Longsor terjadi akibat hujan lebat yang disertai angin kencang, menyebabkan tanah dari dataran tinggi di sekitar lokasi ambruk ke tepi jalan raya. Material longsor berupa tanah, pasir, dan batu berukuran cukup besar menutup separuh badan jalan sepanjang kurang lebih 50 meter.
Akibat kejadian tersebut, arus lalu lintas sempat terganggu. Kendaraan dari dua arah terpaksa bergantian melintas di ruas jalan yang tersisa, memicu antrean dan meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua.
Dayat, salah seorang pengendara sepeda motor yang melintas di lokasi, menilai kondisi tersebut sangat membahayakan pengguna jalan.
“Material yang tumpah ke jalan sangat berbahaya dan rawan kecelakaan. Batu-batunya cukup besar. Jika pengendara tidak hati-hati, bisa tergelincir atau menabrak. Apalagi saat malam hari atau jika hujan turun lagi, jarak pandang pasti berkurang,” ujarnya.
Ia juga menyayangkan belum terlihat adanya penanganan cepat hingga Rabu (18/2/2026).
“Belum tampak perbaikan atau tindakan pembersihan dari tim gabungan seperti Satpol PP, BPBD, Dinas Bina Marga, DLH, atau dinas terkait. Kami berharap aparat pemerintah setempat segera bergerak sebelum ada korban,” tegas Dayat.
Lokasi tersebut diketahui bukan pertama kali mengalami longsor. Sebelumnya, peristiwa serupa terjadi pada 12 Agustus 2025 dan sempat ditinjau langsung oleh Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra.
Namun, longsor kembali terjadi di titik yang sama, sehingga memunculkan pertanyaan dari masyarakat terkait efektivitas penanganan teknis yang telah dilakukan.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi tanah di sekitar lokasi masih terlihat labil. Warga dan pengguna jalan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat melintas di kawasan Bengkong Harapan, terutama saat cuaca ekstrem.
Masyarakat juga mendorong pemerintah daerah segera mengambil langkah tanggap darurat serta melakukan penanganan permanen guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

