Jakarta,OpsJurnal.Asia -
Perang besar dikawasan Teluk belum berhenti. Berbagai narasi muncul memprediksi kenapa hal tersebut terjadi..
Bahkan Indonesia, kena imbasnya mengenai sempat tertahan nya dia Kapal Tangker di selat Hormuz, perairan IRan.
Dalam perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan IRan yang sudah berlangsung berminggu-minggu, keterlibatan Kapal induk Amerika muncul dan jadi perbincangan hangat.
Kapal induk adalahpusat kekuatan laut modern karena mampu membawa puluhan pesawat tempur dan memproyeksikan kekuatan militer hingga ribuan kilometer dari daratan.
USS Gerald R. Ford milik Amerika Serikat menjadi yang terbesar dan tercanggih di dunia. Kapal ini menggunakan tenaga nuklir serta sistem peluncur pesawat elektromagnetik (EMALS), yang memungkinkan operasi lebih cepat dan efisien dibanding sistem lama.
Berbeda dengan itu, Admiral Kuznetsov dari Rusia masih mengandalkan ski-jump (landasan melengkung) untuk lepas landas pesawat, tanpa katapel modern, sehingga kapasitas operasinya lebih terbatas.
China melalui Liaoning menjadikannya sebagai kapal induk latihan dan pengembangan, menandai langkah awal menuju armada kapal induk yang lebih maju.
Sementara itu, HMS Queen Elizabeth milik Inggris dirancang khusus untuk mengoperasikan jet tempur F-35B dengan sistem lepas landas pendek dan pendaratan vertikal (STOVL), tanpa katapel.
India mengoperasikan INS Vikramaditya sebagai tulang punggung kekuatan lautnya di Samudra Hindia, juga menggunakan sistem ski-jump seperti Rusia.
Perbedaan ukuran, teknologi, dan kapasitas mencerminkan strategi militer serta ambisi geopolitik masing-masing negara dalam menjaga pengaruh di lautan dunia.

