Garut,OpsJurnal.Asia -
Di sudut rumah sederhana di Kp Gembor RT 001/003, Desa Girimakmur, Kecamatan Malambong, Kabupaten Garut, Ibu Jubaedah (49 tahun) menjalani hari-harinya dalam kesunyian yang menyakitkan. Tiga tahun lalu, kaki kanannya harus diamputasi karena komplikasi diabetes yang tak tertangani, memutuskan langkahnya dan mengubah hidupnya menjadi serangkaian perjuangan yang melelahkan. Tanpa alat bantu yang layak, setiap gerakan bagaikan menyusuri jurang ketakutan.
Kisah pilu ini terungkap menyentuh hati dalam wawancara eksklusif yang dilakukan oleh Muhammad Agus Zakariyya, SE, melalui sambungan telepon via WhatsApp pada Sabtu, 06 Maret 2026. Suara Ibu Jubaedah bergetar hebat, seolah membawa beban ratusan kilo yang dipikulnya sendirian, saat menceritakan kenyataan pahit yang ia hadapi setiap detik.
"Setiap hari rasanya seperti berperang, Nak. Tanpa kaki, tanpa kruk, tanpa kursi roda... saya hanya bisa merayap perlahan, bergelayutan pada dinding yang kasar atau meja yang goyah," ucapnya dengan nada yang nyaris putus asa. "Lantai rumah ini tidak rata, berdebu, dan licin. Berkali-kali saya terjatuh, tubuh saya lebam, tangan saya lecet dan perih. Saya ingin keluar rumah, menghirup udara segar, melihat matahari... tapi itu semua mimpi yang terlalu mahal untuk saya gapai. Saya takut bergerak sendirian, takut jatuh dan tak ada yang menolong," tambahnya, diiringi isak tangis yang tertahan.
Kesedihan Ibu Jubaedah semakin dalam saat membicarakan nasib keluarganya. Suaminya, Bapak Rodi (50 tahun), adalah buruh harian lepas yang nasibnya bergantung pada rezeki yang tak pasti—kadang ada pekerjaan, kadang ia pulang dengan tangan hampa. Satu-satunya anak mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), yang membutuhkan biaya sekolah dan makan yang layak. Semua beban itu ditanggung pundak Bapak Rodi yang kian menua, bekerja keras hingga keringat menetes, namun sering kali tak cukup untuk mengobati rasa sakit dan kekurangan yang ada di rumah. Perlu diketahui, keluarga Bapak Rodi dan Ibu Jubaedah tercatat masuk dalam Desil 2, yang menunjukkan kondisi ekonomi mereka yang tergolong rentan dan membutuhkan perhatian khusus.
"Lihat suami saya pulang dengan wajah lelah dan penuh debu, sementara saya tak bisa melakukan apa-apa selain menunggu... itu menyakitkan hati saya lebih dari rasa sakit di kaki saya yang hilang ini," lirih Ibu Jubaedah. "Saya hanya ingin alat bantu jalan yang layak, rumah yang sedikit lebih aman agar saya tidak terus-menerus jatuh. Tapi dengan kantong yang seret, itu hanyalah angan-angan yang perlahan memudar."
Ibu Jubaedah mengaku pernah berharap pada petugas desa untuk membantunya mengajukan permohonan ke Dinas Sosial (Dinsos) dan Pemerintah Kabupaten Garut. Namun, harapan itu perlahan layu menjadi kekecewaan yang mendalam. Minggu berganti bulan, namun tidak ada kabar mengenai proses pendataan maupun bantuan yang tiba.
Hal ini dipertegas melalui konfirmasi langsung yang diperoleh dari Kepala Desa Girimakmur pada hari Sabtu (06/03/2026) melalui sambungan telepon WhatsApp oleh Muhammad Agus Zakariyya, SE. Beliau menyatakan bahwa hingga saat ini pihak desa memang belum melakukan pendataan terkait pengajuan bantuan ke Dinsos dan Pemkab. Hal ini menjelaskan mengapa harapan Ibu Jubaedah belum terwujud hingga kini, padahal keluarganya termasuk dalam kelompok yang seharusnya mendapatkan perhatian.
"Saya merasa seperti debu yang tertiup angin, dilupakan oleh waktu dan orang-orang. Apakah nasib saya tidak berharga? Apakah rasa sakit ini tidak cukup untuk dilihat?" ucapnya pilu.
Namun, di tengah kegelapan yang melanda hidupnya, secercah cahaya tiba-tiba menyelinap masuk. Mendengar keluhan yang menyayat hati itu, Sekretaris Camat Malambong, Bapak Deden Munawar, yang juga menjadi nara sumber dalam wawancara ini, tidak tinggal diam. Beliau merespons dengan ketegasan yang luar biasa, langsung bergerak secepat kilat bagaikan pahlawan yang datang di saat paling genting.
Tanpa menunda waktu, Bapak Deden Munawar langsung berkoordinasi intensif dengan Kepala Desa Girimakmur dan Ketua Pendamping PKH, Bapak Rusman. Mereka bergerak bersama untuk memastikan kondisi sosial Ibu Jubaedah dan keluarganya segera terdata dengan benar, tidak ada satu pun detail yang terlewat, mengingat belum adanya pendataan sebelumnya dari pihak desa dan status keluarga mereka yang masuk Desil 2.
"Warga kami bukan angka statistik, mereka adalah manusia yang punya rasa sakit dan harapan! Kami tidak akan membiarkan Ibu Jubaedah terbaring dalam kesendirian dan penderitaan lebih lama lagi," tegas Bapak Deden Munawar dengan nada berapi-api. "Saya pribadi akan memastikan semua kelengkapan administrasi diselesaikan dengan segera. Kami akan berkolaborasi mati-matian dengan Dinsos dan Pemkab Garut agar bantuan bisa mendarat secepat kilat di tangan Ibu Jubaedah."
Tak cukup sampai di situ, untuk memastikan bantuan benar-benar terwujud dan tidak terhambat birokrasi, Bapak Sekmat juga menyatakan akan memohon dukungan langsung dan perhatian khusus kepada Bupati Garut, Bapak Abdusyi Syakur Amin. Beliau berharap sentuhan langsung dari pimpinan daerah dapat mempercepat terwujudnya harapan Ibu Jubaedah.
Kabar baik ini bagaikan hujan segar yang membasahi tanah kering kerontang. Harapan yang sempat mati suri di dada Ibu Jubaedah kini kembali menyala terang, lebih besar dari sebelumnya. Kini, ia tidak lagi menunggu dalam ketakutan, melainkan menanti dengan keyakinan bahwa uluran tangan yang ia nantikan selama ini akhirnya akan benar-benar datang, mengubah penderitaannya menjadi kemandirian yang ia impikan.
(Zakariyya)

