• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Museum Bumi Tanggulun Limbangan: Pondasi Kokoh Jejak Peradaban Dan Jati Diri Tanah Garut

    Jumat, 03 Juli 2026, Juli 03, 2026 WIB Last Updated 2026-07-03T02:46:07Z
    masukkan script iklan disini

    Tanggapan Khusus Kang Oos Supyadin, S.E., M.M. Terkait Kegiatan Ngalungsur Pusaka Indung

     

    Garut - Opsjurnal.asia - Kang Oos Supyadin, S.E., M.M. — Pemerhati Kesejarahan dan Budaya, sekaligus Koordinator Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat Kabupaten Garut — menyampaikan apresiasi mendalam dan pandangan berharga terkait pelaksanaan kegiatan Ngalungsur Pusaka Indung serta keberadaan Museum Bumi Tangulun di Kecamatan Limbangan. Bagi beliau, momentum ini bukan sekadar seremoni adat, melainkan bukti nyata kesadaran kolektif masyarakat untuk merawat akar sejarah dan peradaban yang telah melahirkan identitas kita.



    “Kegiatan Ngalungsur Pusaka Indung ini adalah cermin jernih kepedulian masyarakat Tatar Sunda, khususnya tanah Garut, terhadap kekayaan kesejarahan yang kita miliki. Ini bukan sekadar soal benda pusaka atau artefak kuno semata, melainkan upaya menghidupkan kembali ingatan kita terhadap nilai-nilai spiritual, kearifan lokal, serta ajaran luhur Kasundaan yang telah menjadi fondasi kehidupan leluhur kita selama berabad-abad,” ungkap Kang Oos dengan penuh penghayatan. Jumat, (4/7/26)

     

    Menurutnya, jejak sejarah berupa situs, naskah, benda cagar budaya, hingga tradisi lisan harus ditempatkan sebagai aset yang bernilai strategis. Oleh karena itu, pendokumentasian yang sistematis, perlindungan legalitas yang kuat, serta pengelolaan yang berkelanjutan adalah keharusan mutlak agar warisan ini tidak hilang ditelan zaman.


    Kang Oos menyoroti secara khusus keberadaan Museum Bumi Tangulun yang berlokasi di Kampung Cianten, Desa Ciwangi, Kecamatan Limbangan. Di bawah pengelolaan Ibu Hj. Ani Sumarni, M.Pd., museum ini telah menunjukkan keteladanan yang luar biasa.

     


    “Keberadaan museum ini adalah bukti nyata adanya pondasi yang kokoh bagi kesejarahan masyarakat Garut. Secara berkelanjutan, Ibu Ani dan jajarannya senantiasa konsisten menggelar kegiatan bernilai tinggi seperti Ngalungsur Pusaka Indung, yang sekaligus menjadi ajang silaturahmi, ruang sawala budaya, serta tempat mempertemukan pecinta sejarah, budaya, dan pemilik pusaka untuk memperlihatkan dan mempelajari kembali warisan leluhur. Keteguhan ini patut kita apresiasi dan dukung sepenuhnya,” tegasnya.


    Beliau mengingatkan kembali fakta sejarah yang mendasar: Limbangan adalah cikal bakal lahirnya pemerintahan Kabupaten Garut. Artinya, setiap upaya pelestarian di wilayah ini adalah upaya menjaga sumber asal-usul peradaban tanah Garut.

     

    “Maka sudah sewajarnya jika pemerintah daerah menempatkan pelestarian budaya dan sejarah ini sebagai prioritas utama. Dukungan kebijakan, penguatan perlindungan, serta pendampingan pengelolaan sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan warisan yang menjadi wajah dan harga diri kita ini. Jangan sampai kita melupakan tempat di mana kita pertama kali berjejak,” ujar Kang Oos.


    Kegiatan ini dinilai sangat strategis karena mampu mempertemukan beragam unsur: tokoh adat, seniman, akademisi, perwakilan pemerintah, hingga masyarakat luas. “Forum seperti inilah yang kita butuhkan. Sawala budaya tidak boleh berhenti di sini; harus terus dilanjutkan dengan tema-tema yang relevan, kontekstual, dan mampu menjawab tantangan zaman, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pemajuan kebudayaan Kabupaten Garut secara menyeluruh,” pungkasnya.

     

    (M.A. Zakariyya, S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini