Di antara deretan rumah warga Kampung Pajak, lingkungan Pulo Jantan, Kecamatan Na IX‑X, jual‑beli sabu‑sabu berjalan persis seperti transaksi pulsa dan voucer data: terbuka, cepat, tak sembunyi‑sembunyi. Di balik lalu‑lalang pembeli yang datang silih berganti, warga menunjuk satu nama besar "WD" yang dinilai bukan sekadar kurir, melainkan komandan jaringan yang mengatur stok, titik sebaran, dan gerak anggota beroperasi berbulan‑bulan tanpa tersentuh hukum. Selasa, 23 Juni 2026
Fakta ini makin mencoreng wajah penegakan hukum di Labura. Kini, WD melengkapi deretan sosok yang membuat warga bertanya tajam, apakah hukum di sini berlaku dua ukuran?
Warga sudah berulang kali lapor lisan maupun tulisan. Petugas pernah disisir, razia lewat sebentar namun esok pagi lokasi kembali ramai seperti pasar pagi. “Datang‑pergi saja, tak ada yang diamankan. WD tetap santai, anak muda makin gampang terjerat,” ujar tokoh warga dengan nada bercampur geram dan takut. Narkoba tak lagi bahaya dari hutan, tapi disodorkan persis di depan pagar rumah, dekat tempat bermain anak dan jalur warga beraktivitas.
Awak media berupaya mengonfirmasi langsung ke Kanit Reskrim Polsek Na IX‑X guna menelusuri alasan belum ada penindakan, dugaan keterkaitan kasus WD, serta langkah ke depan. Pesan dikirim, disampaikan, namun hingga berita diturunkan, Kanit Reskrim memilih bungkam seribu bahasa dan tak menggubris sama sekali.
Kebisuan aparat itu bukan diam biasa di mata masyarakat, ia makin menguatkan kecurigaan tajam yang mengendap lama:
🔹 Apakah razia yang ada sekadar sandiwara administrasi untuk laporan semata?
🔹 Apakah ada benang pelindung yang membuat komandan lapangan seperti WD, aman tanpa jeruji?
🔹 Di mana letak #PolriPresisi dan #PolriHumanis saat warga berteriak minta perlindungan nyata?
Orang tua di Pulo Jantan gelisah luar biasa jika dibiarkan berlanjut, bukan kemiskinan yang melenyapkan masa depan desa ini, tapi narkoba yang dijual terang‑terangan persis barang dagangan sah.
Tak lagi sekadar mengeluh, warga bersatu suara seruan tegas:
✅ Kepada Kapolres Labuhanbatu dan tim khusus Satres Narkoba: turun langsung, bongkar jejak lengkap jaringan WD, tangkap komandan beserta seluruh anak buahnya tepat di lokasi transaksi, kumpulkan barang bukti tak terbantahkan proses tuntas tanpa kompromi, siapa pun yang terlibat pelindung maupun pelaku.
✅ Kepada Kapolda Sumatera Utara: buktikan kepercayaan publik tak sia‑sia; periksa kinerja Polsek Na IX‑X dan jelaskan kenapa sosok‑sosok “kebal hukum” berjejer di wilayah ini sementara aparat bungkam saat ditanya.
✅ Kepada seluruh penegak hukum tak boleh sekadar atribut di seragam. Tak boleh cuma bisa bergerak saat aman, tapi diam saat warga butuh perlindungan paling nyata.
“Kami tak minta istimewa, cuma keadilan dan rasa aman. Kalau WD, terus berkuasa dan aparat diam saja, kepercayaan rakyat pada hukum benar‑benar mati,” tegas warga.
Berita ini diturunkan membawa catatan keras hingga detik ini, WD masih bebas bergerak, transaksi masih berjalan, dan jawaban aparat masih nol besar. Kalau dibiarkan terus‑menerus, yang hancur bukan sekadar nama satu polsek tapi masa depan seluruh desa di Labuhanbatu Utara.
Penulis : SAD
