• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Sebuah Tinjauan Sejarah yang Menggetarkan: Kajian Oos Sopyadin S.E., M.M Jejak Peradaban, Pertemuan Tradisi, dan Kearifan Leluhur

    Selasa, 16 Juni 2026, Juni 16, 2026 WIB Last Updated 2026-06-16T03:06:05Z
    masukkan script iklan disini

    Garut.Opsjurnal.asia - Waktu bukan sekadar hitungan angka yang berjalan tanpa makna. Bagi mereka yang memahami rahasia alam dan warisan leluhur, waktu adalah cermin peradaban, jembatan masa lalu ke masa depan, dan bukti kecerdasan nenek moyang yang patut kita lestarikan. Di tengah beragam sistem penanggalan yang kita kenal, dua di antaranya menyimpan kisah paling mendalam: Kalender Saka dan Kalender Jawa.

     

    Dalam wawancara khusus yang dilakukan melalui sambungan telepon hari ini oleh awak media Opsjurnal.asia, Kang Oos Sopyadin, S.E., M.M — pemerhati kesejarahan dan budaya — menguraikan seluk-beluk, perbedaan, serta makna tersirat dari kedua sistem penanggalan tersebut dengan gaya bahasa yang mengalir, penuh rasa, dan mengajak kita merenung.

     


    “Bagi orang awam, kalender hanya dipakai untuk melihat hari dan tanggal. Namun bagi yang memahami, ia adalah perjanjian antara langit dan bumi, buku besar sejarah yang menceritakan bagaimana leluhur kita mengamati gerak bintang, membaca musim, dan menyatukan hikmah dari berbagai tradisi menjadi pedoman hidup yang harmonis,” ujar Kang Oos membuka pembicaraan. Selasa, (16/06/26)


    KALENDER DI PERSIMPANGAN PERADABAN

     

    Sebelum menelusuri lebih jauh, Kang Oos mengajak kita melirik ke masa lampau yang jauh, untuk melihat bahwa bangsa-bangsa di dunia telah lama memiliki kepekaan terhadap waktu.

     

    “Kalender tertua yang tercatat di dunia adalah Göbekli Tepe di Turki Selatan, berusia sekitar 12.000 tahun, berupa pilar batu berukir yang mencatat pergerakan matahari. Disusul Kalender Warren Field di Skotlandia, Kalender Babilonia, hingga Kalender Imlek yang masih lestari sampai sekarang. Melihat fakta ini, kita pun makin bangga mengetahui bahwa leluhur Nusantara juga memiliki kecerdasan yang setara — jeli membaca alam, pandai menghitung siklus, dan menciptakan sistem waktu yang sesuai dengan jati diri kita,” jelasnya.


    KALENDER SAKA: JEJAK KEKUASAAN DAN WARISAN MASA KEEMASAN

     

    Kalender Saka tak dapat dilepaskan dari legenda tokoh besar bernama Aji Saka, yang namanya diabadikan sebagai sebutan tahun ini. Sistemnya masuk ke Nusantara seiring berkembangnya ajaran Hindu-Budha, lalu berpadu dengan pengetahuan lokal yang dikenal sebagai sistem Pawukon.

     

    “Secara teknis, Kalender Saka menggunakan perhitungan matahari atau surya. Bukti penggunaannya paling tua tercatat pada Prasasti Kedukan Bukit peninggalan Kerajaan Sriwijaya, bertahun 605 Saka yang setara dengan 683 Masehi. Jadi selisih antara tahun Saka dan Masehi selalu tetap 78 tahun,” paparnya.

     

    Dalam sistem ini terdapat 12 nama bulan yang berasal dari bahasa Sanskerta: Cetramasa, Wesakhamasa, Jyesthamasa, Asadhamasa, Srawanamasa, Bhadrawadamasa, Asujimasa, Kartikamasa, Margasiramasa, Paushamasa, Maghamasa, dan Phalgunamasa. Pergantian tahunnya diperingati umat Hindu sebagai Hari Raya Nyepi, momen hening dan penyucian diri lewat Catur Brata Penyepian.


    KALENDER JAWA: MAHAKARYA SULTAN AGUNG, PERSATUAN DALAM PERBEDAAN

     

    Jika Kalender Saka adalah warisan masa lalu, maka Kalender Jawa adalah karya agung hasil pemikiran bijak yang menyatukan dua dunia. Ia lahir pada masa kekuasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja ketiga Kerajaan Mataram Islam.

     

    “Ini adalah peristiwa bersejarah yang luar biasa! Pada hari yang sangat istimewa, Jumat Legi, saat tahun berganti ke 1555 Saka — bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah dan 8 Juli 1633 Masehi — Sultan Agung melakukan terobosan besar. Beliau tidak menghapus angka tahun Saka, tapi mengubah cara perhitungannya: dari yang semula mengikuti matahari, disesuaikan menjadi mengikuti peredaran bulan seperti dalam Kalender Hijriyah,” ungkap Kang Oos dengan nada penuh kekaguman.

     

    Alasannya sangat jelas: di tengah masyarakat yang mulai banyak memeluk Islam, sering terjadi ketidaksesuaian antara perayaan adat dan hari besar agama karena beda sistem hitungan. Maka terciptalah Kalender Jawa, atau yang juga disebut Kalender Sultan Agungan.

     

    Keunikan ini terasa dalam siklus waktunya: ada Saptawara (tujuh hari: Ngahad, Senen, Selasa, Rebo, Kemis, Jemuwah, Setu) dan Pancawara (lima hari pasaran: Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage). Pertemuan keduanya melahirkan Weton, yang dipercaya membawa karakter dan energi tersendiri. Nama-nama bulannya pun diubah menjadi istilah yang lebih akrab: Sura, Sapar, Mulud, Bakdamulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, dan Besar.


    MEMAHAMI PERBEDAAN, MENJAGA KEUTUHAN

     

    Kang Oos menegaskan bahwa membedakan kedua kalender ini bukanlah untuk mencari mana yang lebih benar, melainkan untuk memahami konteks sejarah dan kekayaan budaya yang kita miliki.

     

    “Kalender Saka adalah jejak masa keemasan kerajaan Hindu-Budha, tetap lestari dan menjadi identitas umat Hindu. Kalender Jawa adalah wujud akomodasi bijak, mempertahankan akar budaya sekaligus menyesuaikan dengan nilai agama yang dianut. Ada catatan menarik pula: wilayah Banten tidak menerapkan sistem ini secara luas, hal ini mengingatkan kita bahwa budaya mengalir seperti air, kadang berbelok mengikuti alur tanahnya, namun tetap membawa hikmah yang sama,” tambahnya.

     

    WILUJENG TEPUNG TAUN ANYAR 1 SURO 1960 JAWA

     

    Menutup wawancara melalui telepon tersebut, Kang Oos menyampaikan keterangan terkait pergantian tahun yang akan segera tiba.

     

    “Berdasarkan penetapan resmi dari Kementerian Agama RI, 1 Sura 1960 Jawa jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Namun menurut kebiasaan tradisi, hari dimulai sejak matahari terbenam, sehingga sejak malam Selasa 16 Juni 2026, kita sudah memasuki tanggal 1 Sura dengan weton Rabu Kliwon, yang dikenal sebagai Weton Tulang Wangi. Maknanya: keteguhan hati yang tetap mulia dan harum. Semoga pergantian tahun ini membawa kita semua memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan memulai lembaran baru yang lebih baik. Wilujeng Tepung Taun Anyar, semoga senantiasa Rahayu — selamat, sejahtera, dan diberkahi hingga akhir hayat,” pungkasnya mengakhiri percakapan.


    (M.A. Zakariyya, S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini