• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Elin Marlina, S.E., Mojang PM Gatra: Perluas Edukasi Usaha, Pertimbangkan Kembali Pemberian Izin Gerai Mart Baru

    Kamis, 02 Juli 2026, Juli 02, 2026 WIB Last Updated 2026-07-01T17:19:20Z
    masukkan script iklan disini

    Garut - Opsjurnal.asia - Dalam perspektif ilmu ekonomi pembangunan, kemandirian daerah tidak hanya ditentukan oleh potensi sumber daya alam, melainkan seberapa efisien aliran nilai dari produsen ke konsumen serta seberapa luas dampak pengganda yang dihasilkan. Konsep ini menjadi landasan pelaksanaan program Sakola Ngawarung, sebuah inisiatif strategis yang diluncurkan atas inisiatif PT Sampoerna untuk Indonesia melalui kolaborasi kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Garut, di bawah payung Program C-LIVE (Community-Led Initiative for Versatile and Empowerment). Kegiatan ini turut dihadiri oleh Perwakilan PT Sampoerna, Anas Darmawan (Supervisor).

     


    Sebagai narasumber dalam kegiatan ini sekaligus Ketua Paguyuban Pelaku Usaha Toko Kelontong dan bagian dari Mojang PM Gatra, Elin Marlina, S.E. menegaskan bahwa program ini merupakan wujud konkret penerapan prinsip ekonomi partisipatif. “Pelaksanaan Sakola Ngawarung bersama SRC dan mitra strategis lainnya adalah upaya terarah untuk memperbaiki struktur rantai pasok usaha mikro, memperkuat kapasitas manajerial pelaku usaha, serta memastikan keunggulan komparatif produk lokal dapat bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya. Rabu, (1/07/26)


    Lebih lanjut, Mojang PM Gatra menyampaikan dua poin penting yang menjadi fokus utama dalam pengembangan sektor usaha mikro di Garut.

     


    Pertama, terkait perluasan akses pembelajaran: “Saya merekomendasikan kepada PT Sampoerna untuk memperluas jangkauan program edukasi manajemen keuangan dan pemasaran, tidak hanya bagi toko kelontong yang tergabung dalam jaringan SRC, melainkan juga bagi seluruh pelaku toko kelontong di Kabupaten Garut, baik anggota SRC maupun non-SRC. Hal ini selaras dengan kerja sama yang telah terjalin bersama Pemerintah Daerah Garut,” tegasnya.

     

    Kedua, terkait tata kelola persaingan usaha: “Saya juga telah menyampaikan permohonan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk mempertimbangkan kembali pemberian izin pendirian gerai mart baru di wilayah Kabupaten Garut. Alasannya secara ekonomi sangat mendasar: gerai mart memiliki keunggulan sistem manajemen serta skala modal yang jauh lebih besar, sehingga berpotensi menjadi pesaing yang sangat dominan bagi toko kelontong tradisional.”

     


    “Sebaliknya, keberadaan warung dan toko kelontong sebagai bagian dari ekosistem UMKM memberikan manfaat yang jauh lebih luas bagi masyarakat. Ketika ekonomi rakyat berbasis usaha mikro ini kuat, maka secara otomatis akan menunjang pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas pemerataan pendapatan, dan mendorong kesejahteraan rakyat yang produktif,” tambahnya dengan tegas.

     

    Secara empiris, wilayah Garut Utara menunjukkan indikasi kesiapan dan daya saing yang paling menonjol dalam ajang ini. Hal ini tercermin dari kemampuan menyajikan keragaman produk berbasis potensi lokal yang memiliki nilai tambah ekonomi tinggi.

     


    “Secara ekonomi, penempatan produk asli daerah di titik distribusi strategis adalah langkah memotong rantai perantara, sehingga nilai yang diterima produsen menjadi lebih optimal. Alhamdulillah, kita dapat menyaksikan berbagai komoditas unggulan tampil menonjol: mulai dari Jawaru khas Desa Padirwaru, Lapis Legit Ciwangi, Kopi Bung Pangereunan, Kicimpring Neglasari, Keripik Cai Dungus Wiru, hingga Noga Suuk andalan Limbangan,” jelas Mojang PM Gatra.

     

    Beliau menambahkan, meskipun persiapan dilakukan dalam kurun waktu yang relatif singkat, ketersediaan barang di jaringan toko lokal tetap terjaga dengan stabilitas yang baik. “Ini menunjukkan bahwa sistem pasokan berbasis komunitas memiliki ketangguhan adaptif. Ketersediaan produk yang beragam adalah bukti adanya keunggulan sumber daya dan semangat kewirausahaan yang menjadi modal dasar pertumbuhan ekonomi daerah.”

     

    Penerapan konsep Sakola Ngawarung berlandaskan pada teori bahwa pemberdayaan ekonomi berkelanjutan harus dimulai dari penguatan institusi terkecil, yaitu warung dan toko kelontong sebagai titik temu antara produksi dan konsumsi.

     

    “Melalui program ini, kita tidak sekadar menyediakan tempat berjualan, melainkan membangun sistem di mana setiap rupiah yang berputar di lingkungan masyarakat akan kembali berputar di wilayah yang sama — menciptakan efek pengganda yang memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga dan komunitas,” pungkasnya.

     

    Sinergi antara pihak swasta, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi, sehingga struktur ekonomi Garut menjadi lebih beragam, berdaya tahan, dan berakar kuat pada kearifan lokal.


    (M.A. Zakariyya S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini