Garut, Opsjurnal.asia – Nama Drs. Rd. Sesep Kohar, M.Pd tercatat sebagai salah satu tokoh pelopor dalam perjuangan pembentukan Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Kabupaten Garut Utara. Sosok yang lahir di Garut pada 17 Agustus 1968 ini dikenal sebagai figur yang tumbuh dari lingkungan masyarakat pedesaan, dengan latar belakang di bidang pemerintahan desa, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Beliau wafat pada 19 Desember 2013, namun pemikiran dan jejak perjuangannya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah cita-cita masyarakat Garut Utara.
Gagasan pembentukan Garut Utara pada masa awal tumbuh dan berkembang berkat semangat musyawarah yang digagas oleh almarhum bersama dua rekannya, Uu Amrullah (Alm) dan Idit. Ketiganya menjadi motor penggerak konsolidasi di tingkat akar rumput, membangun komunikasi dan kesepahaman bersama para kepala desa, tokoh masyarakat, pemuda, akademisi, serta berbagai elemen lain yang ada di wilayah tersebut.
Dasar pemikiran yang dibawa Sesep Kohar berangkat dari realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurut pengamatannya, wilayah utara Garut selama puluhan tahun mengalami ketimpangan pembangunan dan belum mendapatkan perhatian yang sebanding dibandingkan wilayah lain di Kabupaten Garut. Padahal, menurutnya, Garut Utara menyimpan potensi besar dari sisi sejarah, budaya, pertanian, perdagangan, pendidikan, hingga kekayaan sumber daya manusianya yang belum tergarap secara maksimal.
*Perjuangan untuk Keadilan dan Sejarah*
Bagi almarhum, memperjuangkan terbentuknya daerah otonomi baru bukanlah semata-mata soal pembagian wilayah administrasi. Lebih dalam, hal itu dipandang sebagai perjuangan moral dan konstitusional yang bertujuan mendekatkan jangkauan pelayanan pemerintah, mempercepat pemerataan hasil pembangunan, menampung aspirasi rakyat, sekaligus mengangkat kembali harkat dan martabat sejarah peradaban wilayah tersebut.
Ia kerap menekankan posisi penting Garut Utara dalam catatan sejarah, khususnya wilayah Limbangan. Dijelaskannya, kawasan tersebut pernah menjadi pusat pemerintahan sebelum ibu kota kabupaten dipindahkan ke wilayah Garut pada tahun 1813 di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kesadaran sejarah ini terus disampaikannya kepada masyarakat, agar tidak memandang wilayahnya sebagai daerah pinggiran, melainkan sebagai bagian penting yang memiliki akar panjang dalam kelahiran Kabupaten Garut.
*Rekam Jejak Pengabdian*
Latar belakang pendidikan almarhum ditempuhnya mulai dari Sekolah Dasar Negeri Cigagade, dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Limbangan, SMA Negeri Cicalengka, hingga meraih gelar sarjana di IKIP Bandung jurusan Sastra Jepang dan menamatkan pendidikan magisternya di UNINUS jurusan Pendidikan.
Pengabdiannya di bidang organisasi dan kemasyarakatan juga sangat panjang. Selama kurang lebih 14 tahun, ia dipercaya memegang jabatan sebagai Kepala Desa Cigagade. Pengalaman itu kemudian melandasi kiprahnya di tingkat yang lebih luas, antara lain sebagai Sekretaris APDESI Kabupaten Garut, Ketua Umum Forum Tutor Nasional, Ketua Umum Forum Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), hingga Ketua Gerakan Anti Narkotika (GANK) Kabupaten Garut.
Dalam pergerakan pemekaran, perannya semakin sentral. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua II Bidang Pemekaran Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA) di bawah kepemimpinan Rd. H. Holil Aksan Umarzen. Bahkan, ia juga ditunjuk sebagai Ketua Panitia Percepatan Pembentukan Kabupaten Garut Utara (P3KGU), posisi yang diembannya hingga akhir hayatnya.
Rumah kediamannya di Cigagade pun menjadi saksi sejarah. Tempat itu dijadikan sebagai salah satu pusat sekretariat gerakan, menjadi lokasi berkumpulnya tokoh, tempat penyusunan gagasan, penyelenggaraan sosialisasi, serta persiapan menuju momen deklarasi cita-cita Garut Utara.
*Warisan Semangat untuk Generasi*
Drs. Rd. Sesep Kohar dikenang sebagai sosok yang piawai menjalin silaturahmi, giat memberdayakan masyarakat, dan senantiasa mengedepankan prinsip musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan. Ia percaya sepenuhnya bahwa masyarakat Garut Utara berhak mendapatkan pemerataan pembangunan, kemudahan akses layanan publik, dan masa depan yang lebih baik.
Ia meninggalkan istri tercinta, Hj. Leli Heliawati, S.Pd.I., M.Si yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua III STEI YAPISHA Garut, beserta lima orang anaknya.
Hingga saat ini, seluruh catatan dan dokumen perjuangan almarhum telah didokumentasikan secara resmi di Sekretariat PM GATRA sebagai bagian dari arsip sejarah perjalanan cita-cita masyarakat Garut Utara. Meskipun telah tiada, semangat dan pemikiran yang dibawanya terus hidup dan menjadi salah satu landasan perjuangan yang masih berlanjut hingga kini.
(M.A.Zakariyya S.E)

