• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Lansia Jadi Sasaran Penipuan Haji, Negara Hadir Lewat Babinsa

    Sabtu, 25 April 2026, April 25, 2026 WIB Last Updated 2026-04-25T04:40:27Z
    masukkan script iklan disini

    Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia

    Di sebuah dusun sunyi, empati negara hadir dalam bentuk paling sederhana, sembako dan kunjungan aparat.

    Koramil Sukosewu datang bukan sekadar formalitas. Ada luka warga yang menuntut kehadiran nyata, bukan wacana.

    Dipimpin Kapten Kasbolah, Babinsa menyambangi rumah nenek renta yang baru saja kehilangan harapan.

    Di sana, hidup seorang lansia berusia 86 tahun berubah seketika akibat tipu daya yang memanfaatkan iman.

    Nenek itu, Sukimah, warga dusun Sidomulyo, percaya pada janji pemberangkatan haji. Janji suci yang justru menjelma menjadi jebakan.

    Dua pria datang membawa mimpi ke Tanah Suci. Namun yang tertinggal justru kehilangan dan penyesalan.

    Dalam kondisi tak sepenuhnya sadar, ia menyerahkan emas, 20 gram kalung dan 14 gram gelang.

    Bukan sekadar perhiasan yang hilang, tapi tabungan hidup yang dikumpulkan dalam sunyi bertahun-tahun ikut raib.

    Peristiwa itu terjadi di siang hari. Ironis sekali, kejahatan kini tak lagi bersembunyi di gelap malam saja.

    Kehadiran aparat Desa Klepek memperkuat kesaksian cerita nyata itu. Cerita itu bukan isu, melainkan luka nyata warga desa.

    “Bantuan ini mungkin kecil, tapi kami berharap dapat meringankan beban,” ujar Kapten Kasbolah, 24 April 2026.


    Namun di balik bantuan, tersimpan pertanyaan: mengapa warga rentan masih mudah jadi sasaran penipuan?

    Narasi kemanunggalan TNI dan rakyat kembali ditegaskan posisinya. Tapi realitas sosial menuntut lebih dari simbol.

    Kejahatan berbasis kepercayaan tumbuh di ruang minim literasi dan lemahnya perlindungan masyarakat.

    Imbauan kewaspadaan disampaikan. Namun edukasi publik sering kalah cepat dari modus yang terus berubah.

    “Waspadai tawaran tidak masuk akal,” lanjut Kapten Kasbolah, di rumah nenek renta itu.

    Sayangnya, bagi sebagian warga, harapan sering lebih kuat dari logika. Terutama pada saat menyangkut ibadah.

    Tangis Sukimah pecah saat bantuan diterima. Bukan sekadar syukur, tapi juga sisa trauma yang tertinggal.

    “Maturnuwun, semoga bapak selalu diberi kesehatan,” ucapnya lirih, menggambarkan ketulusan tanpa daya.

    Peristiwa ini bukan sekadar kisah individu. Ia cermin rapuhnya perlindungan bagi kelompok paling lemah. 

    Kegiatan itu bentuk negara hadir lewat Babinsa. Namun pertanyaan lebih besar tetap menggantung, siapa yang menjaga sebelum terjadi? [Ags].
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini