Operasi besar-besaran dengan nama megah digembar-gemborkan Operasi Antik Toba 2026. Personel dikerahkan, penggerebekan dilakukan, dan sejumlah orang diamankan. Namun di balik gemerlapnya laporan keberhasilan itu, ada satu kenyataan pahit yang mencoreng semuanya hanya kurir, kuli angkut, dan pemain kecil yang ditangkap. Sedangkan sang otak utama, sosok yang selama ini dikenal sebagai penguasa jaringan narkoba di Bilah Hilir, masih berjalan santai bak orang tak bersalah. Kamis (11 Juni 2026)
Namanya Dayu, warga Sei Kasih, Kecamatan Bilah Hilir. Ia bukan nama asing bagi warga setempat. Semua orang tahu dialah yang memegang kendali utama, yang mengatur pasokan, yang membagi wilayah, dan yang memiliki anak buah seperti Puput, Bagio beserta istri di Sei Pegantungan, serta jaringan pengintai yang dijuluki “Kenziro” untuk mengawasi setiap pergerakan di sekitar basis operasinya.
Operasi yang digelar Polres Labuhanbatu bersama Polsek Bilah Hilir ini dinilai tebang pilih, tidak berani menyentuh akar masalah, dan justru memperkuat kecurigaan publik bahwa diduga ada sesuatu yang disembunyikan.
Menurut pantauan warga yang berani bicara, Dayu menjalankan bisnis haramnya dengan sangat terstruktur. Markas utamanya berada di area belakang pemukiman warga, yang dijaga ketat oleh orang-orang kepercayaannya. Setiap orang yang lewat, setiap kendaraan yang berhenti, selalu dipantau dengan cermat seolah mereka tahu persis kapan aparat akan datang.
“Semua orang tahu di mana dia tinggal, siapa saja yang datang ke rumahnya, dan siapa saja yang bekerja untuknya. Anak buahnya ada Puput, ada Bagio dan istrinya, bahkan ada yang bertugas mengintai seperti mata-mata. Tapi anehnya, saat operasi besar digelar, yang kena tangkap cuma orang rendahan. Dayu justru aman-aman saja,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya demi keselamatan.
Kecurigaan makin memuncak ketika operasi yang seharusnya menyasar titik-titik krusial sering berakhir dengan hasil nihil. Seolah-olah ada yang memberi isyarat lebih dulu, sehingga barang bukti dan orang utamanya sudah menghilang sebelum tim penindak tiba. Hal ini memicu tudingan keras apakah ada kebocoran informasi? Apakah ada oknum yang bermain mata dengan Dayu?
Masyarakat mempertanyakan esensi dari operasi seperti ini. Jika yang ditangkap hanyalah orang-orang yang tidak punya kekuasaan, maka peredaran narkoba tidak akan pernah berhenti. Besok lusa, akan ada orang lain yang menggantikan posisi mereka, sementara Dayu tetap duduk manis mengatur segalanya dari belakang.
“Ini bukan pemberantasan, ini cuma sandiwara! Menangkap kurir itu gampang, tapi menangkap bos besarnya yang justru menjadi ujian keberanian aparat. Kalau Dayu dibiarkan terus bebas, berarti operasi ini tidak ada gunanya. Ini hanya untuk menenangkan publik semata,” tegas tokoh masyarakat setempat.
Sudah berkali-kali laporan disampaikan, sudah berkali-kali nama Dayu disebut sebagai dalang utama. Namun hingga Operasi Antik Toba 2026 berjalan, tidak ada satu langkah nyata yang diambil untuk menjeratnya. Ia masih bisa terlihat beraktivitas di tempat umum, masih bisa mengatur jaringannya, dan masih merasa memiliki kekebalan hukum.
Kepercayaan masyarakat terhadap kinerja kepolisian di wilayah ini kini berada di titik nadir. Mereka mulai bertanya apakah Dayu benar-benar sulit ditangkap, atau memang sengaja tidak mau disentuh? Apakah hukum di Bilah Hilir hanya berlaku bagi orang kecil, sedangkan bandar besar punya “izin khusus” untuk berbisnis?
Warga secara tegas menuntut Polres Labuhanbatu, di bawah pimpinan AKBP Wahyu Endrajaya, dan dipantau langsung oleh Kasat Narkoba AKP Hardiyanto, untuk segera membuktikan keseriusannya.
“Jangan lagi main aman! Jangan lagi hanya menangkap kuli! Tangkap Dayu SEKARANG JUGA! Bongkar jaringannya, tangkap Puput, Bagio dan istrinya, serta seluruh pengintai yang melindunginya! Tunjukkan bahwa hukum tidak bisa dibeli, tidak bisa ditawar, dan tidak memandang siapa pun! Jika tidak, berarti operasi kalian hanyalah pertunjukan kosong yang tidak ada artinya!” seru warga dengan penuh amarah.
Ketika dikonfirmasi, Kanit Reskrim Polsek Bilah Hilir IPDA Mistra Purba belum memberikan jawaban sama sekali sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak kepolisian terkait status hukum Dayu. Masyarakat menunggu tindakan nyata, bukan sekadar janji manis. Tangkap Dayu — itu satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa di Labuhanbatu, hukum masih punya gigi dan keadilan masih bisa ditegakkan.
Menangkap orang kecil itu mudah, tapi berani menjerat bos besar adalah ujian integritas. Jika Dayu masih bisa melenggang bebas, maka seluruh operasi yang digelar hanyalah kebohongan yang menyakiti hati masyarakat. Tangkap dia sekarang juga, sebelum ia makin berkuasa dan makin sulit dijatuhkan.
Penulis : SAD

