• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Enok Sopiah, S.Pd, Sawala Nyai Tanggulun ke-10: Wanoja Gatra Laksanakan Prosesi Lungsur Pusaka Indung

    Rabu, 01 Juli 2026, Juli 01, 2026 WIB Last Updated 2026-06-30T23:59:56Z
    masukkan script iklan disini

    Garut - Opsjurnal.asia - Sebuah peristiwa sakral yang dinanti selama satu dasawarsa akhirnya memasuki tahap persiapan yang matang. Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA) secara resmi mengumumkan pelaksanaan Sawala Adat Budaya Nyai Tanggulun yang ke-10, sebuah ritual agung yang bukan sekadar seremoni belaka, melainkan tonggak sejarah bagi jati diri dan nilai luhur peradaban Tatar Sunda.




    Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Enok Sopiah, S.Pd, selaku Kepala Sub Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan PM GATRA, yang menegaskan bahwa gelaran ini memiliki makna mendalam sebagai upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus mengukuhkan peran strategis perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.

     

    Kepastian pelaksanaannya disepakati dalam pertemuan silaturahmi dan rapat koordinasi yang berlangsung khidmat namun penuh semangat, bertempat di Sekretariat PM GATRA pada Senin, 29 Juni 2026, pukul 15.30–17.30 WIB. Rapat dihadiri oleh unsur pimpinan, pemangku adat, tokoh budaya, serta jajaran pengurus dan perwakilan Wanoja Gatra.


    Menurut Enok Sopiah, S.Pd, kegiatan ini dirancang secara mendalam bukan hanya untuk keindahan tampilan, melainkan sebagai wahana pendidikan karakter yang mendasar dan menyeluruh.

     

    “Kami tidak hanya mengajak Wanoja Gatra untuk tampil dalam sebuah acara, tetapi melatih mereka memahami makna di balik setiap gerakan, setiap benda, dan setiap nilai yang terkandung di dalamnya. Ini adalah pendidikan hidup yang tidak diajarkan di ruang kelas biasa, melainkan pembelajaran langsung dari sumbernya sendiri — sejarah dan budaya leluhur,” tegasnya.

     

    Dalam rangkaian puncak acara, tujuh wanita terpilih akan membawa keris pusaka di atas wadah pipiti, melangkah dengan tata krama yang halus dan penuh penghormatan, serta melaksanakan Sungkeuman Indung sebagai bentuk bakti kepada Nyai Tanggulun — sosok legendaris yang berjasa besar menyebarkan ilmu, kebaikan, dan kedamaian di wilayah Ciwangi dan sekitarnya. Mengenakan busana adat Kebaya Lasminingrat, mereka mempertegas citra perempuan Sunda yang anggun, cerdas, teguh, dan berwawasan luas.

     

    Gelaran bersejarah ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 6 Juli 2026, pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, bertempat di Museum Nyai Tanggulun, Desa Ciwangi, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut. Sebanyak 100 undangan dari kalangan tokoh masyarakat, pemuka adat, akademisi, pemerhati budaya, dan pemangku kepentingan daerah dipersilakan hadir untuk menyaksikan momen langka ini.

     

    Dalam semangat kebersamaan yang khas masyarakat Sunda, penyelenggaraan didanai secara swadaya dan bergotong royong, mencerminkan jiwa persatuan yang menjadi denyut nadi kehidupan warga Garut Utara.


    Sebagai bagian dari pelaku utama prosesi bersejarah ini, dua perwakilan Wanoja Gatra menyampaikan tanggapan yang sarat makna dan kesungguhan.

     

    Lia Mulyanawati, S.Pd (Wanoja Gatra) menyatakan rasa bangga sekaligus tanggung jawab besar yang dipikulnya.

     

    “Menjadi bagian dari rangkaian Sawala Nyai Tanggulun ke-10 ini adalah kehormatan yang tidak ternilai bagi saya dan seluruh Wanoja Gatra. Kami menyadari sepenuhnya bahwa ini bukan sekadar tampil dalam sebuah acara, melainkan mengemban amanah leluhur untuk menjaga pusaka dan nilai-nilai yang telah diwariskan turun-temurun. Kami akan berlatih dengan sungguh-sungguh, memahami setiap makna gerakan dan simbol, agar prosesi ini berlangsung dengan khidmat dan sempurna, menjadi bukti bahwa perempuan Garut Utara tetap setia menjaga jati diri budayanya,” tegasnya dengan nada penuh keyakinan.

     

    Sementara itu, Sinta Virgianti, S.Pd menambahkan bahwa momen ini menjadi pendorong bagi generasi muda untuk lebih mencintai warisan daerah.

     

    “Kami menyambut baik kegiatan ini dengan hati yang lapang dan semangat yang tinggi. Sawala Nyai Tanggulun mengajarkan kami untuk mengenal akar sejarah sendiri, memahami falsafah hidup leluhur, dan menjadikan nilai luhur itu sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Harapan kami, melalui prosesi ini, generasi penerus dapat melihat bahwa identitas budaya adalah kekuatan yang tak tergantikan. Kami siap melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya, membawa nama baik Wanoja Gatra dan nama daerah tercinta,” ujarnya dengan penuh harap.

     

    Dadang Kurnia, Kepala Bagian Kesekretariatan PM GATRA, menambahkan bahwa acara ini menjadi jembatan penghubung antar-generasi. “Lewat Sawala Nyai Tanggulun, kita ingin generasi muda mengenal siapa leluhur kita, apa warisan yang dipercayakan kepada kita, dan bagaimana menjadikannya modal utama untuk membangun masa depan yang bermartabat. Ini adalah investasi jangka panjang bagi jati diri daerah,” ujarnya.

     

    Sebagai tindak lanjut strategis, sejumlah langkah segera dijalankan:

     

    - Menyusun susunan acara dan menunjuk pemandu dengan pemahaman budaya yang memadai;

    - Melaksanakan latihan intensif bagi tujuh Wanoja Gatra yang akan memerankan prosesi utama;

    - Memfinalisasi daftar tamu dan melakukan konfirmasi kehadiran;

    - Menyiapkan busana, atribut, dan perlengkapan adat sesuai standar nilai budaya yang berlaku.

     

    Sementara itu, Rachmansyah, S.Sos, selaku Pengarah Kegiatan, menegaskan bahwa peristiwa ini membuktikan kesungguhan PM GATRA dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan kelestarian tradisi.

     

    “Dunia terus bergerak dan berubah, namun jati diri tidak boleh ikut luntur. Sawala Nyai Tanggulun yang ke-10 ini akan tercatat dalam lembaran sejarah: selama Wanoja Gatra tetap berdiri tegak menjaga pusaka dan nilai luhur, maka peradaban Sunda akan terus abadi, memberi manfaat, dan menjadi kebanggaan bagi anak cucu mendatang,” pungkasnya.


    Ani Suhartini, M.Pd, tokoh budaya yang terlibat dalam penyusunan konsep acara, mengakhiri dengan penjelasan mendalam mengenai makna ritual tersebut:

     

    “Prosesi Melungsurkan Tujuh Pusaka Indung yang diperankan oleh tujuh Wanoja Gatra adalah perwujudan dari falsafah leluhur. Pusaka Indung melambangkan sumber kehidupan, kebijaksanaan, keseimbangan alam, dan keutuhan peradaban yang dititipkan untuk dijaga sepanjang masa. Ketika Wanoja Gatra melaksanakannya, ini adalah pernyataan tegas bahwa peran perempuan bukan hanya di lingkungan rumah tangga, melainkan garda terdepan penjaga warisan luhur agar tidak tergerus zaman,” ujarnya.

     

    Peristiwa ini kini menjadi sorotan luas, tidak hanya di lingkungan paguyuban, tetapi juga di kalangan akademisi dan pemerhati budaya, sebagai langkah berani yang mengangkat harkat perempuan sekaligus memuliakan sejarah dan identitas daerah.

    (M.A. Zakariyya S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini