• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Gratis di Awal, Mahal di Akhir? Menguji Janji CKG di Bojonegoro

    Sabtu, 25 April 2026, April 25, 2026 WIB Last Updated 2026-04-25T03:25:16Z
    masukkan script iklan disini

        Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia

    Ajakan itu terdengar mulia, cek kesehatan gratis untuk semua. Namun di balik narasi, terselip tanya besar.

    Program CKG (Cek Kesehatan Gratis) diklaim sebagai langkah deteksi dini. Tapi sejauh mana ia menjangkau warga paling rentan?

    “CKG adalah strategi menekan risiko penyakit sejak awal dan mengurangi beban biaya di masa depan,” ujar Ninik Susmiati, Kadinkes Bojonegoro.

    Lewat siaran SAPA! jadi panggung edukasi publik. Tetapi, apakah sosialisasi cukup tanpa pemerataan akses nyata?

    Pihak Dinkes menyebut efisiensi biaya masa depan. Logis. Namun, realisasinya sering tak seindah konsep.

    “Kami menargetkan partisipasi luas masyarakat agar deteksi dini benar-benar berdampak,” tambah Ninik Susmiati, 24 April 2026.

    Target partisipasi dipasang tinggi. Hampir setengah warga harus terlayani dalam satu tahun anggaran.

    Capaian tahun sebelumnya dipuji sebagai prestasi. Tapi angka tak selalu merekam kualitas layanan di lapangan.

    “Puskesmas harus aktif, tidak hanya menunggu, tetapi turun langsung menjangkau masyarakat,” tegas Ninik Susmiati.

    Prestasi peringkat regional dibanggakan. Namun kesehatan publik tak semestinya diperlombakan dalam angka statistik.

    Setiap puskesmas dibebani target skrining mayoritas penduduk. Pertanyaan besarnya, cukupkah tenaga dan alat?

    CKG disebut bisa menopang peningkatan SDM. Termasuk menekan stunting dan TBC yang masih mengakar.

    Namun masalah kesehatan bukan sekadar skrining. Ia berkait pada sanitasi, gizi, dan ketimpangan ekonomi.

    “Layanan ini mencakup seluruh siklus hidup, dari bayi hingga lansia,” jelas dr. Aulia Mustika Devi, kepala puskesmas Kedungadem.


    Layanan dibagi per usia bayi hingga lansia. Tanpak sistematis, tapi berpotensi kaku jika tak adaptif kondisi lokal.

    Bayi diskrining sejak lahir. Ini langkah penting. Namun fasilitas diagnostik belum merata di seluruh wilayah.

    Balita dipantau tumbuh kembangnya. Tapi stunting tak selesai tanpa intervensi pangan dan lingkungan.

    Remaja diperiksa anemia dan gula darah. Tetapi edukasi gaya hidup sering kalah oleh realitas sosial.

    Dewasa mendapat skrining penyakit kronis. Namun tindak lanjut pengobatan sering jadi beban pribadi.

    “Deteksi dini akan efektif jika masyarakat rutin memeriksakan kesehatannya,” imbuh dr. Aulia Mustika Devi.

    Metode jemput bola digencarkan. Puskesmas turun ke lapangan menjangkau wilayah pinggiran.

    Namun pertanyaan klasik muncul, apakah anggaran cukup untuk mobilisasi berkelanjutan, bukan seremonial?

    CKG mengandalkan kesadaran warga. Tapi kesadaran tak tumbuh tanpa kepercayaan pada layanan publik.

    Deteksi dini memang penting. Namun tanpa sistem rujukan kuat, ia berhenti pada angka, bukan solusi.

    Pada posisi ini, program ini berdiri di antara niat baik dan tantangan struktural yang tak sederhana. [Ags].
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini