• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Waketum PM Gatra Bidang Pemerintahan Dan Infrastruktur Deden Sopian: Jangan Menjadi Penonton Di Atas Tanah Sendiri

    Rabu, 24 Juni 2026, Juni 24, 2026 WIB Last Updated 2026-06-24T04:22:36Z
    masukkan script iklan disini

    Garut – opsjurnal.asia — Perjuangan menuju terbentuknya Daerah Otonom Baru (DOB) Kabupaten Garut Utara telah melintasi perjalanan panjang lebih dari satu dekade. Selama masa itu, seluruh tahapan politik, hukum, dan administratif telah ditempuh secara konstitusional, hingga kini berada di ambang pintu momentum krusial menjelang pencabutan kebijakan moratorium.

     

    Dalam perspektif kesiapan menyongsong babak baru ini, Deden Sopian, Wakil Ketua Umum PM GATRA Bidang Pemerintahan dan Infrastruktur, melontarkan peringatan tajam namun mendasar, mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk meninggalkan paradigma pasif dan beralih ke sikap proaktif yang bertanggung jawab.

     

    Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi pemaparan strategis di Ruang Dengar Pendapat Sekretariat PM GATRA, Rabu (24/6/2026), sebagai kelanjutan logis dari serangkaian pemikiran yang telah disampaikan sebelumnya — mulai dari analisis kebijakan, kesiapan data dan informasi, hingga nilai-nilai pembentukan karakter sumber daya manusia.

     


    “Bahaya terbesar dalam perjalanan ini bukanlah keterlambatan waktu, melainkan ketidaksiapan kita sendiri saat kesempatan akhirnya terbuka lebar. Menunggu bukan berarti diam tanpa langkah; justru masa transisi ini harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi nyata, bukan sekadar menanti keputusan dari luar,” tegas Deden Sopian dengan nada tegas dan penuh wibawa.

     

    Ia menegaskan bahwa masa perdebatan pro dan kontra telah berlalu. Seluruh syarat substantif dan administratif telah dipenuhi, dukungan politik dan kesepakatan warga telah tercatat, sehingga kini bukan lagi waktunya memperdebatkan apakah layak atau tidak, melainkan bagaimana memastikan kesiapan menyongsong realitas baru.

     

    “Jika kita masih sibuk memperdebatkan hal yang telah menjadi kenyataan, kita hanya membuang waktu berharga. Ini ibarat orang yang terus bertanya kapan rumahnya selesai dibangun, namun tidak pernah bersiap menata isinya untuk ditempati. Kita harus mengubah arah pikiran: bukan lagi kapan Garut Utara berdiri?, melainkan apa yang telah kita persiapkan agar ia dapat berdiri kokoh dan melayani rakyatnya dengan baik?,” ungkapnya.

     

    Pesan paling mendasar yang disampaikan adalah peringatan agar putra-putri asli Garut Utara tidak kehilangan peran utama di wilayahnya sendiri saat otonomi diberlakukan.

     

    “Jangan sampai ketika pintu kesempatan terbuka — mulai dari ruang kepemimpinan, peluang usaha, pengelolaan sumber daya, hingga akses pembangunan dan pelayanan publik — semuanya dikuasai oleh pihak yang lebih siap dan tangkas, sementara kita hanya berdiri mengamati dari pinggir. Itulah kerugian strategis yang paling sulit untuk diperbaiki di kemudian hari,” tandasnya.

     

    Menurutnya, kesiapan harus diwujudkan dalam enam aspek utama yang saling berkaitan:

     

    - Sumber Daya Manusia: Meningkatkan kualifikasi, keahlian, dan kompetensi agar mampu mengemban tugas pelayanan publik dan kepemimpinan dengan tanggung jawab;

    - Ekonomi dan Usaha: Membangun fondasi ekonomi lokal yang kuat dan berdaya saing agar dapat menjadi penopang utama keberlangsungan daerah;

    - Pemerintahan dan Tata Kelola: Memahami sepenuhnya mekanisme otonomi, sistem perencanaan, dan pengelolaan aset daerah secara tertib dan transparan;

    - Pembangunan dan Tata Ruang: Menyiapkan konsep pembangunan yang terarah, berkelanjutan, dan berpihak sepenuhnya pada kesejahteraan rakyat;

    - Persatuan Sosial: Memperkuat ikatan kebersamaan agar tidak terpecah belah oleh kepentingan sesaat yang bersifat sementara;

    - Pola Pikir: Beralih dari sikap pasif menjadi pelaku aktif yang turut menentukan arah masa depan wilayahnya sendiri.

     

    Deden Sopian mengaitkan pandangannya dengan seluruh rangkaian persiapan yang telah dilakukan selama ini.

     

    “Prinsip kesederhanaan, ketekunan, dan kesiapan yang diajarkan lembaga pendidikan seperti Yayasan Al-Huda, semangat menyusun data dan informasi yang akurat, serta pemantapan dari sisi kepemerintahan — semuanya akan kehilangan makna jika tidak diiringi oleh kesadaran bertindak. Sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling lantang berbicara, melainkan siapa yang paling siap dan berdiri tegak saat waktunya tiba,” tegasnya.

     

    Sebagai penutup, ia melontarkan ajakan yang menggugah kesadaran bersama:

     

    “Kita boleh menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat, tetapi kita tidak boleh menunggu dengan tangan kosong. Garut Utara adalah tanah tempat kita dilahirkan, dibesarkan, dan menaruh harapan; maka kitalah yang wajib menjadikannya tempat yang makmur dan bermartabat. Mari buktikan bahwa kita adalah tuan rumah yang siap memimpin dan mengelola, bukan tamu yang hanya menyaksikan perjalanan dari luar. Jadikan setiap langkah persiapan hari ini sebagai bekal, agar ketika otonomi tiba, kita bukan sekadar hadir, melainkan memegang kendali atas nasib kita sendiri.”

    M.A. Zakariyya, S.E.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini