• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Sapu Jalanan Gatra Kang Eep: Jabatan Bukan Jaminan Kemampuan Memimpin, Visi Harus Berujung Pelaksanaan Nyata

    Minggu, 26 Juli 2026, Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T01:21:25Z
    masukkan script iklan disini

    Garut - Opsjurnal.asia - Tidak semua orang yang menduduki jabatan pemimpin benar-benar mampu memimpin. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki pengaruh kuat meski tak memegang wewenang struktural. Hal ini ditegaskan Kang Eep, penulis catatan pemikiran yang dikenal sebagai Sapu Jalanan Gatra, dalam kajiannya membedah hakikat kepemimpinan yang sesungguhnya.

     

    Menurut Kang Eep, kepemimpinan utuh menggabungkan dua kapasitas yang saling melengkapi, bagaikan dua sisi dalam satu koin: Leader dan Commander. Leader bekerja membangun kepercayaan, menyatukan tekad, dan merumuskan arah tujuan bersama. Sementara Commander menggunakan kewenangan sah untuk menerjemahkan gagasan menjadi keputusan tegas, pembagian tugas jelas, alokasi sumber daya, serta pengawasan dan pertanggungjawaban yang nyata.

     


    “Jabatan memberi wewenang, tapi tidak otomatis melahirkan kepercayaan. Seringkali kita melihat pemimpin yang hanya mengandalkan aturan, namun kehilangan hati orang yang dipimpin. Sebaliknya, ada yang disegani banyak orang, namun tak mampu menerjemahkan harapan menjadi hasil kerja nyata,” ujar Kang Eep. Minggu, (26/7/26)

     

    Mengutip pandangan para ahli kepemimpinan, ia mengingatkan bahwa jabatan hanyalah tingkatan paling dasar dalam kepemimpinan. Kepemimpinan sejati tumbuh ketika orang mengikuti bukan karena terpaksa, melainkan karena percaya pada karakter, visi, dan rekam jejak pemimpinnya.

     

    Kang Eep menegaskan, visi yang indah tak berarti jika tidak diturunkan menjadi langkah kerja nyata: mulai dari strategi, keputusan, penugasan, penyediaan sumber daya, pelaksanaan, pengukuran capaian, hingga pertanggungjawaban. “Leader membuat visi dipercaya. Commander memastikan visi itu bisa dikerjakan, diukur, dan dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

     

    Ia juga mengingatkan bahwa komando bukan berarti mengatur segala hal secara rinci hingga melumpuhkan inisiatif bawahan. Komando yang sehat memberikan kejelasan tujuan dan batas wewenang, lalu memberi ruang pelaksana berkreasi mencapainya.

     

    Dalam perspektif nilai kebangsaan dan agama, musyawarah memang dijunjung tinggi, namun harus berujung pada keputusan tegas dan pelaksanaan sungguh-sungguh. “Musyawarah bukan alasan menunda keputusan tanpa batas. Setelah keputusan diambil, keteguhan dan tanggung jawab adalah harga mati,” ujarnya.

     

    Pemimpin sejati, tambah Kang Eep, tidak dinilai dari seberapa keras suaranya atau seberapa tinggi jabatannya, melainkan dari keberaniannya menegakkan keadilan, konsistensi memegang janji, serta kemampuan membangun sistem yang tetap berjalan baik meski pemimpinnya tak hadir.

     

    “Kepemimpinan yang hanya mengandalkan retorika akan melahirkan janji kosong. Kepemimpinan yang hanya mengandalkan perintah akan melahirkan kepatuhan semu. Keduanya harus bersatu: menjelaskan arah dengan meyakinkan, sekaligus memastikan langkah berjalan hingga tujuan tercapai,” pungkas Kang Eep.


    (Zakariyya S.E – Debu Jalanan Gatra)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini