Ilustrasi
Bojonegoro, Jatim, OpsJurna.Asia-
Kelangkaan Elpiji subsidi 3 kilogram masih terjadi di Kecamatan Kanor hingga H+2 Idul Fitri 1447 Hijriah, memicu kesulitan warga memenuhi kebutuhan dapur.
Fenomena ini terlihat di sejumlah pangkalan pada Minggu 22 Maret 2026, ketika warga datang silih berganti mencari tabung gas melon namun sebagian besar pulang tanpa hasil.
Kondisi tersebut terjadi di beberapa desa di wilayah Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang selama dua hari pasca-Lebaran mengalami keterbatasan stok.
Warga menyebut distribusi Elpiji belum kembali normal setelah libur hari raya, sementara kebutuhan rumah tangga meningkat signifikan.
Siti (43), warga Kanor, mengaku telah mendatangi beberapa pangkalan sejak pagi, tetapi seluruhnya menyatakan stok belum tersedia.
“Sudah keliling tiga tempat, jawabannya sama, gas belum datang,” ujar Siti saat ditemui di jalan habis mencari Elpiji dari beberapa pangkalan.
Kelangkaan memaksa sebagian warga menunda aktivitas memasak atau membeli makanan siap saji untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Ahmad (38), warga setempat, mengatakan ia terpaksa membeli Elpiji dengan harga lebih tinggi di luar pangkalan resmi agar dapur tetap menyala.
“Kalau ada pun harganya naik, tapi tetap dibeli karena kebutuhan harian,” kata Ahmad menjelaskan kondisi yang dihadapinya.
Lonjakan konsumsi selama Lebaran disebut menjadi salah satu faktor meningkatnya permintaan Elpiji di tingkat masyarakat.
Namun warga menilai persoalan bukan hanya permintaan, melainkan kepastian distribusi yang belum merata hingga tingkat pangkalan.
Sejumlah warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera memastikan kelancaran pasokan agar aktivitas rumah tangga kembali normal.
“Kami hanya butuh kepastian stok supaya tidak harus mencari gas ke banyak tempat,” ujar Nurhadi, warga Kanor lainnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab kelangkaan maupun jadwal distribusi berikutnya. [Ags].

