Bojonegoro Jatim, OpsJurnal.Asia-
Pemkab Bojonegoro mengubah strategi penanganan TBC dari menunggu pasien menjadi aktif mencari kasus di masyarakat.
Target eliminasi TBC 2030 menjadi ujian serius sistem kesehatan daerah dalam menemukan kasus sebelum penularan meluas.
Selama bertahun-tahun, pendekatan pasif membuat banyak penderita tidak terdeteksi sehingga rantai penularan terus terjadi.
Dinas Kesehatan kini memperkuat deteksi dini melalui kolaborasi lintas sektor dan sosialisasi publik luas.
Program pencarian kasus aktif mulai berjalan April 2026 melalui seluruh jaringan 36 puskesmas di wilayah Bojonegoro.
Petugas kesehatan menyasar kelompok rentan seperti kontak erat pasien, penderita diabetes, HIV, dan perokok aktif.
Pemeriksaan dilakukan memakai portable X-ray berbasis kecerdasan buatan guna mempercepat proses skrining awal.
Teknologi ini diharapkan mampu menemukan kasus tersembunyi yang selama ini luput dari pemeriksaan rutin layanan.
Sub Koordinator Dinkes, Paiman, menegaskan eliminasi hanya tercapai jika penemuan kasus dilakukan secara agresif.
Menurutnya, menunggu pasien datang tidak lagi relevan menghadapi penyebaran TBC yang berlangsung diam-diam.
Dokter paru dr. Rizki Diah mengingatkan TBC merupakan infeksi bakteri yang wajib diobati secara medis hingga tuntas.
Pengobatan yang terhenti di tengah jalan berisiko memicu penularan lanjutan serta resistensi obat berbahaya.
Kelompok dengan daya tahan tubuh rendah menjadi populasi paling rentan terhadap infeksi dan komplikasi serius.
Lingkungan padat seperti pesantren, asrama, dan lembaga pemasyarakatan dinilai rawan mempercepat penularan.
Gejala seperti batuk lebih dua minggu, demam ringan, dan berat badan turun sering diabaikan oleh masyarakat.
Melalui deteksi dini dan partisipasi publik, pemerintah berharap penularan dapat ditekan sebelum 2030 tercapai.
Eliminasi TBC bukan sekadar angka statistik, tetapi ukuran kehadiran negara dalam melindungi kesehatan warga. [Ags].

