• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Nurunkeun Pusaka Indung, Menanam Bibit Kehidupan Dan Menjaga Akar Peradaban

    Rabu, 08 Juli 2026, Juli 08, 2026 WIB Last Updated 2026-07-08T04:13:46Z
    masukkan script iklan disini

    Rd. H. Holil Aksan Umarzaen: Merawat Warisan Leluhur Adalah Ikhtiar Membangun Masa Depan

     

    GARUT - Opsjurnal.asia | Laporan Budaya & Kearifan Lokal — Rabu, 8 Juli 2026. Ruang Rubik Gatra hari ini menjadi wadah refleksi mendalam pasca terselenggaranya prosesi adat Nurunkeun Pusaka Indung yang digelar Paguyuban Masyarakat Garut Utara bekerja sama dengan pengelola Museum Nyai Tanggulun pada 6 Juli 2026 silam. Kegiatan jajak pendapat ini menghadirkan narasumber tunggal Rd. H. Holil Aksan Umarzaen, Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), untuk menguraikan makna filosofis di balik penyerahan bibit kelapa dalam prosesi tersebut, serta landasan nilai yang diusung komunitasnya.

     

    Nurunkeun Pusaka Indung sendiri adalah tradisi penurunan dan pewarisan nilai luhur leluhur, bukan sekadar perpindahan benda bersejarah, kepada generasi penerus. Dalam paparan yang menyatukan kearifan lokal dan pandangan ke masa depan, Rd. H. Holil menjelaskan makna simbol bibit kelapa yang diserahkan:

     


    “Bibit kelapa yang diserahkan dalam prosesi Nurunkeun Pusaka Indung bukan sekadar tanaman yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Ia merupakan simbol kehidupan, keberlanjutan, dan harapan. Pohon kelapa tumbuh perlahan, berakar kuat, menjulang tinggi, serta memberi manfaat dari akar hingga pucuknya. Demikian pula nilai-nilai budaya dan kearifan leluhur harus ditanamkan kepada generasi penerus agar tumbuh menjadi peradaban yang kokoh dan bermanfaat bagi sesama.”

     

    Penyerahan ini menegaskan prinsip bahwa warisan budaya tidak boleh hanya disimpan atau dipamerkan, melainkan harus ditanam, dipelihara, dan tumbuh menyatu dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

     

    Lebih lanjut, Ketua Umum PM Gatra memaparkan empat landasan filosofis yang menjadi ruh prosesi ini, yang dirangkum dalam ungkapan khas:


    1. Pusaka Indung: Warisan Nilai, Bukan Sekadar Benda

     

    “Pusaka Indung mengajarkan bahwa warisan paling berharga bukanlah benda semata, melainkan jati diri, adab, ilmu, akhlak, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Benda pusaka hanya menjadi simbol, sedangkan ruhnya adalah kebijaksanaan yang hidup dalam perilaku manusia,” ujarnya.

     

    Pemahaman ini mengingatkan bahwa menjaga warisan leluhur berarti menjaga karakter dan jati diri, bukan sekadar merawat benda bersejarah.

     

    2. Limbangan Ngadaun Ngora: Regenerasi Tanpa Mencabut Akar

     

    Filosofi ini bermakna lahirnya tunas dan daun baru di pohon tua, lambang semangat pembaruan yang tetap berpijak pada asal-usul:

     

    “Limbangan Ngadaun Ngora melambangkan lahirnya tunas-tunas baru. Daun muda adalah lambang regenerasi, semangat pembaruan, dan harapan masa depan. Sebagaimana pohon yang terus mengeluarkan daun baru tanpa meninggalkan akarnya, demikian pula masyarakat Garut Utara harus terus melahirkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan berakhlak mulia, tanpa tercerabut dari akar sejarahnya.”

     

    3. Tunggul Galuh Pakuan Pajajaran: Fondasi Peradaban Sunda

     

    Sebagai landasan sejarah, filosofi ini mengingatkan bahwa kemajuan tak akan kokoh tanpa fondasi masa lalu:

     

    “Tunggul Galuh Pakuan Pajajaran merupakan simbol akar peradaban Sunda. Tunggul bukanlah akhir kehidupan, melainkan pangkal tumbuhnya tunas baru. Ia mengingatkan bahwa kemajuan hanya akan bermakna apabila dibangun di atas fondasi sejarah, budaya, dan kearifan para leluhur.”


    Menutup pemaparannya, Rd. H. Holil Aksan Umarzaen merangkum makna menyeluruh prosesi Nurunkeun Pusaka Indung menurut pandangannya sebagai ikhtiar menyatukan tiga dimensi waktu:

     

    “Prosesi ini menjadi ikhtiar untuk menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Menjaga pusaka bukan berarti hidup dalam romantisme sejarah, melainkan menanamkan nilai-nilai luhur agar terus hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.”

     

    Ia menegaskan makna inti dari keseluruhan prosesi ini:

     

    - Bibit Kelapa adalah harapan;

    - Pusaka Indung adalah jati diri;

    - Limbangan Ngadaun Ngora adalah regenerasi;

    - Tunggul Galuh Pakuan Pajajaran adalah akar peradaban.

     

    “Maka, merawat pusaka sejatinya adalah merawat masa depan; menanam nilai hari ini agar berbuah kemuliaan bagi generasi yang akan datang. Itulah makna Nyawang Mangsa Kahareupna—memandang masa depan dengan berpijak pada akar budaya dan warisan leluhur,” pungkasnya.


    Catatan Redaksi: Pandangan ini disampaikan dalam forum jajak pendapat dengan narasumber tunggal. Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh tanggapan resmi dari pihak Dinas Kebudayaan Kabupaten Garut, pengelola Museum Nyai Tanggulun, maupun tokoh adat lainnya terkait pandangan tersebut.

     

    Sumber: Jajak Pendapat Ruang Rubik Gatra, Rabu 8 Juli 2026

    Pemaparan Narasumber: Rd. H. Holil Aksan Umarzaen, Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra)

    Kategori: Budaya, Kearifan Lokal, Peradaban Sunda

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini