Garut,OpsJurnal.Asia -
Bayangkan saja! Mereka tinggal di zaman tanpa listrik, tanpa handphone, bahkan tanpa uang banyak untuk sekolah. Namun dari tangan mereka lahir sosok-sosok yang hingga sekarang masih jadi rujukan ilmu agama di seluruh dunia – Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Abu Hanifah.
Acara siraman rohani jelang buka puasa di Masjid At-Thariq, Jalan Simpang Bayongbong, Kampung Sasak Besi, RT 03 RW 02, Desa Mulyasari, Kecamatan Bayongbong pada hari Rabu (11/03/26) membuat peserta terpukau dan menangis haru. Dipandu oleh Ustadz Riki Rohimat Permana dan pewancara Muhammad Agus Zakariyya SE, kisah keempat ibu ini bukan hanya cerita lama – melainkan rahasia besar tentang bagaimana cinta seorang ibu bisa mengubah takdir anaknya.
IBU IMAM SYAFI’I: SITI RUQAYYAH – PINDAH KE MAKKAH UNTUK MASJID, BUKAN RUMAH MEWAH
Sebagai ibu tunggal yang hidup seadanya, setiap pagi ia harus berjualan makanan di pasar hanya untuk memberi makan anaknya. Namun satu hal yang tidak pernah ia kompromikan – waktu untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada Syafi’i.
“Saat uang kita hanya cukup untuk makan atau menyewa kamar dekat masjid, aku pilih kamar dekat masjid,” cerita Ustadz Riki mengisahkan keputusan Siti Ruqayyah yang mengubah hidup anaknya.
Tanpa tempat tinggal tetap, mereka berpindah-pindah hanya untuk dekat dengan lingkungan ilmu. Kadang kala Syafi’i menangis karena lapar, tapi ia akan menggendongnya dan berjalan ke masjid sambil bernyanyi lagu tentang Al-Qur’an. “Ibu tidak bisa memberi kamu mainan mahal, sayang. Tapi ibu bisa memberi kamu ilmu yang akan membuatmu kaya sepanjang hidup,” ucapnya kepada Syafi’i kecil.
IBU IMAM AHMAD BIN HAMBAL: UMM SALAMAH – BANGUNKAN ANAKNYA DI MUSIM DINGIN, WALAU TANGANNYA BEKU
Di tengah dinginnya musim dingin Baghdad yang membuat jendela berembun tebal, setiap jam tiga pagi ia sudah bangun. Dengan tangan yang beku karena dingin, ia perlahan membangunkan Ahmad dan menghangatkan tubuhnya dengan selimut yang sudah dipanaskan di dekat bara api.
“Saat jalanan tertutup salju dan kaki kita sakit karena berjalan jauh, aku selalu bilang ke Ahmad – ‘Rasa sakit ini sementara, tapi pahala yang kamu dapatkan akan kekal’,” ujar Ustadz Riki dengan suara penuh perasaan.
Ia pernah membawa Ahmad berjalan selama dua jam hanya untuk bertemu seorang ulama yang tinggal di pinggiran kota. Saat Ahmad mengeluh capek, ia jongkok dan berkata, “Aku lebih suka kamu capek karena mencari ilmu daripada capek karena bermain tanpa tujuan, nak.”
IBU IMAM MALIK: UMM ‘ABDILLAH – SEBELUM BELAJAR HADITS, ANAKNYA DIAJARIN MEMAKAI BAJU ULAMA
Hari pertama Malik akan belajar dari para ulama di Madinah, ibunya menghadiahkannya pakaian putih yang disiapkan dengan sangat rapi. Saat Malik melihat cermin dan merasa tidak pantas memakainya, ia berkata, “Kamu belum tahu banyak tentang ilmu, tapi kamu harus belajar menghormatinya terlebih dahulu. Pakaian ini bukan untuk menunjukkan kamu pintar, tapi untuk mengingatkanmu bahwa ilmu harus dihormati.”
Setiap kali Malik pulang dari belajar, ia selalu menanyakan satu hal saja: “Apakah kamu menyapa gurumu dengan sopan? Apakah kamu mendengarkan dengan penuh perhatian?”
Ia bahkan pernah melarang Malik belajar selama beberapa hari karena melihat anaknya menjadi sombong setelah bisa menghafal banyak hadits. “Ilmu yang membuatmu sombong tidak lebih baik dari pada kebodohan yang membuatmu rendah hati,” tegasnya dengan lembut namun tegas.
IBU IMAM ABU HANIFAH: HIBATULLAH – BIARKAN ANAKNYA BERTANYA SAMPAI ULAMA TERKEJUT
Ketika Abu Hanifah baru berusia 7 tahun, ibunya sudah sering membawanya bertemu dengan para ulama terkemuka di Kufa. Tidak seperti orang tua lain yang melarang anaknya banyak bicara, ia selalu mendorongnya: “Tanya apa saja yang kamu tidak mengerti. Jangan takut salah atau dibuat olok-olok – karena pertanyaan adalah jalan menuju ilmu.”
Saat Abu Hanifah mengajukan pertanyaan yang membuat seorang ulama berpikir lama, ia tidak pernah menghalangnya. Malah, setelah pulang ia berkata, “Kamu punya pikiran yang cerdas, nak. Gunakanlah untuk mencari kebenaran, bukan untuk menunjukkan bahwa kamu lebih pintar dari orang lain.”
Ia bahkan pernah menjual gelang pertunangan satu-satunya hanya untuk membeli buku bagi anaknya. “Barang berharga bisa hilang, tapi ilmu yang kamu miliki akan selalu ada denganmu,” ujarnya saat menyerahkan buku itu.
"Kita selalu berpikir bahwa untuk sukses harus punya uang banyak, sekolah terbaik, dan fasilitas lengkap," ujar Muhammad Agus Zakariyya SE pada akhir acara, sambil melihat banyak peserta yang menangis. "Tapi hari ini kita lihat – keberhasilan sejati dimulai dari cinta seorang ibu yang tidak pernah menyerah, meskipun hanya punya sedikit."
Acara ditutup dengan buka puasa bersama yang penuh kehangatan, dan banyak peserta yang langsung menelepon ibu mereka untuk mengucapkan terima kasih.
(Zakariyya)

