• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Calon Ketua Golkar Garut: Anggaran Banyak Terkunci, Roda Ekonomi Desa Berhenti Berputar

    Rabu, 01 Juli 2026, Juli 01, 2026 WIB Last Updated 2026-07-01T11:06:00Z
    masukkan script iklan disini

    Garut - Opsjurnal.asia - Perbincangan santai usai sholat Dzuhur sambil menikmati kopi di Ruang Rubrik Gatra hari ini berubah menjadi peringatan keras yang mengguncang pola pikir pengelolaan keuangan daerah. Wakil Ketua Bidang Pemerintahan dan Infrastruktur PM GATRA — yang telah menyatakan maju sebagai calon Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Garut — melontarkan analogi sederhana namun menyayat hati mengenai kondisi ekonomi masyarakat saat ini.



    “Di sebuah desa, datanglah juragan membawa dana bantuan sebesar Rp20 juta. Sama besarnya, tapi nasibnya berbeda jauh,” buka beliau dengan nada tenang namun berisi penekanan mendalam.

     

    “Di Kampung A, uang itu hanya disalurkan kepada dua keluarga, masing-masing menerima Rp10 juta. Dalam sebulan, mereka hanya membelanjakan Rp2 juta ke warung sekitar. Sisanya? Rp16 juta utuh tersimpan rapat di lemari. Akibatnya? Warung sepi, tidak ada perputaran, dan ekonomi desa mati suri.”

     

    “Berbeda di Kampung B: dana yang sama dibagikan kepada sepuluh keluarga, masing-masing mendapat Rp2 juta. Seluruhnya habis dibelanjakan untuk kebutuhan di lingkungan sekitar. Warung ramai, pedagang senang, manfaatnya berantai dirasakan sampai ke lapisan terbawah.”

     

    Narasi ini bukan sekadar kisah kiasan, melainkan cermin nyata tata kelola yang sedang berjalan.

     

    “Fenomena ini persis seperti yang kita alami sekarang: dana yang seharusnya menghidupkan rakyat justru terkunci di bank, tertahan di lemari, atau hanya berputar di lingkaran kecil. Akibatnya? Usaha mikro mati, barang tidak laku, dan pelaku usaha terperosok ke kebangkrutan — padahal anggaran sudah disiapkan!” tegas beliau. Rabu, (1/07/26)

     

    Ditekankan kembali: Nilai uang negara tidak diukur dari besarnya angka yang dikeluarkan, melainkan dari seberapa luas manfaatnya dirasakan dan seberapa cepat berputar di tangan masyarakat. Jika hanya menguntungkan segelintir, itu bukan pembangunan, melainkan pembekuan potensi rakyat.

     

    Pernyataan ini menjadi landasan visi politiknya ke depan: “Jika dipercaya memimpin, saya pastikan setiap rupiah turun, berputar, dan menghidupkan ekonomi dari desa. Jangan biarkan angka di atas kertas besar, tapi rakyat di bawah kesulitan bernapas.”

     

    Kini analogi itu menjadi perbincangan hangat, menyisakan pertanyaan penting bagi kita semua: Apakah Garut hari ini lebih mirip Kampung A yang diam, atau Kampung B yang bergerak bersama?

    (M.A. Zakariyya S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini