Garut.Opsjurnal.asia - Kehidupan sering kali menempatkan manusia pada jalan yang tidak selalu dipilihnya sendiri. Demikianlah realita yang dihadapi sebagian wanita yang harus mengemban peran ganda, bukan karena keinginan hati, melainkan takdir yang harus dijalani dengan sekuat tenaga. Dalam obrolan penuh makna di Rubrik Gatra hari ini, Rd. H. Holil Aksan Umarzaen, Ketua Umum PM GATRA, menyampaikan pesan mendalam yang menyentuh hati mengenai perjuangan dan kedudukan para janda dalam kehidupan bermasyarakat.
“Dalam perjalanan hidup, tidak semua orang bebas menentukan arah jalannya. Ada wanita yang menjadi janda bukan karena menginginkannya, melainkan karena ditinggal wafat oleh suami, berpisah jalan, atau keadaan lain yang tak dapat dielakkan. Di pundak merekalah tertumpu beban yang sangat berat: selain menjadi ibu yang mengasuh dan mendidik anak, mereka pun harus berperan sebagai kepala rumah tangga yang mencari nafkah serta memikirkan masa depan keluarganya,” ungkap Rd. Holil dengan nada lembut namun penuh penghayatan. Selasa, (16/06/26)
Ia melanjutkan, banyak di antara mereka yang menyembunyikan kepedihan dan air mata di balik senyum yang dipaksakan, semata-mata demi menjaga semangat anak-anaknya agar tetap memiliki harapan.
“Sering kali kita melihat mereka tampak tegar, namun jarang kita sadari betapa banyak air mata yang mengalir dalam kesendirian. Mereka terus melangkah meski langkah terasa berat, hanya demi kebahagiaan dan masa depan buah hatinya,” katanya.
Selanjutnya, Rd. Holil mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, rasa kasih sayang dan pertolongan kepada janda serta anak yatim merupakan amal yang sangat mulia dan mendapatkan kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.
Beliau mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
“Orang yang memelihara dan menolong janda serta orang miskin, pahalanya seperti orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang malamnya senantiasa salat dan siangnya senantiasa berpuasa.”
— (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
“Karena itu, janganlah kita mudah menghina, menilai sembarangan, atau mendengarkan perkataan buruk mengenai mereka. Kita tidak pernah tahu seberapa banyak penderitaan dan perjuangan yang mereka sembunyikan di dalam hati. Sebaiknya ganti pandangan itu dengan rasa hormat, perhatian, dan uluran tangan,” pesannya.
Menurutnya, kemuliaan sebuah masyarakat tidak diukur dari seberapa besar kekuatan yang dimiliki, melainkan dari bagaimana ia merawat, melindungi, dan memuliakan mereka yang sedang menghadapi banyak cobaan hidup.
“Hidup ini bukan sekadar mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, melainkan juga menjadi tempat bersandar dan penghapus air mata bagi sesama yang sedang terguncang,” tambahnya.
Menyikapi pesan hikmah tersebut, Hj. Lely Permata, S.Pd., M.Si, Kepala Bidang Humas, menyampaikan tanggapan yang selaras dan menguatkan.
“Pesan ini sangat menyentuh dan mengingatkan kita kembali pada hakikat kemanusiaan. Sering kali kita melihat kondisi luarnya saja tanpa menyelami apa yang dirasakan dan dijalani oleh saudara-saudara kita ini. Menghargai, mendukung, dan membantu mereka bukan hanya kewajiban secara agama, tetapi juga menjadi cerminan budaya masyarakat yang beradab dan penuh kepedulian,” ujar Hj. Lely.
Ia berharap, pesan ini dapat menyebar luas dan tumbuh menjadi kesadaran bersama, sehingga tercipta lingkungan yang hangat, ramah, dan melindungi setiap warga yang sedang membutuhkan uluran tangan.
“Semoga rasa kasih sayang dan tolong-menolong ini menjadi budaya yang terus terpelihara, sehingga tidak ada lagi kesendirian dan beban yang dipikul sendirian. Biarlah kita menjadi tetangga dan sesama yang saling menguatkan,” pungkasnya.
(M.A. Zakariyya, S.E)


