Garut - Opsjurnal.asia - Musyawarah Daerah Partai Golkar Kabupaten Garut bukan sekadar pergantian nama di surat keputusan, bukan pula sekadar pertukaran kursi di ruang rapat. Ini adalah persimpangan jalan paling krusial: satu langkah keliru akan menjerumuskan organisasi ke dalam jurang keterpurukan bertahun-tahun, sementara satu langkah tepat akan mengembalikan kejayaan yang sempat terabaikan. Dalam sorotan tajam dinamika ini, Rd. H. Holil Aksan Umarzaen, Ketua Presidium sekaligus Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), menyuarakan peringatan yang mendalam, tegas, dan menyentuh akar persoalan organisasi.
“Dalam sejarah peradaban maupun kehidupan organisasi, kehancuran tidak pernah datang tiba-tiba. Ia bermula dari keputusan yang diambil dengan tergesa, didasari harapan semu, atau dikorbankan demi kepentingan sesaat. Dan hari ini, Golkar Garut berdiri tepat di ambang batas itu,” ujarnya dengan nada yang sarat keberatan namun penuh tanggung jawab.
Secara akademis dan berdasarkan pengalaman panjang manajemen organisasi, kesalahan fatal yang sering menggerus kekuatan partai adalah memandang pemilihan ketua sebagai sebuah taruhan, bukan penentuan arah strategis.
“Golkar Garut tidak boleh, dan tidak akan pernah bisa bertaruh pada spekulasi. Jangan pernah memilih seseorang hanya karena namanya sering terdengar, hanya karena ikatan pribadi, hanya karena dukungan materi yang tampak menggiurkan, atau hanya karena takut pada tekanan sesaat. Itu bukan politik, itu adalah perjudian atas nasib ribuan kader dan harapan jutaan rakyat Garut,” tegas Rd H Holil dengan penekanan yang tak terbantahkan.
Beliau menegaskan bahwa pemimpin sejati tidak lahir dari popularitas yang dipoles, melainkan dari penguasaan penuh terhadap struktur organisasi, rekam jejak yang teruji di bawah tekanan, kemampuan menyatukan hati yang terbelah, serta kesadaran utuh bahwa kekuasaan ini dijalankan bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk melayani aspirasi masyarakat yang semakin menuntut keadilan.
Di tengah keraguan dan kebimbangan yang melanda, pandangan beliau menunjuk pada dua sosok yang dianggap telah memenuhi syarat mutlak, sekaligus membawa harapan pemulihan: Deden Sopian dan Aris Munandar.
“Deden Sopian bukan pendatang baru. Ia telah merasakan denyut nadi perjuangan di Garut Utara selama bertahun-tahun, paham betul mana luka yang belum tersembuhkan dan mana potensi yang belum terjamah. Sementara Aris Munandar, melalui perjalanan panjang organisasi hingga ke lembaga legislatif, telah membuktikan bahwa ia memiliki ketangguhan mental, kematangan berpikir, dan kemampuan bernegosiasi yang dibutuhkan partai di tingkat strategis,” paparnya mendalam.
Lebih dari sekadar kapabilitas pribadi, kehadiran keduanya menyimbolkan jembatan yang selama ini kita cari. “Satu memikul harapan Garut Utara, satu lagi membawa aspirasi Garut Selatan. Jika kita menyatukan keduanya, kita tidak sedang memihak satu kawasan, melainkan sedang membangun Garut Raya yang utuh. Kita tidak lagi membiarkan satu sisi tumbuh pesat sementara sisi lain tertinggal jauh. Persatuan inilah yang menjadi syarat mutlak kemenangan kita di masa depan.”
Rd H Holil menegaskan keyakinannya: “Hanya Deden Sopian dan Aris Munandar yang saat ini memiliki bekal cukup untuk membawa Golkar kembali menjadi pemenang. Bukan karena mereka sempurna, melainkan karena mereka mengerti bahwa kemenangan sejati bukan berarti menguasai panggung, melainkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi ketimpangan, mampu merajut kembali persaudaraan antarkader, dan mampu mengembalikan kepercayaan rakyat yang perlahan memudar.”
Akhirnya, pesan ini ditujukan langsung kepada setiap pemilik suara di Musda dengan seruan yang membekas:
“Saudara sekalian, Musda ini hanya berlangsung sesaat. Namun keputusan yang kalian ambil di ruangan ini akan menggema selama lima tahun ke depan — menentukan apakah Golkar akan kembali dicintai, atau justru makin menjauh dari rakyat. Jangan pilih karena kedekatan, jangan karena keuntungan sesaat, jangan karena rasa takut. Pilihlah mereka yang berani memegang aturan, yang memiliki integritas tak tergoyahkan, dan yang paling paham: Golkar ada untuk Garut, dan Garut butuh Golkar yang kuat, adil, dan bersatu.”
(M.A. Zakariyya S.E)

