Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Program Kolam Lele Keluarga (KOLEGA) Pemkab Bojonegoro berlanjut sebagai pengungkit ekonomi warga berbasis rumah tangga.
Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Pada tahun sebelumnya, KOLEGA telah menjangkau ratusan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di berbagai wilayah desa.
Capaian tersebut menjadi dasar untuk memperluas jangkauan program, baik dari sisi penerima maupun pola bantuan yang diberikan.
Memasuki 2026, program ini dirancang menyasar 335 KPM dengan pendekatan bantuan yang lebih adaptif dan terukur.
“Program ini kami lanjutkan dengan skema lebih terarah agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Cholilur Rohman.
Skema bantuan dibagi dalam dua model, yakni kolam buis beton dan kolam terpal bundar sesuai kondisi calon penerima.
Pemilihan jenis kolam mempertimbangkan ketersediaan lahan, akses air, serta kesiapan teknis di masing-masing lokasi.
Saat ini, tahapan program masih dalam proses verifikasi berbasis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional di lapangan.
“Verifikasi kami lakukan ketat agar bantuan tepat sasaran dan tidak melenceng dari kelompok prioritas,” tegasnya, 27 April 2026.
Kriteria penerima mencakup warga dalam DTKS desil satu hingga lima dengan kondisi ekonomi yang masuk kategori rentan.
Selain itu, calon penerima harus memiliki lahan memadai, usia produktif, serta ketersediaan air untuk budidaya ikan.
Minat dan komitmen menjadi syarat penting, termasuk kesiapan melanjutkan usaha budidaya setelah program berakhir.
“Harapannya, penerima tidak berhenti pada bantuan, tetapi mampu mengembangkan usaha secara mandiri,” tambahnya.
Melalui pendekatan ini, KOLEGA tidak hanya memberi sarana, tetapi mendorong keberlanjutan usaha ekonomi warga.
Pemkab Bojonegoro menempatkan program ini sebagai strategi pemberdayaan berbasis potensi lokal yang terus diperkuat. [Ags].

