• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Jejak Silang Sejarah Yang Terlupakan: Hipotesis Kekerabatan Raden Fatah Dan Sunan Rumenggong Guncang Khasanah Sejarah Islam Nusantara

    Senin, 13 Juli 2026, Juli 13, 2026 WIB Last Updated 2026-07-12T20:08:41Z
    masukkan script iklan disini

    PM GATRA: Pintu Terbuka Bagi Penulisan Ulang Peran Tatar Sunda dalam Peradaban Demak dan Sunda

     

    Garut - Opsjurnal.asia | Sub Bidang Teknologi Informasi Dan Multimedia - Berita Utama & Sejarah

    Minggu, 12 Juli 2026 – Sebuah terobosan ilmiah yang mengejutkan dunia kesejarahan baru saja terungkap. Tesis Magister Navida Febrina Syafaaty dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyodorkan hipotesis baru yang berpotensi mengubah peta pemahaman kita tentang akar silsilah pendiri Kesultanan Demak, Raden Fatah, dan kemungkinan eratnya hubungan darah dengan tokoh legendaris Tatar Sunda, Sunan Rumenggong.

     


    Kabar ini disambut dengan perhatian besar namun penuh kehati-hatian oleh Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA). Ketua Umum PM GATRA, Rd. H. Holil Aksan Umarzaen, menyampaikan pandangan organisasinya dalam jejak pendapat di ruang komunikasi Grup WhatsApp Gatra, Minggu 12 Juli 2026.

    Selama berabad-abad, alur sejarah Islam Nusantara umumnya memposisikan peran Tatar Sunda sebagai pihak yang terpisah atau sekadar pendamping peristiwa besar di pesisir utara Jawa. Namun kajian terbaru ini mematahkan asumsi itu, menyiratkan bahwa benang merah antara Kerajaan Sunda, Cirebon, dan Demak mungkin jauh lebih dekat dan mendasar daripada yang selama ini dicatat.

     

    "Kami menyambut baik lahirnya penelitian ini sebagai bagian dari dinamika akademik yang sehat. Kajian tersebut memperkaya khazanah historiografi Indonesia dan membuka ruang diskusi ilmiah mengenai peran Tatar Sunda dalam perkembangan Islam Nusantara," tegas Holil.

     

    PM GATRA memuji keberanian peneliti mengangkat perspektif yang selama ini tersembunyi di balik tradisi lisan dan naskah kuno. Namun, organisasi ini mengingatkan bahwa terobosan sensasional ini belumlah menjadi kebenaran mutlak.

     



    "Kami menghormati proses akademik. Sebuah tesis adalah kontribusi ilmiah yang harus diuji melalui penelitian berikutnya. Karena itu, penelitian ini hendaknya menjadi awal bagi lahirnya kajian-kajian baru, bukan akhir dari perdebatan sejarah," tambahnya.

     

    Hipotesis hubungan genealogis ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui penelusuran manuskrip, kajian filologi, hingga verifikasi arkeologi di situs-situs Limbangan dan wilayah sekitarnya.


    Bagi masyarakat Garut Utara dan Tatar Sunda umumnya, terobosan ini bukan sekadar urusan akademik, melainkan penegasan jati diri yang selama ini terabaikan.

     

    "Apabila nanti ditemukan bukti yang memperkuat hipotesis ini, maka sejarah hubungan Kerajaan Sunda, Cirebon, dan Kesultanan Demak akan mendapatkan wajah baru. Sebaliknya, jika ditemukan data yang berbeda, koreksi itu pun adalah kemajuan ilmu pengetahuan yang harus kita terima dengan lapang dada," jelas Holil.

     

    PM GATRA kini mendesak perguruan tinggi, budayawan, dan pemerintah daerah untuk segera merespons momen bersejarah ini. Sejarah lokal tidak boleh hanya menjadi dongeng turun-temurun; ia harus berdiri tegak dengan bukti nyata di atas panggung sejarah nasional.

     

    "Sejarah lokal tidak boleh hanya hidup dalam ingatan turun-temurun. Ia harus diangkat, diteliti, dan didokumentasikan secara ilmiah. Kami berharap kajian ini menjadi pemicu lahirnya penelitian-penelitian baru yang semakin memperjelas peran Tatar Sunda dalam sejarah Islam Indonesia," tutup Rd. H. Holil Aksan Umarzaen.

     

    Catatan Redaksi:

    Berita ini disusun berdasarkan siaran resmi PM GATRA dan kajian tesis yang bersangkutan. Redaksi menyajikan informasi ini sebagai dinamika ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, dan membuka ruang seluas-luasnya bagi pandangan, data pendukung maupun sanggahan dari para ahli sejarah dan masyarakat luas.

    (M.A. Zakariyya S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini