Garut - Opsjurnal.asia - Momen bersejarah bagi pengembangan sumber daya manusia dan ekonomi kreatif wilayah Garut Utara terukir hari ini, Senin 13 Juli 2026. Acara pelepasan lulusan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Elok bidang kecantikan berlangsung penuh haru sekaligus sukacita di Jalan Raya Tasikmalaya–Bandung, Desa Mekarsari, menandai lahirnya gelombang tenaga profesional baru yang siap menjadi tulang punggung pelayanan pariwisata.
Kajian Hukum, Tata Kelola, dan Seruan Sinergi Pembangunan Pariwisata Garut Utara.
Acara dipimpin oleh Deni (Ridho), dan dihadiri oleh lintas elemen strategis: Pengurus Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA), Wanoja Gatra, Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI), Perwakilan Persatuan Artis Komedi Indonesia (PASKI) Kabupaten Garut, perwakilan orang tua murid, serta pengurus dan instruktur LKP Elok.
Pusat penggerak kegiatan ini adalah Enok Sopiah, S.Pd. yang menjabat sebagai Ketua LKP Elok, Ketua HARPI Wilayah Garut Utara, Pengurus HARPI Kabupaten Garut, sekaligus Penasihat Asosiasi Instruktur Senam dan Aerobik serta Fitnes Indonesia (ASIAFI).
Secara yuridis, keberadaan dan peran LKP Elok serta profesi pendukung pariwisata didasarkan pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan juncto UU No. 1 Tahun 2014, serta Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 3 Tahun 2021 tentang Standar Kompetensi Kerja.
Namun dalam praktik tata kelola, masih terdapat kesenjangan antara potensi riil di lapangan dengan perencanaan pembangunan daerah. Hal ini menjadi sorotan utama yang disampaikan oleh para pemangku kepentingan yang hadir.
Kepala Desa Mekarsari, Ahmad Sadili, selaku tamu kehormatan, menyambut baik langkah ini sekaligus menegaskan komitmen wilayah:
“Desa Mekarsari tidak hanya menyuguhkan pemandangan alam. Kami memiliki sumber daya manusia yang terlatih, berbudaya, dan siap melayani tamu dengan standar layanan yang baik. Kehadiran lulusan LKP Elok membuktikan bahwa desa mampu mencetak tenaga kerja berkualitas. Pemerintah Desa siap menjadikan mereka mitra resmi dalam setiap kegiatan promosi dan penyelenggaraan acara di wilayah kami.”
Sementara Tamu Kehormatan dari PM Gatra yang diwakili Ketua Umum Bidang Kepemerintahan dan Infrastruktur PM GATRA, Deden Sopian, S.HI., memberikan sorotan kritis ditinjau dari aspek hukum dan kelembagaan:
“Secara aturan, tenaga pelatihan mandiri memiliki kedudukan yang sah. Namun sayangnya, seringkali mereka berjalan sendiri tanpa masuk dalam peta kebutuhan dan standar yang ditetapkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Jika Disparbud tidak segera merespons, memverifikasi kompetensi, dan melibatkan mereka dalam kebijakan, maka ini adalah kerugian besar—baik bagi pelaku usaha maupun bagi citra pariwisata Garut Utara di mata pengunjung.”
Beliau menambahkan, keterpaduan antara infrastruktur, pelatihan, dan pengakuan profesi adalah syarat mutlak agar Garut Utara memiliki daya saing yang kuat.
Perwakilan Wanoja PM Gatra, Sinta Virgianti, S.Pd., menyambut antusias kehadiran para lulusan dengan gaya bicara yang lugas, akrab, dan diselipkan candaan ringan yang menghangatkan suasana:
“Wah, melihat wajah-wajah ceria dan cantiknya adik-adik hari ini, rasanya Garut Utara sudah tidak butuh lagi alat pemanas ruangan—cukup kehadiran kalian saja sudah bikin suasana makin hangat dan berwarna! Tapi seriusnya begini: Wanoja PM Gatra sangat bangga dan mendukung penuh. Kalian ini bukti nyata bahwa perempuan desa tidak hanya pandai di dapur, tapi juga andal merias, mengelola keindahan, dan siap bersaing di dunia kerja. Jangan sampai keahlian sehebat ini cuma jadi 'hobi', harus jadi profesi yang diakui negara. Kalau perlu, kita ajak Disparbud lihat langsung—siapa tahu nanti wajah cantik kalian malah jadi ikon pariwisata Garut, lho!”
Tawa renyah menyambut ucapan beliau, sekaligus mempertegas dukungan penuh wadah perempuan PM Gatra untuk memajukan ekonomi dan martabat kaum perempuan Garut Utara.
Gelak tawa seketika memecah suasana ketika giliran Akung Beo, perwakilan Persatuan Artis Komedi Indonesia (PASKI) Kabupaten Garut, memberikan tanggapan dengan gaya khasnya yang jenaka namun tetap berisi:
“Hadirin sekalian, kalau tadi bapak-bapak dan ibu-ibu bicara serius semua, izinkan saya yang melengkapi dengan candaan sedikit biar tidak kaku! Begini logikanya: kalau tamu datang ke Garut, pemandangannya sudah bagus, hiburannya sudah kami siapkan yang paling lucu—tapi kalau penampilannya belum terawat, kan sayang! Adik-adik lulusan LKP Elok ini kuncinya! Biar kami yang bikin tamu tertawa sampai perut kram, biar adik-adik sekalian yang bikin tamu terlihat menawan sampai malu pulang! Jangan sampai Disparbud lupa: tamu yang senyumnya lebar karena lucu, lalu makin percaya diri karena cantik—dia pasti pulang dengan hati senang dan dompetnya rela berbagi untuk Garut! Kalau ini diabaikan, sama saja kita menyajikan dodol tanpa gula—ada saja, tapi kurang nikmat! Yuk, kita bergerak bersama!”
Suasana ruangan seketika riuh dengan tawa, namun pesan mendalam beliau tersampaikan dengan jelas: keindahan, hiburan, dan keramahan adalah paket lengkap yang menjadikan pariwisata Garut Utara diminati.
Selanjutnya, Ketua Asosiasi Instruktur Senam dan Aerobik Indonesia (ASIAFI), Ibu Enur Nurhayati, menegaskan bahwa sektor kecantikan, kebugaran, dan pelayanan budaya merupakan satu ekosistem yang tak terpisahkan:
“Pariwisata tidak hanya soal melihat pemandangan. Tamu datang mencari kenyamanan, keindahan, kesehatan, dan keramahan yang utuh. Lulusan LKP Elok dan anggota ASIAFI adalah mitra strategis yang memastikan tamu pulang dengan kesan terbaik. Kami berharap Disparbud membuka ruang kemitraan resmi bagi asosiasi dan lembaga pelatihan seperti kami.”
Di penghujung acara, suasana haru mendadak menyelimuti seluruh ruangan. Keheningan tercipta ketika Ananda Naila, salah satu peserta didik terbaik, maju ke depan untuk menyampaikan pesan perpisahan dalam bentuk puisi. Kalimat demi kalimat yang terucap begitu tulus, menyayat hati, dan menyentuh relung jiwa, hingga membuat para tamu undangan, orang tua, dan seluruh hadirin tak kuasa menahan tangis:
"Kami bukan sekadar tangan yang merias wajah...
Kami adalah hati yang ingin menyentuh dunia.
Dari sudut desa yang sederhana ini,
Kami belajar menghargai setiap senyum yang kami bentuk.
Ibu, Bapak... lihatlah tangan kami.
Bukan tangan yang lelah, tapi tangan yang rindu dihargai.
Kami tak meminta kemewahan, tak meminta jabatan.
Kami hanya berharap: ketika kami melangkah pergi,
Jangan biarkan impian kami terbuang begitu saja.
Kami adalah benih yang telah disemai.
Jangan biarkan kami layu di tengah jalan.
Karena di balik wajah cantik yang kami ciptakan,
Tersimpan nasib kami, nasib keluarga kami,
Dan masa depan tanah kelahiran kami yang kami cintai.
Izinkan kami bersinar...
Bukan demi kami sendiri,
Tapi demi nama Garut Utara yang kami banggakan.
Jika kami tak diakui,
Maka biarlah air mata ini menjadi saksi:
Bahwa potensi terhebat pernah ada di sini,
Namun dibiarkan pergi tanpa tempat pulang..."
Seketika ruangan berubah haru. Isak tangis terdengar menyatu. Puisi sederhana namun penuh makna ini menjadi bukti nyata betapa besar harapan dan kerentanan yang tersimpan di hati para lulusan muda ini.
Berdasarkan kesepakatan dalam forum ini dan pesan mendalam dari para peserta didik, disampaikan harapan tegas kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut:
- Melakukan inventarisasi dan pengakuan standar kompetensi lulusan lembaga pelatihan masyarakat;
- Menyelaraskan kurikulum pelatihan lokal dengan kebutuhan industri pariwisata daerah;
- Melibatkan asosiasi profesi dalam penyusunan standar pelayanan dan promosi destinasi;
- Membuka akses kemitraan resmi antara pelaku pelatihan dengan pengelola destinasi wisata.
Peristiwa hari ini bukan sekadar pelepasan siswa, melainkan pemanggilan nyata bagi kebijakan daerah. Garut Utara telah menyediakan sumber daya manusia yang siap pakai, berlandaskan hukum, berjiwa budaya, dan penuh harap. Tugas pemerintah daerah selanjutnya adalah memberikan wadah, pengakuan, dan arah yang jelas.
Masa depan pariwisata Garut tidak hanya dibangun dari aspal dan bangunan, melainkan dari kualitas manusianya yang dihargai, didengar, dan diberdayakan.
Catatan Redaksi:
Berita ini disusun berdasarkan fakta acara, pernyataan resmi narasumber, pesan peserta didik, serta landasan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Redaksi menantang tanggapan resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut.
(M.A. Zakariyya S.E)









