Membangkitkan Keunggulan Sumber Daya Manusia dari Jejak Sejarah Tatar Sunda Hingga Masa Kemerdekaan
Garut - Opsjurnal.asia - Kualitas dan kemajuan suatu daerah tidak semata-mata ditentukan oleh luas wilayah atau kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelola, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai luhur di atasnya. Pandangan mendalam ini disampaikan secara tegas oleh Ade Husna, S.Pd., M.Pd. — Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA), dalam wawancara khusus melalui sambungan telepon hari ini.
MODAL SEJARAH YANG TAK TERNILAI
“Setiap daerah yang mampu melahirkan kemajuan dan menorehkan sejarah gemilang, selalu didukung oleh manusia-manusia yang memiliki visi luas, integritas tinggi, serta kesadaran penuh akan tanggung jawabnya kepada tanah air dan sesama. Garut Utara sesungguhnya telah memiliki fondasi sejarah yang sangat kokoh untuk mewujudkan hal tersebut,” ungkapnya dengan nada penuh keyakinan.
Dijelaskannya, jika ditelusuri secara mendalam, wilayah ini sejak masa Tatar Sunda hingga masa kemerdekaan telah melahirkan tokoh-tokoh besar: mulai dari ulama pemimpin umat, pejuang pembela tanah air, pendidik pencetak generasi, hingga pengusaha dan petani yang menjaga kearifan lokal. Warisan peradaban ini adalah modal terbesar yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
“Pada masa kerajaan Tatar Sunda, masyarakat di wilayah ini dikenal menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, tata krama luhur, budaya musyawarah mufakat, serta kemampuan mengelola alam secara bijak dan berkelanjutan. Nilai-nilai inilah yang membentuk karakter masyarakat Garut Utara yang tangguh, mandiri, dan saling merawat,” jelasnya.
Memasuki masa penyebaran ajaran Islam, lanjutnya, Garut Utara berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan keagamaan yang berpengaruh. Pesantren-pesantren yang berdiri di sini melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan yang luas dan kemampuan menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Perpaduan antara kecerdasan intelektual dan keteguhan akhlak menjadi ciri khas yang diwariskan turun-temurun.
“Ketika masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tiba, putra-putra Garut Utara tampil di garis paling depan. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan sarana bukanlah penghalang untuk berbakti bagi negara. Keberanian, kesetiaan, dan cinta tanah air menjadi senjata utama yang mereka miliki,” tambahnya dengan nada haru.
TANTANGAN DAN PARADIGMA BARU
Namun demikian, Ade Husna mengakui bahwa masih ada tantangan besar dalam meneruskan nilai-nilai luhur tersebut. Masih terdapat sebagian pandangan yang cenderung melihat kekurangan daripada mengoptimalkan potensi luar biasa yang sudah ada.
“Tantangan terbesar bagi Garut Utara saat ini bukanlah soal status administratif atau kondisi fisik semata, melainkan pada kualitas pola pikir sumber daya manusianya. Kita harus berani membangun cara pandang yang lebih maju, berwawasan ke depan, dan percaya diri atas jati diri sendiri,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan ini, ia merumuskan sebuah paradigma strategis yang menjadi pedoman bersama: “Garut Utara: Otak Menteri, Hati Santri”.
“Maknanya sangat dalam dan menyeluruh:
‘Otak Menteri’ berarti kita harus memiliki wawasan seluas negara, berpikir strategis, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, tata kelola pemerintahan, serta prinsip ekonomi dan pembangunan yang modern dan berkeadilan.
‘Hati Santri’ bermakna setiap langkah harus berlandaskan akhlak mulia, kejujuran, amanah, kerendahan hati, dan kepedulian tulus terhadap sesama.
Kemajuan yang sejati dan abadi hanya akan tercapai jika kecerdasan diimbangi dengan integritas yang tak tergoyahkan,” urainya secara rinci.
PEMEKARAN ADALAH SARANA, BUKAN TUJUAN
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa wacana pembentukan Daerah Otonom Baru Garut Utara bukanlah tujuan akhir perjuangan, melainkan sarana untuk mempercepat peningkatan kualitas hidup dan kualitas manusia di sana.
“Pemekaran wilayah harus menjadi momentum istimewa untuk melahirkan generasi pemimpin baru yang profesional, berkarakter kuat, dan mampu melayani rakyat dengan sebaik-baiknya. Sudah saatnya Garut Utara dikenal bukan hanya karena kekayaan hasil buminya, melainkan karena kualitas manusia yang dihasilkannya,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Ade Husna mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bangkit dan melanjutkan estafet peradaban yang telah diletakkan oleh para pendahulu.
“Sejarah telah memberikan fondasi yang kokoh. Kini giliran kita membuktikan: kemajuan daerah tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh cara berpikir dan cara bekerja anak-anaknya. Berpikirlah seluas cakrawala, bekerjalah sebesar cita-cita, namun tetaplah rendah hati dan berakhlak mulia selamanya.”
(M.A. Zakariyya, S.E.)

