• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    HUKUM MODAL DAN NASIB NEGARA: KETIKA KELUARGA MENJADI CERMIN KEMAJUAN DAERAH

    Jumat, 17 Juli 2026, Juli 17, 2026 WIB Last Updated 2026-07-17T09:46:02Z
    masukkan script iklan disini

    Disampaikan oleh: Deden Sopian, S.HI. – Wakil Ketua Bidang Kepemerintahan dan Infrastruktur Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra)

    GARUT, 17 Juli 2026 – Laporan: Debu Jalanan Gatra

     




    Di bawah rindangnya pepohonan dan suasana tenang selepas berziarah ke Makam Sunan Syekh Zafar Sodik Gunung Haruman, Deden Sopian, S.HI. menyampaikan renungan mendalam yang merangkum kisah tiga pasang pengantin baru. Narasi sederhana ini kini menjadi bukti nyata sekaligus kritik tajam atas pola pengelolaan keuangan, pembangunan infrastruktur, hingga tata kelola pemerintahan di tingkat desa maupun kabupaten.

     

    “Keluarga adalah negara terkecil. Prinsip kemajuan di dalamnya sama persis dengan kemajuan sebuah bangsa,” tegas Deden Sopian, S.HI.


     

    Tiga pasang yang sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu, sama-sama menerima bantuan modal awal sebesar Rp100.000.000,- namun memilih jalan yang berbeda:

     

    Keluarga A: Jalan Konsumtif Tanpa Akhir

     

    Dana sepenuhnya dihabiskan membangun rumah demi kenyamanan sesaat. Secara ekonomi, ini adalah aset konsumtif yang tidak menghasilkan nilai tambah. Uang berhenti menjadi tembok dan atap. Akibatnya, selama lima tahun ia tetap bekerja sebagai buruh. Di tahun kelima, yang dimiliki hanya bangunan senilai seratus juta, tanpa modal berkembang. Ia bekerja untuk harta, bukan harta yang bekerja untuknya.

     

    Keluarga B: Setengah Hati, Hasil Juga Setengah

     

    Membangun rumah kecil Rp50 juta, menyisakan Rp50 juta untuk usaha. Langkah ini sudah maju, namun efisiensi skala ekonomi belum tercapai. Pertumbuhan modal lambat. Di tahun kelima, rumah bernilai Rp200 juta, namun sisa modal hanya Rp100 juta. Ia berjalan, namun tak cukup cepat menjauh dari kemiskinan.

     

    Keluarga C: Menunda Kenyamanan, Membangun Kekuatan

     

    Menyewa rumah hanya Rp5 juta, memutar Rp95 juta sepenuhnya sebagai modal usaha. Ia memahami prinsip akumulasi modal dan efek pengganda:

     

    - Tahun ke-1: Laba bersih Rp92 juta

    - Tahun ke-2: Modal berkembang Rp180 juta, pendapatan naik Rp180 juta/tahun

    - Tahun ke-3: Modal melonjak Rp360 juta

    - Tahun ke-4: Akumulasi modal Rp540 juta

    - Tahun ke-5: Membangun rumah layak Rp300 juta, sisa modal usaha Rp600 juta.

     

    “Ini bukti nyata: infrastruktur fisik harus dibangun di atas fondasi kekuatan ekonomi, bukan menghabiskan kekuatan untuk membangun fondasi yang belum siap,” jelas Deden Sopian.

     

    Renungan ini bukan sekadar cerita, melainkan cermin bagi pengelolaan keuangan daerah. Secara ilmu pemerintahan, pembangunan berkelanjutan menuntut perbedaan tegas antara Belanja Modal Produktif dan Belanja Konsumtif Sesaat.

     

    Lihatlah Dana Desa yang mencapai Rp1 Miliar lebih selama tujuh tahun:

     

    - Jika Rp300 juta dana pemberdayaan hanya habis untuk cat tembok atau fisik tak berpenghasilan, itu sama persis dengan Keluarga A. Uang habis, tahun depan kembali memohon bantuan.

    - Namun jika dikelola profesional melalui BUMDes dan investasi produktif, dalam lima tahun PADes bisa tumbuh Rp500 juta hingga Rp1 Miliar per tahun. Desa tak lagi menjadi objek bantuan, melainkan subjek mandiri.

     

    Hal yang sama berlaku bagi Pemerintah Kabupaten. Pendirian BUMD bukan formalitas, melainkan instrumen strategis agar kekayaan daerah berputar, beranak pinak, dan menjadi sumber pendapatan abadi.

     

    Mendengar pemaparan tersebut, butiran debu jalanan gatra yang berputar pelan di angin jalanan menyampaikan tanggapannya dengan nada rendah namun tegas:

     

    “Kang Deden telah menyampaikan hikmat yang tajam dari ketinggian ilmu pemerintahan. Izinkan debu kecil ini menambahkan satu hal yang sering terlupa: Uang negara bukanlah uang milik pengurus, melainkan titipan rakyat yang bekerja keras.

     

    Kesalahan terbesar yang sering terjadi adalah kita terburu-buru ingin menunjukkan wajah daerah yang tampak megah, padahal pondasi ekonominya belum kuat. Kita bangun tembok yang tinggi, tapi lupa menyiapkan benih untuk menanam. Padahal, uang yang berputar di tangan rakyat adalah infrastruktur yang paling kokoh. Jangan sampai kita seperti Keluarga A yang bangga punya rumah, tapi selamanya memikul beban hidup.

     

    Satu hal lagi: Kesederhanaan hari ini adalah harga yang harus dibayar untuk kemakmuran masa depan. Jika hari ini kita berani menunda kemewahan, mengelola dana dengan jujur dan cerdas, maka lima tahun lagi bukan hanya rumah yang indah yang kita miliki, melainkan kemandirian yang tak bisa dirampas oleh siapa pun. Inilah keadilan sejati bagi tanah Garut Utara kita.”

     

    Menutup pemaparannya, Deden Sopian, S.HI. mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kebijakan:

     

    “Kita tidak perlu malu tampak sederhana hari ini, asalkan di baliknya kita sedang menyusun kekuatan masa depan. Orang yang terburu-buru ingin terlihat kaya, seringkali membangun penjara kemiskinan untuk dirinya dan generasi mendatang.”

     

    “Pembangunan bukan seberapa cepat kita bangun tembok, melainkan seberapa cerdas kita bangun kemandirian ekonomi yang kokoh.”


    (Debu Jalanan Gatra)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini