Bojonegoro, OpsJurnal.Asia-
Pemkab Bojonegoro memperkuat langkah menjaga sektor pangan di tengah ancaman krisis global dan perubahan iklim.
Upaya itu dibahas dalam rapat evaluasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian di Pendopo Malowopati, Senin 16 Maret 2026.
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menegaskan perlindungan sawah menjadi langkah penting menjaga masa depan pangan.
“Perlindungan sawah bukan sekadar angka, tapi menyangkut masa depan masyarakat Bojonegoro,” ujar Nurul Azizah.
Saat ini luas sawah terlindungi sekitar 43 ribu hektare, masih jauh dari target pusat yang mencapai 93 ribu hektare.
Pemkab menilai sinkronisasi data lahan dan rencana tata ruang wilayah penting dilakukan mulai tahun ini.
Sebanyak 235 penyuluh pertanian lapangan ditugaskan melakukan geotagging terhadap sekitar 270 ribu petani.
Nurul Azizah meminta penyuluh tetap fokus membantu petani meski secara administratif berada di bawah pemerintah pusat.
“Tidak boleh ada sekat pusat dan daerah. Semua harus bekerja untuk ketahanan pangan Bojonegoro,” tegasnya.
Kepala DKPP Bojonegoro Zaenal Fanani mengingatkan petani mulai bersiap menghadapi puncak musim kemarau.
Penyuluh diminta mengarahkan petani memilih komoditas sesuai ketersediaan air agar terhindar dari gagal panen.
Pemkab juga mendorong efisiensi biaya produksi melalui penggunaan pompa air bertenaga listrik di lahan pertanian.
Menurut DKPP, penggunaan listrik dinilai lebih hemat dibanding mesin diesel yang bergantung BBM.
Langkah perlindungan lahan dan efisiensi produksi diharapkan menjaga Bojonegoro sebagai lumbung pangan daerah. [Ags].

