• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Harga Rokok Melangit Ke Angka Triliunan, Petani Tembakau Dan Rantai Bawah Terjebak Di Lubang Kerugian

    Sabtu, 04 Juli 2026, Juli 04, 2026 WIB Last Updated 2026-07-04T05:39:58Z
    masukkan script iklan disini

    Catatan Kritis di Ruang Rubrik Gatra: Rd. H. Holil Aksan Umarzaen, Antara Nilai Bisnis, Pendapatan Negara, dan Keadilan Ekonomi Rakyat

     

    Garut - Opsjurnal.asia - Debu Jalanan Gatra, Suasana di ruang rubrik Gatra hari ini beralun santai namun sarat makna. Di sela canda dan gurau yang memecah tawa, seorang tokoh pimpinan Rd. H. Holil Aksan Umarzaen menyampaikan renungan tajam namun tetap berjiwa bisnis atas fenomena yang kini membelenggu rantai pasok tembakau nasional: "Harga jual melambung setinggi langit, tapi yang menanam justru yang paling menderita. Ini bukan soal untung-untungan, ini soal hitungan yang tidak berimbang."


    Data resmi menunjukkan, penerimaan negara dari Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada tahun 2026 saja telah menembus angka Rp225,73 triliun. Angka ini setara dengan 92,7 persen dari total target penerimaan cukai nasional yang sebesar Rp243,53 triliun. Artinya, hampir seluruh pundi-pundi pendapatan cukai negara bersumber dari satu komoditas ini—sangat besar nilainya, sangat strategis perannya.

     

    Namun di balik kemegahan angka tersebut, tersimpan paradoks yang menyayat hati:

    - Petani tembakau terjepit di tengah. Harga beli hasil panen di tingkat petani justru rendah, sementara biaya pupuk, tenaga kerja, dan pengolahan terus meroket. Keuntungan dari harga jual akhir yang melambung tidak turun ke akar, melainkan tertahan di lapisan atas rantai bisnis.

    - Buruh pabrik terbebani. Upah yang diterima tidak sebanding dengan intensitas kerja dan tekanan target produksi yang semakin berat.

    - Konsumen tercekik. Harga produk akhir terus naik berkali-kali lipat, menambah beban pengeluaran rumah tangga yang sudah tertekan inflasi.

     

    "Luar biasa besar uangnya, tapi anehnya tak ada gelombang protes yang setimpal," ujar beliau dengan nada bercanda namun tajam. Sabtu, (5/7/26). "Kalau harga cabai naik sedikit saja jalanan sudah ramai. Kok yang nilainya ratusan triliun ini justru hening? Mungkin karena yang dirugikan tersebar, sementara yang diuntungkan bergerak senyap?"


    Sebagai sosok yang memahami seluk-beluk dunia usaha, beliau menegaskan: "Saya tidak anti bisnis. Justru bisnis harus tumbuh, harus untung, harus maju. Tapi bisnis yang sehat tidak akan berumur panjang jika hanya mengandalkan keuntungan di satu sisi, sementara menekan habis-habisan pihak lain."

     

    Dalam prinsip ekonomi bisnis yang berkelanjutan, rantai pasok yang kokoh dibangun dengan keseimbangan:

    - Negara mendapatkan penerimaan yang layak untuk pembangunan;

    - Pelaku usaha mendapatkan keuntungan yang wajar dari investasi dan risiko;

    - Petani dan buruh mendapatkan pendapatan yang pantas dan sejahtera;

    - Konsumen mendapatkan harga yang adil dan kualitas yang terjamin.

     

    "Sekarang kita lihat, mana yang terpenuhi?" tanyanya disambut hening sejenak. "Jika petani terus merugi, maka lahan tanam akan berkurang. Jika buruh tidak sejahtera, kualitas kerja menurun. Jika konsumen beralih, pasar akan menyusut. Saat itulah, keuntungan besar yang terlihat hari ini akan berubah menjadi kerugian besar di masa depan. Itu bukan strategi bisnis yang cerdas, itu memakan masa depan sendiri.

     

    Fenomena ini menuntut keberanian untuk menata ulang tata kelola:

     

    1. Perbaiki struktur harga secara adil, sehingga nilai tambah dari harga jual akhir bisa mengalir kembali ke petani dan buruh.

    2. Perkuat posisi tawar petani, baik melalui koperasi maupun kemitraan usaha yang setara, bukan sekadar menjadi pemasok bahan baku yang harga belinya ditentukan sepihak.

    3. Transparansi rantai pasok, agar setiap kenaikan harga bisa dijelaskan asal-usulnya, dan tidak semata-mata dimanfaatkan oleh pihak yang berkuasa di pasar.

    4. Sinergi kebijakan, antara penerimaan negara, perlindungan konsumen, dan kesejahteraan produsen—sebab ketiga hal ini tidak bisa dipisahkan.

     

    "Saya berharap, ke depan kita tidak lagi mendengar kalimat 'harga rokok melangit, petani terjepit'. Mari kita ubah menjadi: 'Harga wajar, bisnis tumbuh, petani sejahtera'. Itulah kemenangan sejati bagi kita semua," pungkas beliau dengan senyum penuh harapan.

     

    (M.A.Zakariyya S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini