• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Kaya di Statistik, Belum Tentu di Kantong Warga Bojonegoro

    Kamis, 04 Juni 2026, Juni 04, 2026 WIB Last Updated 2026-06-04T16:58:21Z
    masukkan script iklan disini


    Bojonegoro, Jatim | OpsJurnal.Asia.
    Opini publik, - Kabupaten Bojonegoro kerap dipuji sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Jawa Timur.

    PDRB per kapita telah menembus Rp76,81 juta per tahun atau lebih dari Rp6 juta setiap bulan.

    Namun kemegahan angka makro itu tidak sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

    Data konsumsi menunjukkan pengeluaran warga hanya sekitar Rp1,19 juta per kapita setiap bulan.

    Angka tersebut menjadi ukuran nyata kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

    Posisi itu tidak terpaut jauh dari rata-rata nasional meski Bojonegoro menikmati migas bernilai triliunan.

    Bojonegoro tidak kekurangan angka pertumbuhan ekonomi yang mengesankan dari tahun ke tahun.

    Yang masih menjadi pertanyaan adalah seberapa besar pertumbuhan itu benar-benar mampir ke kantong warga desa.

    Ketika PDRB melesat berkat migas, pengeluaran masyarakat menunjukkan gambaran yang jauh lebih sederhana.

    Ekonomi tumbuh tinggi, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya mengalir ke rumah tangga masyarakat luas.

    Pertumbuhan ekonomi melesat, sedangkan kemampuan belanja warga bergerak jauh lebih lambat.

    Kemakmuran yang tampak dalam statistik belum tentu terasa di meja makan masyarakat sehari-hari.

    PDRB dapat melonjak karena produksi migas, tetapi daya beli warga belum tentu ikut meningkat.

    Lapangan kerja produktif dan industri pengolahan belum berkembang secepat sektor ekstraktif daerah.

    Nilai tambah ekonomi masih banyak dinikmati di luar Bojonegoro dibanding berputar di dalam daerah.

    Jagung dipanen petani Bojonegoro, tetapi pengolahan dan keuntungan lebih besar dinikmati daerah lain.

    Hasil pertanian keluar sebagai bahan baku, bukan sebagai produk jadi bernilai ekonomi lebih tinggi.

    Perbandingan dengan daerah tetangga menjadi penting untuk mengukur kualitas pertumbuhan ekonomi.

    Kabupaten Tuban juga memiliki migas, namun tantangannya sama yaitu memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat.

    Kabupaten Blora menghadapi persoalan serupa, yakni bagaimana kekayaan sumber daya menjadi kesejahteraan warga.

    Kabupaten Lamongan lebih bertumpu pada perdagangan dan perikanan yang langsung menggerakkan ekonomi rakyat.


    Kabupaten Ngawi dan Nganjuk mengandalkan sektor pertanian yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

    Terlebih Kabupaten Jombang berkembang melalui perdagangan, jasa, pendidikan, dan aktivitas ekonomi yang lebih beragam.

    Jika daerah-daerah tetangga mampu menciptakan daya beli lebih tinggi, pertanyaan besar pun muncul.

    Apakah kekayaan migas Bojonegoro benar-benar berputar di kantong masyarakat atau hanya di statistik?

    Bojonegoro bisa saja menjadi raksasa dalam angka ekonomi, tetapi belum tentu dalam daya beli warga.

    Risikonya, daerah terlihat kaya di atas kertas namun belum kuat menciptakan kesejahteraan merata.

    Migas tercatat sebagai kekuatan ekonomi, tetapi manfaatnya belum dirasakan secara seimbang.

    Pertanyaan kritisnya sederhana, jika daerah kaya mengapa belanja warga masih sekitar Rp1 jutaan?

    Jawabannya mungkin bukan pada besarnya kekayaan daerah, melainkan pada distribusi manfaat ekonomi.

    Kemakmuran sejati tidak diukur dari tingginya PDRB yang terpampang dalam laporan tahunan.

    Kemakmuran sejati hadir ketika daya beli naik, pekerjaan berkualitas tercipta, dan industri tumbuh.

    Tujuannya agar uang dari sumber daya alam lebih lama berputar di Bojonegoro sendiri.

    Jika tidak, kekayaan migas hanya menjadi angka besar dalam statistik tanpa dampak merata bagi rakyatnya. [Agus].
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini