Bojonegoro Jatim | OpsJurnal Asia
Di Kabupaten Bojonegoro, isu sunyi itu bernama pendengaran yang kerap diabaikan banyak orang.
Lewat siaran radio, dokter RSUD Sosodoro Djatikoesoemo mengingatkan pentingnya menjaga telinga.
Nama dr. Alan Perdana menegaskan telinga adalah organ vital yang tak bisa diganti, hanya bisa dilindungi.
“Telinga tidak bisa diganti, tapi bisa dilindungi dengan kebiasaan yang benar sejak dini,” ujar dr. Alan, 22 April 2026.
Ia menjelaskan suara ditangkap, diteruskan, lalu diolah oleh sel rambut halus yang sangat sensitif terhadap kerusakan.
“Kerusakan sel rambut halus menjadi penyebab utama penurunan pendengaran hingga ketulian,” jelasnya.
Paparan suara keras dan kebiasaan mengorek telinga terlalu dalam jadi penyebab yang sering terjadi di masyarakat.
“Membersihkan telinga cukup di bagian luar, jangan terlalu dalam karena bisa melukai dan memicu infeksi,” tegasnya.
Rasa gatal di telinga sering berkaitan dengan gangguan hidung seperti pilek atau saluran yang tersumbat.
Ia juga menyoroti penggunaan headset berlebihan yang kini menjadi ancaman nyata bagi pendengaran remaja.
“Batas aman suara 80 desibel, gunakan maksimal 60 persen volume selama satu jam per hari,” ujar dr. bergelar Sp.THTBKL.
Gejala awal seperti denging atau tinnitus muncul sebagai tanda awal gangguan yang sering diabaikan.
Pada anak, gangguan dapat terlihat dari keterlambatan bicara usia satu hingga dua tahun yang perlu diwaspadai.
Pemeriksaan rutin tiap enam bulan penting dilakukan, termasuk melalui layanan BPJS Kesehatan.
“Telinga harus dijaga sejak dini, karena sekali rusak, fungsinya tidak dapat kembali seperti semula,” pungkasnya. [Ags].

