Warga Suku Anak Dalam Keluhkan
Konflik Lahan dan Putusnya Akses Jalan, Anak-anak Terpaksa Putus Sekolah
Batanghari, Jambi — OPS Jurnal Asia
Sejumlah warga Suku Anak Dalam (SAD) mengaku mengalami kesulitan akibat konflik lahan perkebunan yang telah berlangsung cukup lama. Mereka menyebut lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga terdampak aktivitas perusahaan perkebunan yang mereka kaitkan dengan PT Asiatic Persada, PT BDU, dan PT BSU.
Salah seorang warga SAD mengungkapkan, masyarakat merasa hak atas lahan yang mereka perjuangkan belum mendapatkan penyelesaian yang mereka harapkan. Menurut keterangannya, pada saat lahan digusur, masyarakat pernah dijanjikan adanya program kemitraan perkebunan. Namun, hingga kini warga mengaku janji tersebut belum terealisasi.
“Kami Suku Anak Dalam asli pribumi sangat sengsara. Lahan perkebunan kami digusur, sampai akses jalan kami juga diputus. Akibat kondisi itu, ada anak-anak kami yang sampai putus sekolah karena harus membantu orang tua mempertahankan hak-hak kami,” ujar salah seorang warga.
Warga tersebut juga menyampaikan bahwa proses penggusuran lahan pada saat itu disebut dilakukan dengan janji kemitraan. Namun, menurut pengakuan warga, hingga sekarang kemitraan yang dijanjikan belum mereka terima.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat merasa semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup, pendidikan anak, serta mempertahankan sumber mata pencaharian keluarga.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat turun langsung ke lapangan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat SAD serta mencari solusi yang adil dan sesuai dengan ketentuan hukum, termasuk menyelesaikan persoalan lahan dan merealisasikan hak-hak masyarakat apabila memang terdapat kesepakatan kemitraan sebelumnya.
OPS Jurnal Asia — Redaksi Alparezha
Catatan: Keterangan mengenai penggusuran dan janji kemitraan dalam berita ini merupakan pernyataan dari warga dan masih memerlukan konfirmasi dari pihak perusahaan serta instansi terkait.

