Garut,OpsJurnal.Asia -
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diberlakukan di masa Ramadhan dengan nilai anggaran 15 ribu rupiah per porsi menjadi perbincangan hangat, mengingat tidak seluruh jumlah tersebut dialokasikan untuk komponen makanan yang secara langsung diterima oleh anak-anak di sekolah.
Rincian Alokasi Anggaran per Porsi MBG
Menurut Zakariyya, perwakilan orang tua murid di Garut, pembagian dana 15 ribu rupiah per porsi terbagi menjadi tiga bagian utama:
- 10 ribu rupiah: Dialokasikan secara khusus untuk bahan makanan yang menjadi bagian konsumsi anak-anak, dengan standar harus mengandung unsur protein, susu, dan buah sebagai komponen gizi utama.
- 3 ribu rupiah: Digunakan untuk biaya operasional Satuan Produksi Pangan Gizi (SPPG), mencakup pembayaran gaji bagi 47 orang karyawan per unit SPPG, tagihan utilitas (listrik dan air), serta biaya sewa dan bahan bakar kendaraan untuk distribusi.
- 2 ribu rupiah: Dihabiskan untuk biaya sewa fasilitas dan peralatan, antara lain tanah lokasi produksi, bangunan dapur, serta wadah penyajian makanan (omprengan).
Untuk kelompok usia anak PAUD/TK hingga kelas 3 SD, alokasi dana yang menjadi komponen makanan bergizi lebih rendah, yaitu hanya 8 ribu rupiah per porsi.Paparnya ke awak media Opsjurnal.asia.Selasa (24/2/26)
Tantangan dalam Menyusun Menu Bergizi dengan Anggaran Terbatas
Seorang praktisi kuliner Imas Kodariah menyampaikan bahwa menyusun menu yang memenuhi standar gizi dengan anggaran 10 ribu rupiah memang memiliki tantangan tersendiri. Porsi yang dihasilkan cenderung kompak dan pilihan buah harus disesuaikan dengan harga yang terjangkau, tidak dapat menggunakan jenis buah yang berharga tinggi. Sebagai perbandingan, sepiring lontong dengan topping bihun dan telur rebus yang dijual di lapak pedagang umumnya sudah berharga 10 ribu rupiah dengan kapasitas wadah sekitar 500ml.
Selain itu, terdapat poin penting yang perlu diperhatikan: anggaran yang seharusnya diperuntukkan untuk sarapan pagi kini dialokasikan sebagai makan siang, sehingga tuntutan akan nilai gizi dan kepuasan makan menjadi lebih tinggi.Paparnya
Harapan Terhadap Pengelolaan SPPG
Meskipun dengan volume produksi ribuan porsi setiap hari dan alokasi biaya operasional sebesar 5 ribu rupiah per porsi, pihak masyarakat mengharapkan SPPG dapat menjalankan tugasnya dengan penuh amanah. Sebagaimana telah diatur dalam perencanaan program, pihak pengelola telah menganggarkan untuk merekrut ahli gizi sebagai tim pendukung dalam menyusun dan mengevaluasi menu agar tetap sesuai dengan standar gizi yang ditetapkan.
Panggilan untuk Kolaborasi Masyarakat dan Pengelola
Peran aktif masyarakat sangat diperlukan bukan hanya sebagai pendukung program pemerintah, namun juga sebagai pihak yang melakukan pengawasan konstruktif. Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat apakah menu yang diterima anak-anak sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang seharusnya didapatkan dari anggaran 10 ribu rupiah. Penting bagi seluruh pihak untuk tidak menetapkan ekspektasi yang tidak sesuai dengan batasan anggaran, namun tetap melakukan pengawasan agar tidak terjadi penyimpangan.
Kerjasama sinergis antara SPPG dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. SPPG diharapkan dapat menerima saran dan kritik dengan sikap terbuka, karena masukan dari pihak luar dapat menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pengelolaan program. Bagi para orang tua dan penerima manfaat MBG, jika menemukan adanya ketidaksesuaian antara alokasi dana dan kualitas makanan yang diterima, dapat menyampaikan masukan secara tertib kepada pihak pengelola dapur atau lembaga terkait.
Dalam kesempatan ini, juga diajukan pertanyaan yang perlu mendapatkan klarifikasi: apakah menu yang tercantum dalam dokumentasi gambar (untuk periode tiga hari) telah memenuhi standar nilai gizi dan sesuai dengan total anggaran 30 ribu rupiah yang seharusnya dialokasikan? Pungkas Zakariyya
(Zakariyya)


