Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia -
Opini publik, - Angka pertumbuhan ekonomi terus naik dalam laporan resmi pemerintah pusat dan lembaga ekonomi nasional.
Namun di lapangan, banyak pabrik justru berhenti beroperasi dan melakukan PHK pekerja secara bertahap massal.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar mengenai kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini secara menyeluruh nasional.
Publik mulai mempertanyakan siapa sebenarnya pihak yang menikmati pertumbuhan ekonomi di tengah gelombang PHK industri tersebut.
Dalam ilmu ekonomi, kondisi seperti ini sering disebut sebagai fenomena Dutch Disease atau Penyakit Belanda modern.
Istilah itu menjelaskan ketika sektor komoditas tumbuh besar tetapi manufaktur perlahan mengalami pelemahan cukup serius nasional.
Ketika ekspor sumber daya alam meningkat besar, perhatian terhadap industri pengolahan sering mulai berkurang secara perlahan.
Akibatnya, fondasi ekonomi jangka panjang menjadi rapuh meski angka pertumbuhan nasional terlihat tetap tinggi stabil.
Indonesia dinilai mulai menghadapi gejala serupa dalam beberapa tahun terakhir oleh sejumlah pengamat ekonomi nasional terkemuka.
Sektor tambang dan hilirisasi mineral tumbuh cepat, sementara industri padat karya menghadapi tekanan cukup berat sekarang.
Banyak perusahaan melakukan efisiensi produksi hingga pengurangan tenaga kerja akibat tekanan ekonomi dan persaingan global ketat.
Padahal industri manufaktur selama ini menjadi penopang utama lapangan pekerjaan masyarakat kelas menengah dan bawah Indonesia.
Ketika satu pabrik tutup, dampaknya tidak hanya dirasakan buruh tetapi juga ekonomi masyarakat sekitar kawasan industri nasional.
Warung makan kehilangan pelanggan, sopir angkutan kehilangan muatan, dan kontrakan pekerja mulai banyak kosong perlahan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dampak pelemahan industri menjalar luas hingga kehidupan sosial ekonomi masyarakat bawah nasional.
Pemerintah sebenarnya telah memiliki Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian sebagai dasar penguatan industri nasional.
Regulasi itu menempatkan sektor industri manufaktur sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi nasional jangka panjang Indonesia.
Namun sejumlah pengamat menilai arah pembangunan masih terlalu bertumpu pada ledakan komoditas sumber daya alam mentah.
Jika kondisi ini terus berlangsung, Indonesia dikhawatirkan mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi struktur ekonomi rapuh berkepanjangan.
Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya dinilai dari angka statistik makro nasional semata belaka.
Ukuran keberhasilan ekonomi juga harus dilihat dari terciptanya pekerjaan dan hidupnya industri dalam negeri secara nyata.

