Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Opini - Kabupaten Bojonegoro pernah bermimpi menjadi raksasa industri setelah ledakan migas mengubah wajah ekonomi daerah secara drastis.
APBD yang melimpah membuat pembangunan bergerak cepat, jalan mulus, gedung berdiri, dan belanja pemerintah terus membesar.
Namun di balik kekayaan itu, investasi swasta besar justru belum benar-benar menjadikan Bojonegoro tujuan utama.
Data investasi 2026 menunjukkan Bojonegoro masih tertinggal dibanding kawasan industri utama Jawa Timur lainnya.
Investor lebih memilih Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo karena logistik matang serta ekosistem industrinya sudah kuat.
Bojonegoro memiliki uang besar, tetapi belum berhasil membangun daya tarik ekonomi yang benar-benar kompetitif.
Ekonomi daerah masih ditopang sektor konsumsi seperti makanan, perdagangan, jasa, dan pembangunan fisik proyek daerah.
Warung kopi tumbuh, pusat belanja ramai, dan uang beredar kuat karena efek belanja pemerintah dari sektor migas.
Namun ekonomi konsumsi tidak selalu berarti fondasi ekonomi jangka panjang sudah benar-benar terbentuk kuat.
Lapangan kerja yang lahir dari proyek konstruksi sering bersifat sementara dan berhenti ketika pembangunan selesai.
Berbeda dengan industri manufaktur yang mampu menciptakan pekerjaan formal, teknologi, dan keterampilan jangka panjang.
Ironisnya, daerah penghasil minyak ini justru belum memiliki hilirisasi industri migas yang benar-benar berkembang.
Minyak mentah keluar dari Bojonegoro, tetapi nilai tambah industrinya justru dinikmati daerah lain di luar sana.
Industri kimia, plastik, logam dasar, hingga manufaktur besar masih tumbuh sangat lambat bahkan nyaris nihil.
Bojonegoro masih menjadi daerah penghasil bahan mentah, belum menjadi pusat pengolahan dan produksi industri.
Jika situasi ini terus berlangsung, Bojonegoro berisiko terjebak dalam kutukan sumber daya berkepanjangan.
Hari ini APBD memang besar, tetapi minyak bumi bukan sumber daya yang akan terus tersedia selamanya.
Ketika produksi migas mulai menurun, kekuatan ekonomi daerah akan diuji dalam kondisi sebenarnya nanti.
Tantangan terbesar Bojonegoro kini bukan sekadar membangun proyek, melainkan membangun mesin ekonomi baru.
Daerah ini membutuhkan kawasan industri, jalur logistik kuat, dan sumber daya manusia yang lebih kompetitif.
Sebab masa depan Bojonegoro tidak boleh terus bergantung pada kekayaan yang diambil dari perut bumi. [Ags].

