Garut.Opsjurnal.asia - Pembangunan daerah yang berkelanjutan tidak terlepas dari kemampuan mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Demikian prinsip dasar yang disampaikan Deden Sopian, Ketua Umum FK2PMD sekaligus Wakil Ketua PM GATRA, saat dihubungi melalui sambungan telepon dalam sesi jajak pendapat di Rubrik Gatra, Selasa 16 Juni 2026.
Mengusung tema “Mimpi Indah yang Lebih Luas”, ia menegaskan kemajuan harus dimulai dari perubahan pola pikir, yaitu beralih dari keterbatasan pengetahuan menuju kemampuan memanfaatkan peluang demi kesejahteraan bersama.
“Masyarakat membutuhkan perbaikan kondisi ekonomi agar dapat hidup sejahtera. Pemerintah bertugas mengarahkan, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utamanya. Ekonomi mikro, kecil, dan menengah harus menjadi prioritas pengembangan, karena dari sanalah kekuatan ekonomi daerah sesungguhnya tumbuh,” ujarnya.
EKONOMI BERAKAR DARI TINGKAT BAWAH
Menurut Deden, pertumbuhan ekonomi yang kuat dan stabil harus bertumpu pada perkembangan di tingkat paling dasar. Peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menjadi indikator utama, dan di Garut sektor pertanian serta peternakan merupakan andalan yang memiliki peluang sangat besar.
“Garut memiliki keunggulan alam berupa tanah yang subur dan akses pasar yang luas. Bahkan beras Garut sudah dikenal sebagai produk berkualitas tinggi. Ini adalah modal berharga yang akan memberikan hasil maksimal jika dikelola dengan baik dan terarah,” jelasnya.
PRODUKSI BISA MENINGKAT 35 PERSEN
Saat ini, luas lahan sawah beririgasi teknis di Kabupaten Garut mencapai 38.000 hektare, yang memungkinkan pola tanam hingga tiga kali dalam setahun. Pada tahun 2025, rata-rata hasil panen tercatat 5 ton gabah per hektare per musim, dengan total produksi sekitar 550.000 ton per tahun.
“Jika dibandingkan dengan hasil panen di daerah pengembangan baru yang bisa mencapai 9 ton per hektare, masih ada ruang peningkatan yang cukup lebar. Kalau Garut hanya mampu naik menjadi 7 ton per hektare saja, produksi akan bertambah menjadi 800.000 ton per tahun. Secara nilai, ini saja sudah menambah PDRB sebesar Rp1,7 triliun hanya dari komoditas padi. Jika dikembangkan juga jagung dan kedelai dalam program PAJALE, potensi kenaikannya bisa mencapai sekitar Rp3 triliun,” paparnya.
Rincian perhitungannya:
- Hasil produksi saat ini: 550.000 ton × Rp6.500.000 = Rp3,575 triliun
- Target peningkatan: 800.000 ton × Rp6.500.000 = Rp5,2 triliun
- Selisih pertambahan nilai: Rp1,7 triliun
Ia menyambut baik dukungan pemerintah pusat berupa pupuk bersubsidi, penyediaan benih unggul, serta jaminan penyerapan hasil panen oleh Bulog dengan Harga Pembelian Pemerintah yang menguntungkan petani.
TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAN PERUBAHAN POLA PIKIR
Menanggapi pertanyaan mengenai hambatan pelaksanaan dan kesiapan sumber daya, Deden memberikan jawaban tegas:
“Itulah yang harus didorong dan diwujudkan oleh pemerintah serta Pemda, dengan memanfaatkan sumber daya yang telah digaji dari keringat rakyat. Makanya, sudah waktunya kita segera beralih dari keterbelakangan pola pikir menuju cara pandang yang lebih maju dan membangun.”
Ia menambahkan, di setiap desa sudah tersedia tenaga pendamping seperti penyuluh pertanian, Babinsa, perangkat desa, serta kelompok tani yang jumlahnya cukup memadai. Jika dikoordinasikan dengan baik, target tersebut sangat mungkin dicapai.
DAMPAKNYA TERASA HINGGA KE PELOSOK
Peningkatan nilai ekonomi sebesar itu akan menimbulkan efek berantai yang meluas dan merata. Berbeda dengan keuntungan usaha besar yang sering terkonsentrasi pada sebagian pihak, hasil dari sektor pertanian akan menyebar hingga ke tingkat desa.
“Logikanya jelas: Pendapatan petani naik → daya beli masyarakat meningkat → pasar dan usaha lokal hidup kembali, mulai dari warung kampung, transportasi, hingga sektor kuliner dan pariwisata. Pada akhirnya tercipta kehidupan yang makmur, pendapatan kas daerah bertambah, dan masyarakat dapat menjalani kehidupan serta beribadah dengan hati yang tenang,” pungkasnya.
Kajian ini diharapkan menjadi acuan sekaligus dorongan agar potensi besar yang dimiliki Garut segera diwujudkan menjadi kesejahteraan yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
(M.A. Zakariyya, S.E)

