• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Wanoja Garut Utara, Penjaga Peradaban Sunda: Pemikiran Strategis Pelestarian Budaya dalam Obrolan Santai di Grup Rubrik Gatra

    Selasa, 30 Juni 2026, Juni 30, 2026 WIB Last Updated 2026-06-30T04:53:04Z
    masukkan script iklan disini


    Garut - Opsjurnal.asia - Di tengah derasnya arus perubahan zaman dan pengaruh globalisasi yang terus meluas, upaya melestarikan warisan budaya leluhur menjadi tanggung jawab mendasar yang harus dipikul bersama. Kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, infrastruktur, maupun angka pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga dari kemampuan masyarakatnya memelihara identitas, nilai luhur, dan jati diri yang diwariskan secara turun-temurun.

     

    Pandangan ini disampaikan oleh Aep Saepudin, S.Ag., Wakil Ketua Umum PM GATRA Bidang Pendidikan, Sosial dan Budaya, dalam sesi obrolan santai yang berlangsung di Grup WhatsApp Rubrik Gatra pada Selasa, 30 Juni 2026.

     

    Menurutnya, dalam khazanah peradaban Sunda, kedudukan perempuan atau yang disebut wanoja menempati posisi yang sangat mulia dan strategis. Sejak masa lampau, perempuan Sunda tidak hanya berperan sebagai pendamping dalam kehidupan rumah tangga, melainkan juga sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya, penjaga kemurnian akhlak, pemelihara bahasa ibu, serta pewaris utama adat istiadat dan tata krama yang membentuk karakter masyarakat. Dari bimbingan seorang ibu lahir generasi yang mengenal budi pekerti, menghormati sesama, mencintai tanah kelahiran, dan memahami akar sejarah peradabannya.

     

    “Atas dasar itulah, keberadaan Wanoja Gatra memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar wadah organisasi perempuan. Ia menjadi ruang pengabdian yang diharapkan dapat menjadi penggerak utama pelestarian budaya Sunda di wilayah Garut Utara. Perannya tidak hanya mendukung kegiatan organisasi, melainkan menjadi pelaku sentral dalam menjaga fondasi nilai luhur yang telah menopang kehidupan masyarakat selama berabad-abad,” tegasnya.

     

    Rencana penyelenggaraan kegiatan Sawala Budaya Sunda dinilai sebagai langkah yang sangat strategis. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni adat atau pertunjukan semata, melainkan wahana pendidikan karakter, ruang silaturahmi antargenerasi, serta sarana memperkuat rasa cinta masyarakat terhadap sejarah dan warisan para karuhun atau leluhur.

     

    Prosesi budaya seperti Melungsurkan Tujuh Pusaka Indung, Sungkeuman Indung, serta penggunaan busana Kebaya Lasminingrat bukanlah simbol kosong. Di dalamnya terkandung makna mendalam tentang penghormatan kepada asal-usul kehidupan, penghargaan terhadap perempuan sebagai sumber kelestarian peradaban, serta komitmen menjaga nilai-nilai yang telah membentuk identitas masyarakat Sunda selama berabad-abad.

     


    Namun demikian, Aep Saepudin mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial saja. Nilai-nilai luhur harus dihidupkan dalam keseharian. Bahasa Sunda harus tetap digunakan dengan rasa bangga, sedangkan prinsip silih asih, silih asah, silih asuh, semangat gotong royong, musyawarah, dan rasa hormat kepada sesama harus tetap menjadi pedoman hidup.

     

    “Membangun Garut Utara bukan hanya membangun wilayahnya, tetapi juga membangun manusianya. Dan membangun manusia berarti memperkuat pendidikan, akhlak, budi pekerti, serta jati diri kebudayaannya. Kita ingin Garut Utara maju secara ekonomi, kuat secara sosial, namun tetap kokoh memegang identitasnya,” ujarnya.

     

    Ia menambahkan bahwa masyarakat yang kehilangan budayanya akan kehilangan arah, sedangkan masyarakat yang memelihara warisan leluhur akan memiliki pijakan yang kuat menghadapi segala perubahan zaman.

     

    Semoga Wanoja Gatra dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya generasi perempuan Sunda yang cerdas, berakhlak mulia, dan menjadi penjaga warisan peradaban bagi anak cucu mendatang. Sebab melestarikan budaya bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan membawa nilai-nilai luhur masa silam untuk menerangi masa depan.

     

    “Menjaga budaya berarti menjaga martabat. Merawat tradisi berarti merawat peradaban. Dan memuliakan kedudukan perempuan berarti memuliakan masa depan bangsa. Sebagaimana ungkapan bijak: di balik kesuksesan seorang pemimpin, senantiasa ada peran perempuan yang setia; dan perhiasan terindah bagi peradaban adalah sosok perempuan yang berakhlak mulia,” pungkasnya.

     

    (M.A. Zakariyya, S.E.)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini