• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Menang Pemilihan Kalah Kehormatan - Pelajaran Berharga Di Tengah Panasnya Musda XI Golkar Garut

    Kamis, 02 Juli 2026, Juli 02, 2026 WIB Last Updated 2026-07-02T16:18:14Z
    masukkan script iklan disini

    Kang Oos Supyadin S.E., M.M., Budayawan, Dosen, dan Pemerhati Kebijakan Pemerintah

    Garut - Opsjurnal.asia - Di tengah gejolak dan ketegangan yang menyelimuti persiapan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kabupaten Garut, satu peringatan keras datang menggema, menembus riuh rendah kepentingan dan ambisi yang beradu. Kang Oos Supyadin S.E., M.M. selaku Budayawan, Dosen, dan Pemerhati Kebijakan Pemerintah menyampaikan pesan yang tak sekadar teguran, melainkan cermin jernih bagi seluruh kader: “Jangan sampai kita memenangkan pemilihan, tapi kalahkan kehormatan partai.”

     


    Dalam pandangannya, pernyataan ini bukan sekadar urusan internal partai semata. Ia adalah cerminan dari krisis pemahaman kita tentang makna kekuasaan, makna persaudaraan, dan makna keberadaan sebuah organisasi di tengah masyarakat.


    “Jangan pernah menganggap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga hanyalah urusan administrasi atau tulisan di atas kertas. AD/ART adalah nyawa, adalah kehormatan, adalah benteng terakhir kita. Jika kita berani melompati aturan demi kepentingan sesaat, berarti kita sudah mencabut akar tempat kita berpijak,” tegas Kang Oos.

     

    “Tidak ada nama besar, tidak ada dukungan kuat, tidak ada jabatan yang bisa ditempatkan di atas konstitusi yang telah disepakati bersama. Barang siapa mengubah aturan demi keuntungan sendiri, dialah yang pertama kali mencederai Golkar,” tambahnya.

     


    Beliau menyoroti bahaya penafsiran ganda yang mulai muncul: “Satu aturan untuk satu orang, aturan lain untuk orang lain? Itu bukan demokrasi, itu kemunafikan! Semua kader berdiri sama tinggi di hadapan aturan. Jika hari ini kita boleh membelokkan syarat untuk orang yang kita sukai, besok orang lain akan melakukan hal yang sama, dan partai ini akan hancur lebur oleh ketidakpercayaan.”

     

    “Kepatuhan yang sama bagi siapa saja adalah bukti bahwa kita masih layak disebut kader Golkar. Menciptakan ketidakadilan adalah dosa terbesar dalam berorganisasi,” tegasnya menohok.


    Kang Oos menunjuk keteladanan dua tokoh sebagai cermin kejujuran: “Lihatlah sikap Agus Supriadi dan Aceng Fikri. Mereka berpeluang besar, namun memilih mundur karena menghormati syarat masa keanggotaan. Inilah bukti nyata: kebesaran manusia tidak diukur dari kursi yang diduduki, melainkan dari seberapa teguh ia menjaga harga diri ketika semua orang memintanya berkompromi.”

     


    “Lebih baik tidak menjadi ketua, daripada menjadi pemimpin yang dimulai dengan melanggar janji dan menginjak aturan. Itulah integritas yang sesungguhnya,” tandasnya.


    Ia memperingatkan bahaya persaingan yang melampaui batas: “Boleh bersaing, boleh berbeda pilihan. Tapi ingat: musuh kita bukan kader lain di dalam ruangan ini. Musuh kita adalah ketidakpedulian rakyat, adalah tantangan masa depan Garut. Jika persaingan ini berakhir dengan saling menjatuhkan dan memutus persaudaraan, berarti kita semua kalah, tak peduli siapa yang akhirnya duduk di kursi ketua.”

     

    “Kerusakan persatuan yang dibangun puluhan tahun tidak akan bisa diperbaiki dalam waktu lima tahun. Jangan sampai kita menukar persaudaraan dengan kemenangan sesaat,” peringatannya tajam.


    “Jangan bermimpi bisa menyatukan orang lain jika kita sendiri naik dengan cara melanggar aturan. Legitimasi tidak lahir dari tepuk tangan paksa, tidak lahir dari dukungan uang, tapi lahir dari proses yang lurus dan benar. Pemimpin yang lahir dari pelanggaran tidak akan berani menegur kesalahan orang lain, karena ia sendiri memulai dengan kesalahan,” ujarnya.

     

    “Warisan pendahulu kita adalah keteguhan pada aturan. Jika kita melonggarkannya hari ini, kita sedang menitipkan penyakit bagi generasi mendatang,” tutupnya.


    “Organisasi yang kuat bukan yang punya pengikut terbanyak, melainkan yang punya kader berani mendahulukan aturan di atas jabatan, persatuan di atas kemenangan, dan kehormatan di atas segalanya. Sekali kita melanggar prinsip, kita tidak sedang memenangkan Musda — kita sedang mengubur masa depan Golkar.”

     

    (M.A. Zakariyya S.E.)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini