Garut - OpsJurnal.Asia -
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, meresmikan program Revitalisasi Satuan Pendidikan SD Muhammadiyah 1–5 Garut. Kegiatan peresmian dipusatkan di SD Muhammadiyah 4 Garut Kota, Kamis (8/1/2026), sebagai bagian dari komitmen nasional dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan visi Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pemerintah tengah melakukan percepatan revitalisasi satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Pada tahun 2026, pemerintah menargetkan sebanyak 16.171 satuan pendidikan rampung direvitalisasi.
“Alhamdulillah, progres pekerjaan sudah mencapai 95 persen dan insyaallah pada akhir Januari ini secara keseluruhan bisa selesai 100 persen,” ujar Abdul Mu’ti.
Dengan adanya berita tersebut Kaperwil Jabar Opsjurnal.asia.com sambangi tempat kediaman Ketua Eksekutif Kabupaten LMND Garut Muh Andri Saputra M.Pd untuk meminta tanggapan atas berita tersebut.Jum'at, 10/01/26.
Dalam tanggapannya,Andri mengatakan,"bahwa program tersebut sangat baik supaya pendidikan menjadi lebih berkualitas, dan berterimakasih telah menerapkan program tersebut di Garut. Namun yang harus diperbaiki atau yang harus disentuh oleh anggaran tersebut bukan hanya infrastruktur tetapi ada yang lebih vital yaitu tenaga pendidik yang berstatus honorer, mereka bekerja dengan sepenuh hati dan jiwa dan bahkan dikenyataan yang ada dilapangan yang terjadi tenaga honorerlah yang mengajar dengan begitu sungguh-sungguh yang mendapatkan banyak tugas selain memberikan pelajaran terhadap murid mereka menjadi sosok terdepan yang mengerjakan intruksi ataupun program yang direncanakan namun sayangnya mereka tak dilihat bahkan mungkin tak dihiraukan. Paparnya.
"Kenyataan yang miris terlihat perbandingan antara guru honorer dengan pekerja atau orang yang bekerja menyiapkan makanan gratis yang merupakan program jangka pendek yang belum tentu tepat sasaran dan menjadi bancakan kolusi korupsi dan nepostisme ini sudah sangat terlihat timpang dalam segi gaji atau honor, guru honorer masih jauh lebih kecil dibanding dengan sopir MBG, mistis sekali keadaan yang nyata ini terlihat dengan mata sadar tanpa bisa berbuat apa-apa.
Masih kata Andri, "Alangkah lucu tapi terasa menyedihkan dan terlihat sangat konyol bangunan dan atau insfrastruktur pendidikan menjadi bagus dan mewah tapi didalamnya ada seonggok daging yang diberi nama guru honorer yang belum disejahterakan gedung berkualitas bernilai miliaran namun orang yang tulus didalamnya sedang mengajar mencerdaskan anak bangsa diupah oleh perasaan kasian menggantikan keringat dan ilmunya dengan seharga 200 atau 400 ribu rupiah upah yang masih kecil dibanding penghasilan wanita penghibur atau PSK. Ini menjadi tragedi dalam tirani. Kemewahan diluar namun menutupi kesengsaraan yang ada di dalamnya.
Semua program yang berbentuk barang atau bangunan yang disebut infrastruktur juga menjadi alasan supaya ada cuan bagi pemangku kebijakan ada jual beli proyek pengadaan dan lainnya, ketulusan seolah lenyap digantikan dengan ketamakan kerakusan para pejabat yang mementingkan usahanya sendiri mengamankan dan menyelamatkan perutnya sendiri tanpa memperdulikan perut rakyat yang kelaparan yang kenyang dengan janji para penguasa. Pungkas Ketua Eksekutif Kabupaten LMND Kab. Garut Muh. Andri Saputra, M.Pd.
(Penulis Kaperwil Jabar)


