Bojonegoro Jatim, OpsJurnal.Asia
Perjalanan mencari ilmu tidak dimulai dari kepandaian, tetapi dari kesediaan menahan lelah.
Sebab ilmu memilih hati yang sabar, bukan sekadar otak yang cerdas.
Lelah belajar, berat menghafal, dan panjangnya waktu menelaah adalah cara Allah membersihkan niat dari keinginan dipuji manusia.
Ketika ilmu mulai terasa banyak, manusia diuji oleh penyakit paling halus: merasa lebih tahu, lebih benar, dan lebih tinggi dari yang lain.
Pada titik itu, sebagian berhenti menjadi pencari dan berubah menjadi penghakim.
Lalu datang hidayah bagi yang dijaga. Hati disadarkan bahwa seluruh ilmu manusia hanyalah setitik air di hadapan samudera ilmu Allah.
Sejak saat itu, orang berilmu tidak lagi sibuk menang debat, tetapi sibuk memperbaiki diri.
Ia tidak mudah menyalahkan, karena sadar dirinya pun masih belajar setiap hari.
Ilmu yang benar melahirkan tawadhu. Semakin berisi, semakin merunduk, seperti padi yang matang.
Ilmu diperoleh dengan berguru. Keberkahan tumbuh melalui khidmah kepada orang saleh.
Manfaat hadir ketika ilmu diamalkan, bukan dipamerkan.
Jika hari ini merasa paling tahu, mungkin kita sedang jauh dari hikmah. Jika hari ini merasa banyak tidak tahu, mungkin itulah awal kebijaksanaan.
Salam hangat pagi ini… mari menenangkan hati sebelum menambah ilmu. [Ags].

