan bagi seluruh wilayah calon otonom baru, Sekretaris Umum PM Gatra mengusulkan langkah strategis yang tak terelakkan:

     

    "Satu-satunya cara menjawab keraguan ini adalah melalui audit akademik menyeluruh terhadap seluruh dokumen kajian. Kita perlu memverifikasi: apakah desain penelitiannya sama? Apakah bobot indikator ekonomi, sosial, budaya, dan geografis disetarakan? Apakah sumber data dan teknik validasi datanya setara? Audit ini bukan tanda ketidakpercayaan, melainkan mekanisme standar ilmu pengetahuan untuk menjamin kebenaran dan keadilan."

     

    "Keputusan pemekaran adalah keputusan jangka panjang yang menentukan nasib jutaan warga. Ia tidak boleh didasarkan pada perbandingan yang prematur. Selama belum ada kepastian metodologi yang setara, maka kesimpulan bahwa satu wilayah lebih unggul dari yang lain belum memiliki landasan ilmiah yang kuat."

     

    Ir. H. Dede Salahudin menutup dengan pesan persaudaraan dan kebersamaan, "Baik Garsel maupun Gatra, keduanya sama-sama berhak tumbuh dan berkembang. Keduanya sama-sama bagian dari tubuh Kabupaten Garut. Mari kita tegakkan kebenaran data dan keadilan metode, agar nantinya yang lahir bukan hanya daerah baru, melainkan daerah yang kokoh landasannya, damai persaudaraannya, dan sejahtera rakyatnya."

     

    (M.A. Zakariyya, S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini