Garut - Opsjurnal.asia - Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Garut bukan sekadar agenda rutin untuk memilih pimpinan baru. Dalam perspektif ilmu politik dan kelembagaan, momen ini menjadi persimpangan jalan strategis yang menentukan arah perjuangan partai serta arah pembangunan daerah untuk beberapa tahun ke depan.
Hal tersebut disampaikan oleh Rd. H. Holil Aksan Umarzen, Fungsionaris Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Tahun 2024, dalam wawancara melalui sambungan telepon pada Senin (29/06/2026).
“Golkar Garut harus waspada agar tidak terjebak dalam pandangan yang sempit dan sesaat. Mengukur kualitas kepemimpinan hanya dari status jabatan atau kekuasaan yang sedang dipegang adalah cara pandang yang keliru dan berisiko menjebak masa depan partai,” tegasnya.
Menurut pandangan politik yang mendalam, kekuatan sebuah partai tidak dibangun di atas simbol kekuasaan yang bersifat sementara. Sejarah membuktikan bahwa keberlangsungan dan kepercayaan publik terhadap Golkar lahir dari fondasi organisasi yang kokoh, sistem kaderisasi yang berkelanjutan, serta rekam jejak kerja nyata yang berpihak pada kepentingan rakyat.
“Golkar telah melewati berbagai dinamika dan perubahan sistem politik di Indonesia. Dalam setiap fase itu, kemenangan politik tidak ditentukan semata oleh figur yang sedang menjabat, melainkan oleh kemampuan partai melahirkan pemimpin yang mampu menyatukan kekuatan, merumuskan kebijakan, dan memperjuangkan aspirasi masyarakat,” tambahnya.
Sebagai salah satu kekuatan politik utama di Garut, Golkar memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan daerah. Salah satu perjuangan yang konsisten diusung adalah wacana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Garut Utara dan Garut Selatan.
“Dalam kajian kebijakan publik, pemekaran wilayah bukan sekadar perubahan batas administrasi. Ia adalah instrumen untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan, mendekatkan pelayanan publik, mempercepat pertumbuhan ekonomi, serta mewujudkan pemerataan kesejahteraan yang selama ini menjadi harapan banyak pihak,” jelasnya.
Namun demikian, Rd. Holil menegaskan bahwa pemekaran bukanlah tujuan akhir. Pendekatan yang parsial dan terpisah-pisah tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Diperlukan visi strategis yang menyeluruh, yaitu konsep Garut Raya.
“Garut Induk, Garut Utara, dan Garut Selatan harus dipandang sebagai satu kesatuan sistem yang saling melengkapi dan menguatkan. Pembangunan harus direncanakan secara terpadu agar ketiga wilayah tumbuh bersama, terhindar dari persaingan yang tidak sehat, dan manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat,” ujarnya.
Untuk mewujudkan visi besar tersebut, lanjutnya, Ketua DPD Golkar Garut ke depan haruslah sosok yang memiliki kualifikasi kepemimpinan modern: berintegritas, memiliki kapasitas analitis, pengalaman organisasi, serta wawasan jangka panjang.
“Ukuran keberhasilan pemimpin tidak hanya dihitung dari jumlah kursi atau kemenangan pemilu semata. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan mengubah kekuasaan menjadi kebijakan nyata: membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta memastikan keadilan pembangunan di seluruh penjuru wilayah,” tegasnya.
Rd. Holil mengingatkan agar Musda mendatang tidak menjadi arena persaingan semata, melainkan ruang lahirnya gagasan-gagasan besar. Para kader diminta memilih pemimpin berdasarkan rekam jejak, kompetensi, dan komitmen, bukan hanya pertimbangan popularitas sesaat.
“Golkar akan tetap menjadi partai besar jika dipimpin oleh kader yang berpikir besar. Masa depan Garut Raya membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya cakap dalam kontestasi politik, tetapi juga mampu meletakkan fondasi kuat bagi perubahan nasib rakyat dan kemajuan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
(M.A. Zakariyya, S.E.)


