Di tengah riuhnya janji pemberantasan narkoba yang kerap dilontarkan kepolisian, kenyataan pahit justru terlihat nyata di mata masyarakat Rantauprapat. Wilayah Padang Bulan, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu kini dijuluki warga sebagai kawasan yang “menyala membara” akibat peredaran sabu-sabu yang berjalan semakin masif, terang-terangan, dan nyaris tanpa ada gangguan sedikit pun. Tiga titik utama yang menjadi sarang dan pusat transaksi racun ini beroperasi leluasa, dipimpin oleh sosok berinisial RZ yang dianggap sebagai penguasa jalur gelap di wilayah itu.
Fakta ini terkuak bukan dari laporan rahasia yang sulit dibuktikan, melainkan keluhan lantang yang terlontar dari hati masyarakat yang sudah tak tahan lagi menyaksikan lingkungannya perlahan hancur dimakan kejahatan. Salah seorang ibu rumah tangga yang enggan disebutkan namanya karena takut ancaman, menyampaikan kekesalannya secara terus terang kepada awak media saat berpapasan di sebuah warung kopi di Padang Bulan, Rabu (10/6/2026).
“Bang, kenapa tempat jualan sabu di sini nggak pernah dimuat berita? Padahal ini bukan rahasia lagi, eksis banget, malah makin hari makin ‘menyala’ dan dikerubungi pemuda-pemuda sampai malam! Kami sebagai orang tua takut anak kami terjerat, tapi mau lapor siapa, mau mengadu ke mana?” ungkapnya dengan nada cemas bercampur marah.
Berdasarkan penelusuran langsung dan pemantauan ketat awak media di lapangan, tercatat jelas tiga titik strategis yang menjadi “stasiun tetap” tempat transaksi dan penyimpanan sabu-sabu di Padang Bulan. Lokasinya bukan tersembunyi di hutan belantara atau tempat sulit dijangkau, melainkan persis berada di jalur umum, berdekatan dengan tempat keramaian, seolah sengaja dipamerkan kepada siapa saja yang lewat
Stasiun Pertama Persis di samping Rumah Makan Holat Padang Bulan berlokasi di pinggir jalan raya utama, dihandle berinisial MM ramai dilalui kendaraan siang malam, transaksi berlangsung cepat dan rapi seolah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Stasiun Kedua Berada di belakang bangunan Doorsmeer di tepi Jalan Padang Bulan tempat yang dianggap aman dan tertutup pandangan dari jalan utama, ditugaskan dengan pemain handal berinisial WS dan menjadi tempat penyimpanan stok barang serta pertemuan antar pengedar dan pemasok.
Stasiun Ketiga Tepat di dalam gang depan Masjid Padang Bulan, dipercayakan dengan berinisial OO di mana jual beli racun dilakukan persis di halaman lingkungan tempat warga beribadah, seolah tak ada lagi rasa hormat dan takut pada Tuhan maupun hukum negara.
Semua titik ini bergerak di bawah kendali penuh sosok berinisial RZ. Mereka menjadi otak sekaligus pemegang kendali tertinggi yang mengatur pasokan, pembagian wilayah, hingga pengawasan anak buahnya. Menurut warga, RZ merasa sangat aman dan berkuasa, seolah wilayah Padang Bulan adalah kerajaannya sendiri yang tak tersentuh hukum.
Melihat kenyataan yang begitu gamblang ini, awak media pun berusaha mendapatkan tanggapan resmi dari pihak kepolisian untuk mengetahui langkah apa yang akan diambil guna menertibkan dan membongkar sarang narkoba tersebut. Melalui pesan tertulis yang dikirimkan secara resmi, awak media mengajukan konfirmasi langsung kepada Kapolres Labuhanbatu, AKBP Endrajaya, S.I.K., M.Si., meminta penjelasan sekaligus jadwal tindak lanjut. Namun hingga berita ini diturunkan dan disebarluaskan, sama sekali tidak ada jawaban, tidak ada penjelasan, dan tidak ada tanda keseriusan apa pun dari pimpinan kepolisian itu. Pesan sudah terkirim, namun membisu seribu bahasa persis seperti yang terjadi dalam kasus-kasus bandar besar lainnya yang telah diungkap sebelumnya.
Pembungkaman ini bagi warga bukanlah sikap netral. Ia adalah bukti nyata ketidakberdayaan, atau bahkan dugaan terkuat bahwa ada kesepakatan gelap yang menjaga keberlangsungan bisnis haram RZ dan jaringannya. Mengapa pimpinan yang bertugas menertibkan wilayahnya justru tak berani bicara sedikit pun? Mengapa tiga titik yang lokasinya seterbuka ini tak pernah sekalipun digerebek atau ditindak tegas?
Keberadaan tiga stasiun narkoba ini telah menimbulkan dampak nyata yang merusak sendi-sendi kehidupan sosial di Padang Bulan. Anak muda yang dulunya menjadi harapan keluarga, kini berubah drastis ada yang berhenti sekolah, ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang mencuri harta orang tua, bahkan ada yang sudah tak waras akibat ketergantungan. Semua itu berlangsung diam-diam, dibiarkan berjalan lancar, sementara hukum dan aparat yang seharusnya menjadi tameng perlindungan warga justru berpaling muka, tuli, buta, dan membisu.
“Ini bukan lagi soal tidak tahu. Semua orang tahu lokasinya, semua orang tahu siapa bosnya, semua orang kapan beroperasinya. Kalau sampai sekarang masih berdiri tegak dan makin ‘menyala’, artinya memang dibiarkan, dilindungi, dan dijaga oleh tangan yang punya kuasa. Kalau tidak, semalam saja sudah rata dengan tanah!” geram seorang warga lain yang sudah tak bisa menahan amarahnya.
Warga pun kini makin bulat tekadnya mereka tak percaya lagi pada Polres Labuhanbatu yang dipimpin AKBP Endrajaya, S.I.K., M.Si., . Pembisuannya yang berulang kali terjadi di berbagai kasus telah membuktikan ia tak punya nyali atau integritas untuk memberantas narkoba. Oleh karena itu, seruan yang sama kembali dikumandangkan lantang: PAK KAPOLDA SUMUT, TURUN GUNUNG SEKARANG!
Bongkar ketiga sarang narkoba di Padang Bulan ini, tangkap RZ beserta seluruh jajarannya, usut sampai ke akar siapa oknum yang selama ini menjadi tameng mereka. Bersihkan Rantauprapat dari cengkeraman racun, sebelum nanti tak ada lagi generasi muda yang tersisa untuk diselamatkan.
Hukum yang tak mampu memadamkan api narkoba yang menyala terang di depan hidungnya, hanyalah hukum mati yang tak punya nyawa lagi. RZ dan ketiga sarangnya adalah bukti pahit di Labuhanbatu, kejahatan masih berkuasa dan keadilan masih jadi barang langka.
Penulis : SAD
