LAPORAN KHUSUS MPLS TAHUN PELAJARAN 2026–2027
Rabu, 15 Juli 2026
Garut - Opsjurnal.asia - Di bawah langit pagi yang seolah berhenti sejenak menyaksikan peristiwa sakral, halaman utama SMAN 3 Garut Cibatu bergemuruh oleh suara hati yang menyatu. Tepat 552 siswa dan siswi baru angkatan tahun 2026—yang sedetik sebelumnya masih menyimpan keraguan di mata—kini terpaku diam, lalu meledak lah tepuk tangan yang mengguncang bumi saat Kepala Sekolah, Drs. Asep Ansor Mujahidin, melangkah ke depan. Ia membawa pesan yang bukan sekadar ucapan selamat datang, melainkan ikrar pengabdian dan pengayoman.
Puncak keagungan momen ini terwujud ketika Lengser, simbol tradisi luhur masyarakat Garut, dikibarkan perlahan di hadapan seluruh peserta.
Ikrar Pemimpin Di Pusat Sejarah
“Anak-anakku sekalian, kalian bukan sekadar siswa yang berpindah tempat belajar. Hari ini, kalian melangkahkan kaki ke dalam aliran sejarah yang telah berdenyut sejak abad ke-19. Kalian adalah 552 tunas muda yang kini bersemayam di tanah yang subur, di bawah naungan pohon ilmu yang tak pernah rontok daunnya,” ujar Drs. Asep Ansor Mujahidin dengan suara berwibawa namun menyiratkan kelembutan hati seorang ayah.
“Kalian bertanya, mengapa kami menyambut kalian dengan begitu istimewa? Karena bagi kami, kehadiran kalian adalah jawaban doa leluhur. Kami tidak memandang kalian sebagai pendatang baru; kalian adalah kelanjutan nyawa dari kejayaan SMAN 3 Garut Cibatu. Maka, jangan pernah merasa asing di rumah sendiri ini,” lanjutnya, yang seketika mengubah keraguan menjadi kebanggaan yang membara di dada setiap siswa.
Lengser Payung Yang Mengubah Ketakutan Menjadi Keberkahan
Saat suasana mencapai puncak keheningan, Kepala Sekolah menunjuk ke arah kain Lengser yang terbentang gagah.
“Lihatlah simbol ini! Lengser bukan sekadar hiasan atau atribut seremonial. Ia adalah payung perlindungan kami. Ia adalah janji kami: selama kalian berjuang di sini, kami akan menaungi kalian dari panasnya kebodohan dan derasnya badai kesulitan. Di bawah Lengser ini, kami perhatikan nasib kalian—552 jiwa penerus masa depan—dengan nasib sekolah yang mulia ini,” tegasnya.
Kata-kata itu seolah membakar semangat. Seluruh siswa serentak berdiri tegak, sorak sorai bergema membelah langit Garut Utara, menyadari bahwa mereka kini tidak lagi berjalan sendirian.
Amanat Masa Depan Yang Menggetarkan Jiwa
“Jadilah pembelajar yang tak pernah lelah, pemikir yang tak pernah menyerah, dan pribadi yang tak pernah lupa diri. Kelak, ketika kalian pulang membawa gelar dan prestasi, ingatlah bahwa akar kalian tertanam kuat di sini. Dan ketika kalian menghadapi badai kehidupan, ingatlah bahwa kalian pernah berdiri tegak di bawah Lengser ini, di bawah naungan SMAN 3 Garut Cibatu—pusat pendidikan terunggul yang tak akan pernah berhenti membimbing kalian,” pungkasnya.
Peristiwa ini bukan sekadar upacara pembukaan. Ini adalah penyatuan jiwa, di mana tradisi, ilmu pengetahuan, dan harapan masa depan bertemu dalam satu harmoni yang abadi.
(M.A. Zakariyya S.E)




